DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 55 (LABIL)


__ADS_3

Kevin memang berjalan kaki ke rumah Karren, sedangkan motornya dia taruh di rumah Darren karena memang awalnya dia bertujuan untuk main ke rumah Darren dan minta makan di rumahnya.


Gibran berdehem untuk menyadarkan kedua orang itu, sesuai harapannya kedua orang itu menoleh ke arah Gibran dengan wajah terkejut.


Karren segera terbangun, tentu dia paling terkejut melihat Gibran berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang, belum lagi posisinya yang tidur di paha Kevin membuat Karren merasa sedang terciduk.


Namun, saat Karren mengingat kejadian kemarin di mana Gibran menolak untuk memberinya tumpangan dan mengatakan kalau Karren menyusahkan, raut terkejut Karren berubah datar.


Bodo amat apa yang akan di pikirkan Gibran tentangnya, Karren sudah tidakperduli lagi, hatinya masih terasa sakit.


Perasaan bodohnya pada Gibran membuatnya sakit hati setiap kali melihat Gibran bersama Sarah.


Karren beranjak dari sofa lalu berjalan menghampiri Gibran, sedangkan Kevin hanya mengangguk sekilas menyapa Gibran lalu kembali menonton tv karena dia tidak berani terlalu lama menatap mata Gibran yang sangat tajam membuat Kevin ngeri sendiri.


“Ada apa bapak ke rumah saya?” tanya Karren dengan formal sesuai dengan yang di perintahkan Gibran waktu itu.


Saya ingin memberikan oleh-oleh titipan mama saya buat tante Key.” Ucap Gibran sambil memberikan paper bag yang dia pegang kepada Karren.


Karren hanya mengangguk lalu mengambil paper bag yang di bawa Gibran.


“Terimakasih, nanti akan saya sampaikan kepada mami.” Balas Karren.


Gibran mengangguk, sebenarnya dia ingin menanyakan sesuatu tapi ragu, sedangkan Karren mengerutkan dahinya melihat Gibran yang hanya diam saja, laki-laki itu tidak mengatakan sesuatu ataupun pergi setelah memberikan titipan dari Yulia.


“Apa bapak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Karren yang di balas anggukan oleh Gibran.


“Kamu kenapa ga masuk tadi? Kamu tau kan konsekuensi yang akan kamu datapatkan jika tidak masuk tanpa keterangan di mata kuliah saya?” tanya Gibran.


“Saya sedang sakit.” Jawab Karren.


Gibran memperhatikan wajah Karren dengan lebih teliti, wajah perempuan itu memang terlihat sedikit pucat, hidungnya terlihat merah dan matanya juga tampak sayu.


Gibran dengan refleks menaruh punggung tangannya di kening Karren dan hal itu membuat Karren terkejut sampai mematung di tempatnya tanpa bisa melakukan apapun.


Beberapa hari tidak menggoda Gibran membuat Karren mudah terkejut dengan sentuhan Gibran yang tiba-tiba.


Kening Karren memang terasa panas, Gibran segera menarik tangannya dari kening Karren, dia semakin merasa bersalah kalau Karren sakit seperti ini karena dirinya.

__ADS_1


Andai saja Gibran tidak memikirkan pandangan para mahasiswa dan dosen terhadap Karren, pasti kemarin dia sudah memberikan tumpangan untuk Karren agar Karren bisa sampai rumah tanpa kehujanan.


“Untuk kali ini saya tidak akan mengambil nyawa kamu, tapi sebagai gantinya saya akan memberikan kamu tugas tambahan, saya permisi semoga kamu lekas sembuh.”


Gibran berlalu pergi setelah mengatakan hal itu, namun sebelum keluar Gibran berbalik menoleh ke arah Kevin dan memberikan Kevin tatapan tajam, sampai Kevin yang kebetulah melihat Gibran langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat.


Sedangkan Karren hanya diam sambil melihat punggung Gibran yang perlahan menghilang di balik pintu.


Karren bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sejak kapan Gibran menjadi labil? Bukankah Gibran yang membut peraturan itu sendiri, dan sekarang dia sendirilah yang melanggarnya meskipun itu adalah hal yang meringankan Karren.


