DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 78 (NIKAH MUDA)


__ADS_3

Karren menatap ke arah Gibran dengan kesal, laki-laki itu bukannya panik malah duduk-duduk santai di kursinya dan memakan camilan yang ada di mejanya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersama sama sekali,padahal ini semua karena dia.


Andai saja tadi Gibran tidak membawanya ke ruangannya,mungkin kejadian ini tidak akan terjadi, tidak akan ada kesalahpahaman dan tidak ada pernikahan.


“Kenapa kamu melihat saya seperti itu?” tanya Gibran saat melihat Karren menatapnya dengan tajam.


“Ini semua gara-gara kamu tau, aku kesel sama kamu! Bisa-bisanya kamu santai di saat keadaan lagi kayak gini!” ketus Karren.


“Terus kamu maunya saya bagaimana?” tanya Gibran.


“Ya berusaha buat memperbaiki keadaan dong!” balas Karren yang kesal dengan jawaban santai Gibran.


Bagaimana caranya? Mama saya sudah pergi.” Balas Gibran sambil memasukkan camilan ke mulutnya membuat Karren semakin kesal di buatnya.


Tanpa Karren sadari, Gibran tersenyum tipis melihat wajah Karren yang terlihat panik, bagi Gibran itu sangat menghibur sekaligus balasan untuk Karren yang pagi-pagi sudah menguji kesabarannya.


Karren menundukkan kepalanya, dia mengacak rambutnya frustasi, di saat keadaan seperti ini Karren sangat membenci sikap tenang Gibran, padahal biasanya laki-laki itu cepat tanggap dalam menyelesikan masalah.


“Kalau kamu tadi ga bawa aku ke sini pasti kejadian ini ga akan terjadi, pokoknya semuanya salah kamu!” tegas Karren.


“Kamu menyalahkan saya? Kamu sendiri yang salah karena memakai baju yang seperti itu.” Balas Gibran tidak mau di salahkan.


Karren rasanya ingin berteriak saat ini, dia kesal karena berdebat dengan Gibran adalah sesuatu yang akan membuatnya semakin pusing saja.


“Sudahlah tidak udah di pikirkan, bukankah tujuan kita memang mau menikah?” ucap Gibran yang langsung menapat lirikan tajam oleh Karren.


“Kata siapa? Aku aja belum terima kamu kok.” Balas Karren.


“Memangnya kamu berniat untuk menolak saya?” tanya Gibran.


“Iya, kamu itu over-possesive, aku rasa kita ga akan cocok satu sama lain.” Ucap Karren.


Mendengar hal itu membuat Gibran yang tadinya santai seketika geram kembali, dia beranjak dari tempat duduknya dan maju selangkah demi selangkah mendekati Karren.


Melihat hal itu membuat Karren kembali was-was, dia berjalan mundur selangkah demi selangkah mengikuti langkah Gibran yang semakin mendekat.


Sampai akhirnya, tanpa Karren duga ternyata Gibran sudah menggenggam tangannya dengan lembut.


“Maafkan saya, saya hanya tidak suka kalau kamu memperlihatkan tubuh kamu pada orang lain.”

__ADS_1


“Seperti yang saya bilang, saya ingin hanya saya yang melihat tubuh kamu, itu pun setelah kita menikah.”


Gibran mengucapkan hal-hal yang membuat Karren kembali meleleh, tatapan mata Gibran yang lembut membuat Karren bungkam. Karren memang selalu lemah jikamenyangkut apa pun yang berhubungan dengan Gibran.


Kemarahannya langsung hilang begitu saja, Karren mengangguk, tangannya terulur menyentuh pipi Gibran dan mengelusnya dengan lembut.


Saat Karren mengelus pipi Gibran, Karren tau betul tubuh Gibran menegang dan bisa Karren curiga, jangan-jangan selama ini Gibran belum pernah berpacaran sebelumnya.


“Baiklah aku maafin kamu.” Ucap Karren sambil tersenyum manis.


Gibran ikut tersenyum sambil menurunkan tangan Karren yang sedang berada di pipinya, rasanya merinding saat mendapatkan sentuhan dari wanita itu.


Karren tidak merasa tersinggung atau sakit hati melihat Gibran menurunkan tangannya, karena dia tau betul laki-laki seperti apa Gibran itu.


“Mas..” panggil Karren setelah Gibran kembali duduk di sofa.


“Apa?”


