DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 39 (GANDENG DONG!)


__ADS_3

Karren terus melirik jam tangannya untuk memastikan kalau saat ini adalah waktu di mana Gibran sudah menyelesaikan kelas terakhirnya, namun Karren yang sudah berada di parkiran masih melihat mobil Gibran yang terparkir rapih di tempatnya itu menandakan kalau sang pemilik mobil masih belum pulang.


Karren memutuskan untuk masuk ke dalam kampus dan berjalan menuju ruangan Gibran, Karren mengetuk pintu ruangan Gibran dengan sedikit keras.


Setelah mendengar sautan dari dalam barulah Karren membuka pintu itu dan memasukkan kepalanya ke dalam untuk melihat seseorang yang sudah dia rindukan.


Namun Karren langsung mengerutkan keningnya saat melihat Gibran sedang sibuk mengetik tanpa melihat ke arahnya.


Karren kembali mengetuk pintu ruangan Gibran dan akhirnya suara itu membuat Gibran mendongak melihat ke arah Karren.


Gibran ikut mengerutkan keningnya melihat Karren yang sedang berdiri di hadapannya, wanita itu seharusnya sudah pulang ke rumahnya, tapi kenapa dia malah ada di dalam ruangannya.


“Ada apa Karren?” Tanya Gibran saat melihat Karren hanya diam saja di depannya.


Karren terlihat seperti akan mengatakan sesuatu namun tertahan, tidak seperti biasanya yang selalu langsung mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.


“Ehem… mas..” ucap Karren dengan ragu.


“Ada apa Karren? Bicaralah.” Ucap Gibran yang saat ini sudah melepas tangannya dari keyboard laptopnya dan foKus menatap ke arah Karren.


“Sekarang sudah waktunya kamu pulang kan mas?” Tanya Karren.


“Iya ini adalah waktunya saya pulang, dan meskipun ini sudah waktunya saya pulang bukankah sebaiknya kamu tetap memanggil saya ‘pak’? Kita masih ada di kampus.” Ucap Gibran dengan tegas.


Karren kesal dengan ucapan Gibran, padahal tidak ada siapapun di dalam ruangan itu selain mereka berdua, tapi Gibran selalu kaku.


“Aku udah biasa panggil kamu kayak gitu, lagian di sini juga ga ada siapa-siapa selain kita berdua.” Ucap Karren.


Gibran hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menghela nafas panjang.


“Ya sudahlah terserah, terus kenapa kamu belum pulang dan malah menghampiri saya?” Tanya Gibran.


 Karren bingung harus mengatakan apa, dia takut kalau Gibran akan menolak permintaannya, Karren menggigit bibir bawahnya untuk meredakan kegugupannya.


“Jangan gigit bibir kamu kayak gitu Karren, kamu bisa terluka.” Tegas Gibran.

__ADS_1


Dengan segera Karren melepaskan bibirnya yang tadi dia gigit, lalu dia kembali berdiri tegap.


Sekali lagi Karren berdehem untuk mencairkan rasa takutnya, entah kenapa hari ini mulutnya sangat sopan sekali, padahal dia biasanya tidak pernah berpikir lebih dulu sebelum bicara.


“Apa kamu akan terus berdiri tanpa mengatakan apapun Karren?” Tanya Gibran.


“Emm, soal rencana makan siang kita yang gagal dua kali…” ucap Karren yang langsung menghentikan ucapannya dan beralih melihat ekspresi Gibran.


“Iya, lalu kenapa?” Tanya Gibran.


“Bisakah kita menggantinya sekarang?” Tanya Karren dengan ekspresi yang menggemaskan membuat jantung Gibran berdegup kencang.


Gibran tidak langsung menjawab pertanyaan dari Karren, dia lebih dulu menikmati ekspresi wajah Karren yang menggemaskan tidak seperti biasanya.


“Kalo ga bisa ga apa-apa kok mas, biar nanti aku ajak Kevin aja.” Balas Karren setelah cukup lama tidak mendapat jawaban dari Gibran.


“Saya bisa!” tegas Gibran dengan cepat.


Mendengar jawaban Gibran membuat Karren tidak percaya, kedua matanya berbinar dan tanpa sadar dia melangkah mendekati meja Gibran.


“Benarkah? Benar bisa?” Tanya Karren memastikan.


