DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 49 (OSPEK)


__ADS_3

Setelah selesai memakai make upnya, Karren segera menoleh menatap tajam ke arah Darren.


“Jujur sama gue, lo suka sama cewek barusan ya?” tanya Karren dengan penuh selidik.


“Kenapa lo nanya gitu?” bukannya menjawab pertanyaan Karren, Darren malah memberikan pertanyaan lain.


“Jawab dulu pertanyaan gue, lo ga biasanya santai ngatasin masalah kayak tadi.” Ucap Karren.


“Lo ga liat wajahnya mirip banget sama oma?” tanya Darren.


Karren mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Darren, Karren juga berusaha untuk mengingat wajah perempuan tadi.


“Masa sih? Gue ga terlalu perhatikan, emang kenapa kalo mirip oma?” tanya Karren.


“Lo tau kan kalo tipe idaman gue adalah cewek yang mirip oma, wajahnya keibuan banget pokoknya kayak oma lah.” Ucap Darren.


Karren yang tau maksud dari Darren langsung menoleh ke arah Darren dengan tatapan kesal.


“Gue tau akal-akalan lo, bilang aja lo emang suka sama tuh cewek, jangan bawa-bawa oma.” Ucap Karren.


“Gue serius Ren, kali ini gue beneran tertarik aja sama tuh cewek, lagian baru kali ini ada cewek yang mau di tabrak bukannya lemes gara-gara ketakutan malah bentak-bentak gue, apa lagi waktu liat wajah tampan gue ini.” Ucap Darren.


“Sebenernya lo aja yang terlalu pede, lo itu ga ada apa-apanya buat cewek secantik dia, jadi selama ini yang suka sama lo sampe ngejar-ngejar tuh jelek semua hahaha.” Ejek Karren yang langsung keluar dari mobil Darren.


“Dih jahat banget lo Ren! Woy Ren!” teriak Darren yang tidak di gubris oleh Karren.


Darren segera keluar dari mobil mengikuti Karren, dia masih ingin protes karena ucapan Karren tadi.


“Woy Ren..” panggil Darren.


“Diem lo Ren, katanya mau jadi ketua BEM cepet sana jangan berisik.” Ucap Karren yang membuat Darren terkejut karena baru ingat.


Darren segera berlari kencang ke lapangan belakang kampus karena jam 7 acara pembukaan akan di mulai sedangkan Karren hanya menggelengkan kepala dan berjalan santai setelah mengunci mobil Darren.

__ADS_1


Karena jam masih menunjukkan jam 7 kurang, Karren memutuskan untuk berjalan-jalan memutari kampus dengan tujuan ke kantin untuk memberi kopi karena pagi ini dia belum minum kopi atau jahe hangat sama sekali karena sepupunya.


Baru kali ini Karren berkeliling kampus sendirian, selama ini dia selalu di temani oleh Kevin dan Darren karena mereka berdua takut kalau ada laki-laki yang akan mendekati Karren dan melakukan hal yang melebihi batas.


Namun karena kampus ini masih sepi, jadi Karren bisa dengan leluasa berjalan-jalan tanpa ada yang mengganggunya.


Karren baru sadar kalau kampusnya ternyata lumayan besar juga, Karren tau kalau kampusnya ini termasuk kampus terbesar dan terbaik, hanya saja dia tidak tau kalau kampusnya benar-benar besar.


Saat tiba di kantin, Karren sedikit terkejut karena ada banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul di kantin menyerbu stand makanan dan minuman yang ada di sana.


“Waw, lupa gue kalo hari ini ada banyak anak baru.” Gumam Karren yang tersenyum melihat ratusan mahasiswa baru tersebut.


Karren tiba-tiba mengingat masa-masa awal kuliahnya dulu, Karren sudah menjadi bintang iklan sejak masih di bangku SMP, jadi saat menjadi mahasiswi baru, ada banyak sekali kakak tingkat yang menggodanya.


Untung saja dulu ada Darren yang dengan beraninya menantang kakak tingkat tanpa takut kalau mereka akan menghukumnya, kalau tidak mungkin Karren akan selalu di kejar-kejar.