“Jelasin ke mama kamu dong kalo kejadian tadi hanya salah paham aja, kalo dia beneran bilang ke orang tua aku gimana?” tanya Karren dengan wajah memelas.


“Tidak apa-apa, saya secepatnya akan datang ke rumah kamu bersama orang tua saya.” Ucap Gibran yang membuat Karren melotot dan menganga tidak percaya.


“Aku ga mau nikah muda mas, aku masih belum wisuda.” Ucap Karren.


“Saya hanya tidak ingin menambah dosa jika kita terus berdekatan tanpa adanya ikatan yang sah menurut agama dan negara, saya ingin mengajak kamu mencari pahala bersama.” Lanjutnya.


Wajah Gibran yang bersungguh-sungguh membuat Karren tidak bisa berkata-kata lagi, Karren menggigit bibir bawahnya sambil memikirkan banyak hal.


“Kita bisa menunda punya anak sampai kamu wisuda kalau mau.” Ucap Gibran.


Mendengar hal itu membuat Karren malu dan menutup wajahnya yang mungkin saat ini sudah memerah, belum apa-apa Gibran sudah membicarakan masalah anak.


“Kamu kenapa Karren?” tanya Gibran yang tidak mengerti dengan ekspresi wajah Karren.


“Aku malu,nikah aja belum udah ngomongin anak.” Jawab Karren setelah menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya.


Gibran tertawa melihat Karren yang malu-malu seperti itu.


“Ternyata kamu bisa malu juga ya, seingatku kamu selalu membuat orang lain malu.” Ucap Gibran.

__ADS_1


“Ngeselin dasar dosen killer!” ketus Karren.


“Udah sana masuk kelas!” perintah Gibran setelah berhasil menghentikan tawanya.


Karren mengangguk, dia mendekati Gibran dan tiba-tiba saja mencium punggung tangan Gibran membuat Gibran terkejut dengan perlakuan Karren.


Sedangkan Karren yang melihat ekspresi wajah Gibran langsung tertawa membuat Gibran mengerutkan keningnya.


“Anggap aja itu simulasi sebelum kita menikah, kamu kan calon imam aku.” Ucap Karren menggoda Gibran sambil mengedipkan sebelah matanya.


Gibran tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Karren yang bermacam-macam.


Karren berjalan ke arah pintu, namun sebelum dia membuka pintu, Karren kembali berbalik menoleh ke arah Gibran.


“Mas, kalo nanti papi sama mami ngusir aku dari rumah, aku tidur di rumah kamu ya.” Ucap Karren.


“Boleh, asal kamu mau di bawa ke KUA dulu.” Balas Gibran yang membuat Karren kesal dan langsung keluar dari ruangan Gibran begitu saja.


***


Sarah yang penasaran akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruangan Gibran, sudah beberapa hari yang lalu saat Sarah ke ruangan Gibran namun tidak di sambut dengan baik oleh Gibran.


Setelah kejadian itu Sarah dan Gibran jarang berpapasan, lebih tepatnya Gibran yang menjauhinya.


Saat kakinya sudah mendekati ruangan Gibran, dia melihat dengan sangat jelas Karren keluar dari ruangan Gibran dengan senyum yang lebar, dia juga terlihat merapihkan kancing bajunya membuat Sarah berpikir yang tidak-tidak.


“Kenapa Karren keluar dari ruangan Gibran sambil merapihkan kancing baju gitu? Apa yang habis mereka lakukan di dalam sana?” gumam Sarah sambil mengepalkan kedua tangannya.


Karren berjalan dan memelankan langkahnya saat dia melihat Sarah sedang menatapnya dengan tajam.


Karren menegakkan tubuhnya dan mengangguk sekilas sebagai bentuk pemberian salamnya, namun hanya senyum tipis yang di tunjukkan Karren untuk Sarah.


Sarah tetap menatap Karren tajam sampai Karren melewatinya begitu saja.


“Dasar perempuan m*rahan!” gumam Sarah yang di tujukan kepada Karren.


Tatapannya benar-benar penuh dengan kebencian, dia juga kesal kepada Gibran yang tidak mendengar an


ucapannya untuk menjauhi Karren, padahal kemarin-kemarin Gibran menuruti ucapannya dan menjauhi Karren.

__ADS_1


***


Mohon maafkan author yang terlambat up kakak-kakak huhuhu...


__ADS_2