
Karren yang masih duduk di bangku kolam beberapa kali menghela nafas panjang seperti ada beban hidup yang sedang dia hadapi.
“Kenapa kamu malah di sini?” tanya seseorang dari belakang.
Karren menoleh saat mendengar suara seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
“Jadi aku ga boleh di sini? Oke aku pulang.” Karren yang memang sedang sensi itu langsung emosi padahal pertanyaannya biasa saja.
Gibran merasa aneh dengan sikap Karren saat ini, entah kenapa dia sensi sekali saat ini. Gibran segera menahan pergelangan tangan Karren saat Karren hendak pergi.
“Kenapa kamu marah, padahal pertanyaan saya biasa saja.” Ucap Gibran.
Karren menoleh ke arah lain, dia tidak ingin melihat Gibran yang saat ini sedang memegang tangannya.
“Duduk dulu, saya akan menemani kamu di sini.” Ucap Gibran sambil menarik tangan Karren dengan lembut dan menuntunnya kembali duduk di bangku.
“Engga, aku mau pulang aja.” Ucap Karren yang berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Gibran.
“Duduk dulu Karren! Saya tidak akan mengijinkan kamu pergi sebelum acaranya selesai.” Tegas Gibran.
Karren menghembuskan nafas panjang, dia hanya bisa pasrah menuruti ucapan Gibran dan kembali duduk di tempatnya tadi.
Gibran melepaskan genggamannya setelah Karren kembali duduk dan Giran pun ikut duduk disamping Karren.
Keduanya sama-sama diam saat sudah duduk, mereka menatap air kolam dengan tatapan kosong, baru kali ini Karren merasa canggung saat berada di dekat Gibran.
“Kamu terlihat cantik memakai gaun itu.” Puji Gibran dengan tulus.
Karren menatap ke arah Gibran tidak percaya, bagaimana bisa Gibran mengatakan hal itu padahal dia sudah memiliki calon istri.
“Dasar buaya! Ternyata semua laki-laki sama aja!” gumam Karren yang terdengar samar oleh Gibran.
“Kamu tadi bilang apa Ren?” tanya Gibran.
“Hah? Aku ga bilang apa-apa kok, terimakasih atas pujiannya, bapak juga terlihat ganteng pake baju yang aku pilihkan.” Ucap Karren.
__ADS_1
Di saat marah pun dia tidak bisa berhenti memuji ketampanan Gibran, mulutnya yang asal ceplos itu tidak tau malu membalas pujian dari Gibran.
“Saya merasa tua kalau kamu panggil begitu.” Ucap Gibran sambil tersenyum.
“Bukankah bapak sendiri yang menyuruh saya memanggil seperti itu? Saya sebagai mahasiswa hanya bisa menuruti ucapan dosen saya.” Balas Karren.
Gibran hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lah yang membuat keadaan menjadi seperti ini tapi sebenarnya dia sendiri lah yang merasa tersiksa.
“Bapak ga masuk ke dalam lagi? Nanti bu Sarah nyariin.” Ucap Karren.
Gibran mengerutkan keningnya mendengar ucapan Karren, dia tidak mengerti maksud dari ucapannya yang mengatakan kalau Sarah mencarinya.
“Kenapa Sarah harus nyariin saya?” tanya Gibran.
“Karena bu Sarah adalah calon istri bapak.” Jawab Karren.
Karren sama sekali tidak berani menatap Gibran yang saat ini sedang menatapnya dengan intens.
“Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Saya dan Sarah hanya sebatas teman saja.” Ucap Gibran.
“Karena memang kalian akhir-akhir ini dekat, banyak juga kok yang mengatakan kalau kalian serasi, dan ada yang bilang kalau hari ini bapak akan mengenalkan calon istri bapak.” Jelas Karren.
“Kenapa malah ketawa? Aku lagi serius loh pak.” Ucap Karren kesal.
“Hahaha, sorry sorry, lagian kamu ini ada-ada aja deh, saya bahkan belum menentukan siapa calon istri saya Karren.” Ucap Gibran yang berusaha untuk menghentikan tawanya.
“Maksudnya?” tanya Karren yang tidak paham.