Sebenarnya Gibran ingin sekali tersenyum melihat ekspresi wajah bhagia Karren saat ini, hanya saja sebisa mungkin dia tetap memasang wajah datarnya untuk menyembunyikan segala macam ekspresinya.


“Emangnya kamu mau makan siang di mana?” Tanya Gibran sambil melirik ke arah Karren sekilas sambil membereskan kertas dan laptop yang ada di mejanya.


“Sebenernya aku mau ajak kamu ke mall mas, ada film yang mau aku tonton, ga apa-apa kan kalo makan siangnya setelah nonton?” Tanya Karren.


Gibran berpikir sejenak lalu akhirnya menganggukkan kepalanya saat mengingat kalau hari ini tidak ada pekerjaan yang mendesak.


“Kalo gitu ayo mas!” ajak Karren dengan bersemangat.


“Kita naik mobil masing-masing?” Tanya Gibran.


“Naik mobil mas Gibran aja ya, aku ga bawa mobil tadi pagi bareng Darren.” Balas Karren yang di susul anggukan oleh Gibran.

__ADS_1


Mereka berdua keluar dari ruangan Gibran dan berjalan berdampingan sampai ke parkiran membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah Karren dan Gibran.


Ada yang menatap iri ke arah Karren karena bisa jalan berdampingan dengan dosen paling tampan dan hot di kampus mereka.


Sedangkan para laki-laki menatap iri kepada Gibran karena bisa berdekatan dengan wanita tercantik dan terseksi di kampus mereka.


Namun mereka semua tidak memikirkan hal yang tidak-tidak tehadap mereka berdua karena Gibran pernah menjelaskan kalau dia dan Karren adalah tetangga.


Keduanya sudah berada di dalam mobil, seperti biasa Karren terus mengoceh sepanjang perjalanan.


Sesekali Karren juga terang-terangan mengagumi Gibran yang selalu bisa menerangkan materi dengan sangat jelas dan tidak ribet sehingga materi yang di jelaskan bisa langsung masuk ke otak Karren yang kadang tidak mampu untuk menerimanya.


Lalu tiba-tiba saja perhatian Karren beralih ke arah Gibran yang ada di sampingnya dan sedang fokus menyetir.


Untuk ke sekian kalinya Gibran membuat Karren terpana akan ketampanannya, sesekali Gibran tersenyum saat mendengar celotehan Karren dan itu adalah hal yang sangat langka bagi Karren.


“Sekarang aku baru tau kenapa kamu jarang senyum mas.” Ucap Karren tiba-tiba membuat Gibran menolehkan kepalanya sekilas.


“Kenapa?” Tanya Gibran penasaran.


“Itu karena kamu takut kalau kamu senyum bakal banyak wanita yang ngejar-ngejar kamu kan? Soalnya kamu kalo senyum ganteng banget mas.” Jelas Karren yang mengagumi ketampanan Gibran.


“Hem, mungkin saja begitu.” Ucap Gibran sambil menahan senyumnya mendengar ucapan Karren yang memujinya.


“Tapi kamu jangan mikir kalau aku sama kayak cewek-cewek itu mas, walaupun kamu suka marah-marah aku tetep suka kok.” Ucap Karren.


“Dan asal kamu tau aja mas, benci sama kamu itu adalah hal yang paling sulit buat aku loh.” Lanjutnya.


“Kalau begitu jangan membenci saya.” Balas Gibran sambil melirik Karren sekilas.


“Aku ga akan melakukan sesuatu yang sia-sia, aku ga akan benci kamu kamu kalau aku ga bisa, dan aku juga ga akan berusaha kalau kamu ga bisa menyukai aku.” Ucap Karren.


“Tapi sayangnya selama ini respon yang kamu berikan sesuai dengan harapan aku, jadi aku akan tetap berusaha untuk membuat kamu menyukaiku.” Lanjut Karren sambil mengedipkan sebelah matanya.


Gibran hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Karren, baru saja dia mengira kalau Karren sudah berubah menjadi kalem, ternyata perkiraannya salah.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobilnya, Gibran dan Karren langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju bioskop untuk membeli tiket.


“Mas, gandeng dong, nanti aku hilang loh..” rengek Karren membuat Gibran terkejut tidak percaya.


__ADS_2