
Gibran segera bangun dari tempat tidurnya, dia langsung memakai celananya yang tergeletak begitu saja di lantai. Kelakuan Gibran yang berani itu membuat Karren mengalihkan pandangannya.
“Bisa-bisanya dia pakai celana di depan gue! Santai banget lagi.” Gumam Karren pelan.
“Kamu kenapa masih di atas tempat tidur Karren? Ayo bangun!” tegas Gibran.
Suara Gibran membuat Karren menoleh ke arahnya, terlihat Gibran sudah memakai celananya. Tapi sayangnya perut kotak-kotaknya belum dia tutupi membuat mata Karren tidak bisa lepas dari sana.
“Kenapa kamu malah melihat saya seperti itu?” tanya Gibran dengan dahi yang berkerut.
“Ah, engga...” balas Karren yang akhirnya beranjak dari tempat tidurnya.
Dia meringis saat merasakan sesuatu di bawah sana masih terasa perih, Karren meremas selimutnya membuat Gibran heran.
“Kamu kenapa Karren?” tanya Gibran sambil menghampiri Karren dengan panik.
“Masih sakit mas.” Jawab Karren sambil matanya mengarah ke bawah.
“Oh, saya akan membantu kamu.” Balas Gibran yang mengerti apa maksud dari ucapan Karren.
“Hah? maksudnya...”
Belum sempat Karren mengterti maksud dari Gibran, Gibran sudah lebih dulu menggendong Karren yang masih terbalut selimut.
Karren hanya bisa pasrah dengan apa yang Gibran lakukan dan dia mengalungkan tangannya di leher Gibran.
Gibran segera menurunkan Karren di dalam kamar mandi, namun bukannya keluar Gibran malah membantu Karren melepaskan selimutnya lalu membuangnya ke sembarang tempat di depan kamar mandi.
“Waktunya sudah mepet jadi kta mandi bersama saja.” Ucap Gibran yang membuat Karren melotot.
“APA??” teriak Karren yang membuat Gibran terkejut.
“Yaampun Karren jangan teriak begitu.” Ucap Gibran yang masih menutup telinganya.
“Kamu kok nikah jadi mesvm mas? Kemarin aja sok jual mahal.” Ucap Karren tidak percaya.
“Kemarin kan kita belum nikah, sekarang sudah nikah ga apa-apa dong, lagian waktunya sudah mepet, ayo cepat mandi!” tegas Gibran.
__ADS_1
Akhirnya dengan penuh malu-malu Karren mengiyakan permintaan Gibran untuk mandi bersamanya dan mereka berdua pun akhirnya mandi bersama.
***
Gibran memimpin doa setelah dia dan Karren selesai shalat subuh. Sebagai makmum, Karren hanya mengamini doa yang Gibran panjatkan saya denganmata yang hampur terpejam kembali.
Setelahnya, Karren mencium punggung tangan Gibran dan pipinya memerah saat Gibran mencium keningnya.
“Jadi begini rasanya punya suami.” Batin Karren di dalam hatinya.
“Udah boleh tidur kan?” tanya Karren dengan tatapan memohon.
Gibran tersenyum geli lalu mengangguk tanda mengiyakan, dengan cepat karren langsung melepas mukenannya dan melempar dirinya sendiri ke atas tempat tidur.
Kasur seolah menjadi tempat ternyaman menurut Karren untuk saat ini. Sedangkan Gibran hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya itu, dia melepas bajunya lalu menyusul Karren yang mungkin sudah berada di alam mimpinya.
Benar saja, Karren benar-benar sudah terlelap di lihat dari dengkuran halusnya. Gibran langsung memeluk tubuh Karren dan mengeratkan pelukannya sambil mencium kepala Karren dengan lembut.
Karren yang ternyata belum tertidur pulas pun bisa merasakan kecupan di keningnya membuatnya diam-diam tersenyum di balik dada bidang Gibran.
Untung saja hari ini mereka sudah ijin beberapa hari jadi mereka bisa tidur sampai siang dan besok Gibran akan membawa Karren untuk pindah ke rumahnya.
***
Esok harinya...