“Ya, saya belum memiliki calon suami, saya masih dalam tahap pencarian calon istri.” Balas Gibran.
“Jadi bu Sarah bukan calon istri pak Gibran?” tanya Karren.
“Tentu saja bukan, bukankah saya bilang kalau saya dan Sarah hanya berteman saja.” Jelas Gibran.
Gibran memang sudah memiliki wanita yang akan dia jadikan calon istrinya, hanya saja Gibran belum berhasil menjadikan wanita itu sebagai miliknya.
__ADS_1
“Tapi ibu-ibu komplek udah heboh banget bilang kalo pak Gibran akan mengenalkan calon istrinya hari ini.” Ucap Karren.
“Kalau memang benar saya akan mengenalkan calon istri saya, maka sejak tadi hal itu sudah di umumkan karena mama saya juga sangat bersemangat jika saya sudah memiliki calon istri, pasti mama yang paling heboh tadi.” Jelas Gibran.
Mendengar ucapan Gibran membuat Karren menganggukkan kepala, memang benar apa yang di katakan Gibran, Yulia memang tidak mengatakan apapun tadi saat acara di mulai, jika memang mau mengenalkan calon menantunya bukankah tadi Yulia akan langsung mengumumkannya?
“Lagian kamu bisa-bisanya percaya sama omongan ibu-ibu komplek.” Ucap Gibran.
“Aku tidak akan percaya jika bukan mamiku yang mengatakannya padaku.” Balas Karren.
“Mereka bahkan pernah mengatakan kalau aku ini duda saat pertama kali pindah.” Ucap Gibran yang membuat Karren tercengang.
Karren tidak percaya kalau ibu-ibu komplek akan mengira kalau Gibrn seorang duda, Karren mengumpat di dalam hatinya, karena para tetangganya yang suka bergosip itu dia jadi harus meratapi sesuatu yang tidak terjadi, benar-benar sangat menyebalkan.
Karren juga merasa malu kepada Gibran karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak, dia ingin beranjak dari tempat duduknya namun lagi-lagi Gibran sudah menggenggal pergelangan tangan Karren.
“Kamu mau kabur lagi?” tanya Gibran.
“Hah? kabur? Engga kok aku cuma mau ke Darren aja.” Balas Karren berbohong.
“Jadi dari tadi kamu berwajah kesal karena mengira saya akan mengenalkan calon istri saya?” tanya Gibran mencoba untuk menggoda Karren.
“Bukan! Aku dari tadi kesal karena Darren ga mau aku ajak pulang, bukan karena pengenalan calon istri bapak.” Ucap Karren yang langsung melepaskan tangannya dari genggaman Gibran dan segera kebur dari sana menyusul Darren.
Karren benar-benar malu, dia bahkan hampir menangis karena terpengaruh dengan gosip-gosip yang beredar dari para tetangga.
Karren melihat ke arah orang tuanya namun mereka sedang asik mengobrol dengan para tetangga yang lain, akhirnya Karren kembali menghampiri Darren yang baru selesai memasukkan kue yang baru dia ambil.
“Ren, ayo pulang.” Ajak Karren.
“Ah lo ganggu aja dari tadi Ren, lo duluan aja sono balik, gue masih mau makan nanti gue balik sama mami papi aja.” Balas Darren.
Karren kesal, dia hanya bisa diam sambil memanyunkan bibirnya. Karren yang berdiri di sebelah Darren bisa melihat ke arah Sarah yang sedang serius dengan ponsel yang dia pegang.
Karren heran, karena tumben sekali Sarah tidak menempel pada Gibran, terutama saat Gibran mau menemuinya pasti Sarah akah heboh, tapi kenapa saat ini dia bersikap biasa saja?
__ADS_1
Padahal Karren tidak tau saja kalau Yulia sudah membukakan pintu untuknya dan Gibran mengobrol dan akhirnya kesalah pahaman mereka bisa terselesaikan.
Mungkin kalau bukan karena Yulia yang menahan Sarah, Gibran tidak akan bisa mengobrol dengan Karren, bisa jadi Karren semakin salah paham karena Sarah terus saja mengikuti Gibran.