
Apa ini efek LDR dengan papinya selama tiga hari? Bernard memang baru saja pulang tadi pagi setelah tiga hari meeting di luar kota.
Mungkin karena mereka saling berjauhan jadi otak maminya sudah lebih mendingan, karena jika maminya sudah bersama papinya mereka berdua akan menjadi kombinasi pasangan somplak.
"Gibran melarang kamu karena dia nggak rela kamu disentuh laki-laki lain, coba kamu yang ada di posisi dia, emangnya kamu rela lihat tubuh Gibran disentuh perempuan lain?" tanya Key.
"Ya nggaklah mam." jawab Karren dengan cepat.
Tentu saja dia tidak terima, anda itu benar terjadi dengan senang hati Karren akan melukis wajah perempuan yang berani menyentuh suaminya dengan high heels-nya yang lancip. Biar tertusuk sekalian, lumayan kan bisa mendapat lesung pipi secara cuma-cuma.
"Kalau kamu aja nggak rela, jadi wajar dong kalau Gibran juga nggak rela tubuh istrinya disentuh laki-laki lain. Di sini bukan Gibran aja yang posesif, tapi kamu juga, bedanya dia lebih bisa menjaga dirinya dari perempuan yang bukan mahramnya, sedangkan kamu belum bisa."
Kata-kata super yang diberikan Key berhasil merasuk ke dalam otak Karren. Otak Karren sekarang sedang mencerna setiap perkataan maminya dengan baik.
Karren mulai sadar jika bukan Gibran yang egois di sini, melainkan dirinya sendiri. Karren terlalu memikirkan mimpinya sampai dia tidak peduli kalau Gibran bisa saja terluka andai dia benar-benar menerima tawaran itu.
"Banyak orang sukses di dunia, tapi nggak banyak orang yang sukses di dunia dan akhirat, kejar dua-duanya. Kamu boleh serakah jika menyangkut soal itu." Pesan Key yang sudah menjelma menjadi Keyla Teguh Putri Kalandra.
Curhat dengan Key cukup membuat pikiran Karren terbuka, ucapan-ucapan Key sangat membantunya karena sekarang jadi tahu langkah apa yang akan dia ambil.
Sepertinya Karren memang harus mengalah dari Gibran, dia akan belajar tidak egois mulai sekarang. Bukan hanya dirinya saja yang harus dia pikirkan, tapi juga Gibran.
Jika mengingat kejadian tadi pagi, Karren sadar jika Gibran sudah sangat sabar menghadapinya, laki-laki itu memang marah dan bersikap dingin, tapi dia sama sekali tidak membentak dan menyakiti Karren.
Gibran bahkan masih mau memberikan ciuman dan kata-kata romantis untuk Karren, membuat Karren jadi bingung Gibran sebenarnya niat marah padanya atau tidak.
"Kalau gitu aku pulang dulu deh mam." pamit Karren dengan memeluk maminya.
"Hati-hati! Kalau nyebrang lihat kanan kiri dulu jangan lupa pakai helm!" canda Key lalu tertawa setelah melihat Karren memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
Setelah Karren pulang, Key dengan cepat melangkah menuju depan cermin, dia menatap dirinya sendiri di cermin.
"Ini beneran gue bukan sih? Kok gue nggak yakin ya gue bisa ngomong sebijak itu?"
"Jadi, tadi yang ngomong siapa? Apa gue dirasukin arwahnya orang benar ya?"
Key terus bergumam sendiri sambil melihat pantulannya di cermin, dia tidak percaya jika tadi dia mengeluarkan kata-kata bijaknya kepada sang putri.
Key menatap wajahnya dengan teliti, siapa tahu ada sosok lain yang terlihat dia masih tidak yakin mulutnya bisa mengatakan kata-kata sebijak itu.
"Eh kayaknya bedak gue udah mulai luntur, warna lipstik gue juga kayaknya terlalu gelap deh." gumam Key salah fokus.
Dari dulu sampai sekarang, serius itu memang bukan gayanya Key. Dia memang sangat serasi dengan Bernard mereka berdua kalau disatukan benar-benar pasangan Kombo dahsyat.