Setelah Gibran benar-benar pergi, Kevin menoleh melihat Karren yang masih melihat ke arah pintu yang sudah kosong.


“Yak, yak, pasti luluh lagi di gituin doang..” sindir Kevin.


Mendengar Kevin mengatakan hal itu, Karren segera menatap tajam ke arah Kevin.


“Apaan sih lo!” ketus Karren sambil berjalan kembali duduk di sofa tempatnya tadi.


“Lo emang beneran suka sama si doskill?” tanya Kevin.


“Awalnya sih cuma iseng godain dia aja, eh tapi waktu dia nolak dan dingin sama gue apa lagi karena wanita lain, itu sakit banget hati gue.” Jelas Karren.


“Apaan sih lo jijik banget deh!” ucap Karren sambil mencubit pelan pinggang Kevin dan akhirnya mereka berdua tertawa bersama.


Di lain tempat, Gibran baru saja kembali dari rumah Karren, dia menjambak rambutnya frustasi karena masih memikirkan Karren yang dengan santainya tidur di paha Kevin.


Padahal posisinya tidak ada orang tua Karren di sana, pikiran Gibran terus saja berputar, dia memikirkan apa yang akan di lakukan keduanya setelah dia pergi.


Gibran sudah membayangkan kalau Karren dan Kevin akan bermesraan membuat hati Gibran semakin panas.


"Kenapa panas banget sih? Kayaknya mau hujan deh makanya panas gini hawanya." gumam Gibran sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan kaos yang dia pakai.


Gibran berjalan menuju dapur, dia meneguk air dingin yang ada di kulkasnya sampai habis setengahnya.


Namun entah kenapa tubuhnya masih terasa panas walaupun sudah minum air dingin sebanyak itu.


Gibran memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan mencoba memata-matai Karren dan Kevin dari balkon kamarnya.

__ADS_1


Gibran terus berjalan ke kanan dan ke kiri sambil sesekali melihat ke arah rumah Karren.


Gibran ingin melihat Kevin keluar dari rumah Karren dengan matanya sendiri.


"Kenapa belum keluar sih? Apa aja yang mereka lakukan di dalam sana?" gumam Gibran.


Gibran bahkan bersandar di besi balkonnya agar bisa melihat kapan Kevin keluar dari rumah Karren.


Sampai saat beberapa menit Gibran terus menatap ke arah rumah Karren, tiba-tiba saja Karren dan Kevin keluar dari rumah.


Gibran terus menatap ke arah mereka, lalu tiba-tiba saja Karren dan Kevin menoleh bersamaan ke arah balkon Gibran.


Melihat hal itu membuat Gibran gelagapan, dia segera berbalik dan berpura-pura meregangkan ototnya.


"Huaaaa cerah sekali hari ini..." teriak Gibran yang mungkin bisa terdengar dari rumah Karren.


Namun setelah Gibran mengatakan hal itu...


JEDARRR!!! Suara petir menyambar seolah-olah tidak setuju dengan ucapan Gibran barusan.


Mendengar suara petir itu membuat Gibran terkejut hingga melompat.


Karren dan Kevin pun terkejut mendengar petir itu, namun mereka malah tertawa karena melihat Gibran yang melompat karena terkejut.


Gibran yang melihat kalau dia di tertawakan segera masuk ke dalam sambil menahan rasa malunya.


"Hahaha, ternyata si doskill bisa kaget juga ya konyol banget.." ucap Kevin yang saat ini sedang tertawa terbahak-bahak.


Karren yang tidak terima segera memukul lengan Kevin dan menatapnya tajam.


"Dosen tuh jangan di ledek! Lagian dia gemesin tau pas lagi kayak gitu." ucap Karren.


"Terusin aja terus belain terus, puji terus.." ucap Kevin tak suka.


"Adududu yang cemburu hihihi." balas Karren.


"Udah sono masuk istirahat, gue ke rumah Darren lagi mau pulang udah mendung nih bye beb." pamit Kevin.

__ADS_1


"Thanks ya udah nemenin gue, hati-hati di jalan." balas Karren.


__ADS_2