
"Kalo bapak mau anter Bu Sarah dulu juga ga apa-apa kok pak, lagian cuma bapak aja tetangga saya yang belum pulang." ucap Karren.
Sarah tidak suka dengan ucapan Karren yang memaksa Gibran untuk mengantarnya pulang.
"Kamu ga tau malu banget ya, minta tumpangan sampe maksa kayak gitu!" ucap Sarah dengan wajah merendahkan.
"Sarah stop!" tegas Gibran menatap tajam ke arah Sarah.
"Karren, bukankah saya sudah bilang kalau jadi perempuan harus mandiri, pakai kendaraan sendiri agar tidak menyusahkan orang lain!" ucap Gibran dengan nada datar sambil menatap wajah Karren yang saat ini sudah tidak bisa di tebak bagaimana ekspresinya.
Mendengar ucapan Gibran membuat Karren semakin sakit hati, dia tidak percaya kalau Gibran tega mengatakan hal itu kepadanya.
Karren menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang di ucapkan Gibran.
"Baik kalau begitu saya permisi." ucap Karren yang langsung pergi meninggalkan Gibran dan Sarah.
Karren kembali ke kelas dengan perasaan sedih dan kesal, Karren sedih karena ini adalah penolakan Gibran yang ke tiga kalinya, sedangkan dia kesal karena Sarah sudah merendahkannya.
"Menyebalkan! Ambil aja cowok kayak gitu, kalian emang cocok sama-sama menyebalkan!" gumam Karren di sepanjang koridor.
"Pingin rasanya gue buldoser rumahnya biar dia ga jadi tetangga gue lagi!" gumam Karren lagi yang saat ini sudah memasuki kelas.
Kevin mendengar omelan Karren sejak tadi, namun dia hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada gamenya.
"Kevin ayo pulang!" ucap Karren dengan nada kesal.
Namun Karren semakin kesal karena Kevin tidak menggubrisnya dan tangannya masih fokus pada ponselnya.
"Sabar beb bentar lagi selesai ini." balas Kevin.
Karren segera menarik narik tangan Kevin hingga mengganggu permainannya.
Lalu Kevin menggenggam tangan Karren dengan lembut agar Karren tidak menarik tangannya lagi.
Entah kenapa laki-laki yang mendekati Karren tidak ada yang benar, atau memang dia belum di pertemukan dengan jodohnya yang sebenarnya?
__ADS_1
Karren memanyunkan bibirnya namun dia tetap menurut dan kembali duduk di tempatnya dengan tangan yang masih di genggam oleh Kevin dan menunggunya menyelesaikan gamenya dengan satu tangan.
Setelah selesai, Kevin menaruh ponselnya ke saku celananya dan tersenyum ke arah Karren.
Tangannya masih setia menggenggam tangan Karren dan merek berjalan di koridor.
Walau status mereka berdua adalah mantan, tapi semua orang yang kenal mereka tidak akan terkejut dengan keduanya yang seringkali bersikap mesra karena memang begitulah mereka.
Kevin selalu me-ratukan Karren membuat para wanita iri kepadanya, sedangkan para pria iri kepada Kevin yang bisa leluasa memegang tangan Karren dan juga merangkulnya.
Karena sepupu kampretnya itu Karren terpaksa harus menembus hujan bersama Karren.
Sedangkan Kevin yang awalnya senang dan menghayal kalau mereka akan ada adegan romantis layaknya di drama harus menahan pahitnya realita. Karena di sepanjang jalan Kevin harus tahan mendengar ocehan Karren.
"Lo sih pake naik motor segala! Gue jadi kehujanan kan! Besok besok bawa mobil aja napa sih, udah tau musim hujan juga!" ketus Karren.
"Mana motor lo ga ada pelindung belakangnya lagi, baju gue kotor semua nih!" oceh Karren.
"Yaelah, dia kan pake jaket gue yang kotor jaket gue juga kan akhirnya." gumam Kevin yang tidak bisa di dengar oleh Karren karena suara derasnya hujan.