***
Kaki Karren bergerak cepat menuruni tangga, tujuan utamanya adalah dapur, dia ingin mengambil es krim di dalam kulkas karena mulutnya sedang ingin makan yang manis-manis.
Suatu kejadian langka menurut Karren karena biasanya Gibran akan lebih memilih berperang dengan pekerjaannya atau sekedar membaca buku yang ketebalannya melebihi kamu satu triliun daripada menonton televisi.
Namun malam ini, lebih tepatnya setelah makan malam Gibran langsung menyalakan televisi dan memfokuskan dirinya pada tayangan film aksi di depannya, dia bahkan tidak menoleh saat mendengar suara langkah kaki Karren menuruni tangga.
Setelah ucapan romantisnya tadi pagi, Gibran kembali bersikap dingin. Sejak pulang dari kampus sampai sekarang dia hanya beberapa kali bicara itu pun karena Karren yang mengajaknya berbicara.
Meskipun begitu, mereka berdua tetap shalat berjamaah, ritual mencium tangan dan mencium kening setelah selesai shalat pun tidak ditinggalkan.
Karen belum berbicara pada Gibran tentang keputusannya untuk menolak tawaran dari V0GUE Magazine.
Dia masih ingin melihat Gibran ngambek karena itu terlihat menggemaskan menurut Karren. Karren akan bermain-main dengannya dulu sebelum memberitahu keputusan akhirnya.
__ADS_1
Karena melihat Gibran tidak peduli akan kedatangannya, Karren dengan sengaja menimbulkan suara yang cukup keras saat melangkah, dia ingin membuat Gibran terusik agar bereaksi.
Gibran mengendus pelan, tanpa Karen ketahui tentu dia mendengar suara langkah kaki yang ditimbulkan dari sandal berbulu dengan hiasan kepala panda yang sebesar kepala kucing lewat di belakangnya.
Namun, Gibran tidak berniat menoleh agar Karen sadar jika dia masih marah.
Karren membuka pintu kulkas, dia mengambil satu cup es krim rasa coklat dari tumpukan es krim yang tersedia di dalam kulkas.
Semenjak menikah dengan Karren, kulkas Gibran berubah hampir seratus delapan puluh derajat.
Jika dulu di kulkas hanya ada daging-daging, sayuran, dan ikan, kulkas itu sekarang menjadi lebih komplit.
Dari es krim, yogurt, sampai minuman kaleng dan minuman botol juga ada. Karren juga menambahkan junk food seperti nugget dan sosis di dalam kulkas untuk dimasak saat ART sedang cuti.
Dengan satu cup es krim kecil berada dalam genggamannya, Karren menghampiri Gibran berniat ikut bergabung menonton orang bertengkar.
Dia berjalan pelan di belakang Gibran lalu memberi kecupan singkat di pipi Gibran sampai membuat Gibran berjingkat kaget.
Gibran menoleh dengan mata melotot. "Kamu ini bikin kaget aja!" kesalnya.
Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat Gibran terkejut, Karren malah tertawa terbahak-bahak karena ekspresi yang Gibran berikan sangat lucu, andai di film kartun pasti mata Gibran sudah keluar dari tempatnya.
Gibran mengendus kesal lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar televisi, melihat dua bapak-bapak yang sedang bertengkar lebih menyenangkan daripada melihat Karren yang sedang menertawakannya.
Setelah puas tertawa Karren mengambil duduk di sebelah Gibran, memang dasarnya jahil, Karren sama sekali tidak memberi jarak antara tubuhnya dan tubuh Gibran.
Bahkan dia dengan sengaja menempel di tubuh Gibran sampai paham mereka berdempetan.
"Kenapa kamu malah menghimpitku seperti ini?" protes Gibran saat merasa dirinya terhimpit antara lengan sofa dan tubuh Karren.
__ADS_1
"Aku takut." Karren memasang wajah ketakutan sembari menatap Gibran dengan tatapan paling menggemaskannya.