Salah seorang mahasiswa baru ada yang tanpa sengaja melihat Karren, tentu saja semua orang tau siapa Karren Adibrata itu, selain bintang iklan, Karren memiliki latar belakang keluarga yang sangat hebat.


“Kak Karren! Wah lihat itu kak Karren!” teriak mahasiswa tersebut yang membuat mahasiswa lainnya menoleh ke arah Karren.


Namun terlambat, karena langkah para mahasiswa baru itu sangat cepat dan berhasil mencegat Karren yang berencana untuk kabur.


“Yaampun kak aku sangat mengidolakan mu.”


“Kak, aku masuk kampus ini karena mau dekat dengan kakak.”


“Wah kakak sangat cantik di lihat secara langsung.”


“Kakak, aku mau berfoto denganmu.”


“Kak aku mau minta tanda tanganmu.”


“Kak berkencan lah denganku.”

__ADS_1


“Menikahlah denganku kak.”


Semua itu adalah kata-kata yang di teriaki para mahasiswa baru entah wanita atau laki-laki yang membuat Karren kebingungan untuk keluar dari kerumunan mahasiswa tersebut.


Tiba-tiba saja seseorang membelah kerumunan layaknya membelah lautan lalu orang itu menarik Karren agar keluar dari kerumunan.


“Maaf semuanya, kalian ke sini bukan untuk menjadi fans, kalian di sini untuk kuliah, segera ke lapangan karena acara akan segera di mulai.” Ucap seorang laki-laki yang sangat di kenal oleh Karren.


Ya, laki-laki itu adalah Gibran, si doskill yang entah datang dari mana karena jam mengajarnya masih lama.


Dan benar saja, setelah Gibran mengatakan itu, semua mahasiswa dan mahasiswi segera berhamburan meninggalkan Karren dan Gibran walaupun dengan perasaan sedih.


“Mas? Eh, pak Gibran? Sedang apa bapak di sini jam segini?” tanya Karren saat semua orang sudah pergi.


“Kenapa kamu malah tanya saya? Saya yang harusnya bertanya, kenapa kamu ada di sini di jam segini?” tanya Gibran.


“Kenapa malah balik tanya? Aku di sini nganterin Darren, dia jadi ketua BEM.” Jelas Karren.


“Saya di sini jadi pembina ospek, saya juga terpaksa karena pembina ospek tidak bisa datang jadi saya yang harus menggantikannya.” Jelas Gibran.


Karren hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan Gibran.


“Terimakasih karena sudah membantu saya pak, kalo ga ada bapak mungkin saya bingung harus keluar dari kerumunan dengan cara apa.” Ucap Karren.


“Hem, saya juga tidak mau sampai mahasiswa baru itu terlambat mengikuti acara karena kamu.” Balas Gibran.


Kali ini Karren benar-benar kesal, bisa-bisanya setelah menolong langsung di lempar lagi, Gibran benar-benar jahat bagi Karren.


“Ya ga usah di sebut juga alesannya seenggaknya biar saya seneng dikit gitu di tolongin tadi.” Ketus Karren yang langsung berjalan cepat meninggalkan Gibran.


Gibran yang melihat Karren meninggalkannya hanya bisa diam mematung, dia tidak merasa memiliki kesalahan hingga membuat Karren kesal begitu.


Ya, begitulah Gibran, sama sekali tidak peka dengan keadaan membuat orang yang ada di sekitarnya selalu tersinggung dengan omongannya yang blak-blakan tanpa di saring lebih dulu.

__ADS_1


Karren memutuskan untuk berjalan ke lapangan belakang kampus, dia ingin melihat bagaimana proses ospek kali ini, dia yakin kalau saat ini tidak akan ada anak baru yang tiba-tiba berhamburan mengerumuninya.


Dan benar saja, mahasiswa baru itu sedang fokus mengikuti semua kegiatan, namun Karren sama sekali tidak menemukan Darren di sana padahal tadi Darren yang paling semangat untuk berangkat lebih pagi.


__ADS_2