Karren menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu Gibran, sedangkan Gibran membereskan koper-koper yang mereka bawa saat menginap di hotel.
Dia membereskannya di bantu oleh asisten rumah tangga tanpa berniat meminta bantuan Karren yang sedang kelelahan.
Mereka baru saja sampai di rumah, sedangkan para keluarga sudah pulang dari tadi pagi sedangkan Karren dan Gibran baru check out saat sore hari karena keduanya tertidur sampai siang.
“Kamu mau di buatin minum apa?” tanya Gibran yang berniat untuk membuat minum untuknya dan juga Karren karena asisten rumah tangga mereka masih sibuk membawa koper ke kamar mereka.
Karren yang sedang melihat ponsel pun langsung mengalihkan pandangannya, dia merasa malu karena seharusnya dia lah yang bertanya seperti itu, bukan malah Gibran. Karren jadi merasa seperti istri-istri di sinetron yang suka memerintah suaminya.
“Biar aku aja yang buatin minum mas , kamu tunggu di sini aja.” Ucap Karren yang langsung menaruh ponselnya dan beranjak dari sofa yang dia duduki tadi.
__ADS_1
Karren menarik tangan Gibran dan menyuruhnya duduk di sofa untuk beristirahat karena tadi dia sudah mengangkat koper.
“Kamu mau minum apa mas?” tanya Karren.
“Air putih aja, yang dingin ya.” Ucap Gibran.
Karren langsung mengangguk dan tangan kanannya terangkat di pelipisnya seperti orang yang sedang hormat.
“Siap bos!” seru Karren.
Karren segera berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman, sedangkan Gibran hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Karren.
Senyumnya mengembang, sepertinya hidupnya akan berubah menjadi menyenangkan setelah ini, biasanya Gibran hanya di rumah sendirian, sekarang sudah ada Karren yang selalu berada di dekatnya.
Mungkin setelah ini Gibran akan memberikan cuti kepada asisten rumah tangganya agar dia dan Karren bisa berduaan saja. Dia ingin merasakan mengurus rumah tangga sendiri dengan istrinya walaupun Gibran tau kalau dialah yang akan kerepotan sendiri nantinya karena Karren adalah tipe orang yang malas.
Karren hanya melakuka apa yang dia sukai saja, sedangkan bersih-bersih bukanlah sesuatu yang dia sukai. Karren hanya suka nongkrong tidak jelas dan rebahan sambil memainkan ponselnya selama berjam-jam.
Bahkan Karren masih bisa melakukan kedua hal itu di saat tugasnya menumpuk dan menanti untuk di kerjakan.
Setelah menunggu beberapa menit akhrinya Karren datang dengan dua gelas berisi air dingin. Gelas yang isinya terlihat sangat segar dan tidak sabar untuk di minum.
“Ini mas.” Ucap Karren sambil memberikan gelas yang ada di tangan kanannya kepada Gibran.
“Terimakasih.” Ucap Gibrn sambil mengambil gelas yang di berikan Karren.
“Sama-sama.” Balas Karren sambil tersenyum manis.
Karren langsung duduk di sebelah Karren, mereka meneguk airnya sampai habis. Kesegaran air dingin itu terasa mengalir dari mulut ke kerongkongannya. Rasa dahaga yang sempat menyerang langsung hilang seketika setelah meminum air dingin itu.
“Sini gelasnya aku bawa ke belakang lagi.” Ucap Karren yang langsung mengambil gelas dari tangan Gibran lalu membawanya ke dapur untuk di cuci.
Karena tidak melihat ada piring ataupun gelas kotor di tempat pencucian piring, akhirnya Karren memutuskan untuk langsung mencuci gelas nya.
Sebenarnya Karren bisa melakukan semua pekerjaan rumah mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika baju, dan juga memasak, bahkan Karren bisa mencuci mobil jika di butuhkan.
Namun karena sudah ada asisten rumah tangga di rumah jadi dia tidak pernah melakukan itu semua. Rasa malasnya juga yang membuatnya enggan untuk melakukan pekerjaan itu dan menggantungkannya kepada asisten rumah tangga.
__ADS_1