"Dah sampe tuan putri, silahkan turun." ucap Kevin yang sudah menggigil karena dia harus melakukan motornya dengan cepat agar Karren tidak terlalu lama terkena hujan.
"Inget besok besok bawa mobil aja!" tegas Karren.
"Siap tuan putri, sudah cepat masuk dan langsung keramas biar ga pusing." ucap Kevin.
"Lo ga mau masuk dulu?" tanya Karren yang sebenarnya kasihan dengan Kevin yang sudah kedinginan.
"Engga deh, nyokap bokap lo galak takut gue beb, nanti aja kalo udah mau ngelamar lo gue mampir." ucap Kevin yang di balas gelengan kepala oleh Karren.
"Udah gue pamit, bye beb." ucap Kevin sambil melambaikan tangannya.
"Thankyou!" teriak Karren yang segera masuk ke dalam rumah.
Karren segera masuk ke dalam rumah sambil memeluk dirinya sendiri.
__ADS_1
Di dalam rumah Key yang sedang bersantai di ruang tamu terkejut saat melihat putrinya pulang dengan keadaan basah kuyup.
"Yaampun Karren! Kamu hujan-hujanan? Kenapa? Mana Darren?" tanya Key yang langsung berlari ke kamar mandi untuk mengambil handuk bersih.
Key yang tau kalau putri semata wayangnya itu rentan terhadap hujan langsung mengeringkan rambutnya dan membuka jaket yang di pakai Karren.
"Aku pulang sama Kevin mam tapi kebetulan dia bawa motor hari ini jadi kehujanan, Darren udah pulang duluan dia ga mau jemput Karren soalnya mau tidur." jelas Karren mengadu kepada maminya.
"Apa!? Darren tidak mau menjemput kamu? Nanti mami marahi dia!" ucap Key yang kesal.
Key biasa marahi Darren seperti anaknya sendiri dan orang tua Darren pun tidak pernah tersinggung atau tidak terima jika Key memarahi putranya karena mereka tau Key memarahi Darren pasti ada sebabnya.
Ken dan Andini juga sangat menyayangi Karren seperti putri mereka, itulah kenapa kalau Darren melakukan kesalahan kepada Karren mereka akan memarahi Darren tanpa memandang kalau Darren adalah putra semata wayangnya.
"Udah kamu langsung keramas pakai air hangat ya sayang, nanti mami buatkan jahe hangat untukmu." ucap Key yang di balas anggukan oleh Karren.
Karren segera menaiki tangga menuju kamarnya, dia segera menuruti ucapan maminya untuk segera keramas dengan air hangat, setelahnya Karren juga memakai pakaian tebal dan panjang.
Setelah selesai memakai baju, Karren segera masuk ke dalam selimut tebalnya dan melilit tubuhnya yang sudah menggigil.
Tidak lama kemudian Key datang membawakan segelas jahe hangat untuk putrinya.
"Nih minum dulu." ucap Key sambil menyodorkan gelas yang dia pegang.
"Hattcchhiii!" saat mau mengambil gelas yang ada di tangan maminya tiba-tiba saja Karren bersin.
"Yaampun belum sejam loh kamu udah bersin! Darren benar-benar!" ucap Key geram.
"Badan Karren kayaknya panas semua deh mam huhuhu Karren ga suka sakit." ucap Karren yang hampir menangis.
"Iya mami juga ga mau kamu sakit sayang, bentar mami ambil obat dulu." ucap Key.
Karren hanya mengangguk lemas lalu kembali merebahkan tubuhnya, dia paling tidak suka kalau sakit karen rasanya benar-benar tidak enak dan Karren bisa bolak-balik kamar mandi karena muntah.
Karren terus mengutuk Darren yang tidak mau menjemputnya dan juga Gibran yang tidak mau memberinya tumpangan.
__ADS_1
Harusnya tadi Gibran luluh dengan keputus asaan yang di tunjukkan di wajahnya, tapi Gibran dengan dingin menolak dirinya tepat di hadapan Sarah dan hal itu membuat Sarah semakin besar kepala.