
Hari-hari pun berlalu, Karren pun sudah pulang ke rumah bersama putri tercintanya yang membuat suasana rumah jadi semakin ramai.
Semua keluarga sangat bahagia dan semangat menyambut kehadiran Kirana di rumah mereka, bahkan Darren hampir setiap hari ke rumah Karren dan Gibran untuk bermain dengan Kirana yang masih belum mengerti apapun.
Darren sering membelikan Kirana mainan, seperti saat ini Darren membelikan kolam renang tiup yang cukup besar.
“Apa yang kamu bawa Darren?” tanya Gibran yang membukakan pintu untuk sepupu iparnya itu.
“Aku bawa kolam renang yang bisa di pompa itu pak, eh kak.” Balas Darren.
Sampai saat ini Darren pun seringkali salah sebut Gibran dengan sebutan pak karena terbiasa dengan sosok dosen killer yang ada di diri Gibran saat di kampus.
“Kolamnya buat siapa?” tanya Gibran.
“Ya buat Kirana lah kak, masa buat Karren sama kak Gibran.” Ucap Darren kesal.
“Kirana masih berusia dua minggu Darren, tidak mungkin dia bisa memakai kolam itu.” Ucap Karren yang tiba-tiba datang karena mendengar suara sepupunya.
__ADS_1
“Ya kan bisa di simpen Ren, ga basi juga kan beli kayak gini.” Balas Darren.
“Yaampun Darren, ini emang ga basi tapi bisa aja di gigit tikus.” Ucap Karren.
“Di rumah lo ada tikus? Jorok sih lo.” Ketus Darren.
Karren sudah tidak bisa berkata-kata lagi, tidak masalah Darren bahagia menyambut keponakan pertamanya, tapi bukan berarti dia harus membeli semua barang sampai tempat penyimpanan di rumah mereka penuh dengan barang Kirana yang masih belum bisa di pakai.
“Darren, kemarin kamu sudah membeli biskuit untuk bayi yang biasa di makan untuk bayi yang mulai mpasi, kemarinnya lagi kamu membeli susu formula untuk bayi berusia satu tahun, kemarinnya kamu membeli sepatu yang ukurannya besar, lemari Kirana penuh sama barang-barang yang kamu beli tapi belum bisa di pakai Darren.” Jelas Karren.
“Udah jangan ribut, sini aku ambil terimakasih ya Ren, masuklah kamu pasti ingin menemui Kirana.” Ucap Gibran.
Gibran mendekati istrinya dan berbisik di telinga Karren.
“Jangan bicara begitu kepada Darren.” Bisik Gibranm.
“Tapi kamu tau sendiri kan mas, tempat penyimpanan kita sudah penuh.” Balas Karren.
__ADS_1
“Tidak masalah, setidaknya kita harus menghargai usahanya untuk membelikan semua itu untuk Kirana.” Ucap Gibran.
Karren akhirnya menganggukkan kepala menuruti ucapan suaminya, lalu dia segera pergi ke kamar putrinya dan melihat Darren sedang mengajak Kirana bicara, sedangkan Gibran pergi ke ruangan yang memang di gunakan untuk menyimpan barang-barang, dia ingin menyimpan kolam renang yang di belikan oleh Darren.
Karren bisa melihat dengan jelas kalau Darren sangat bahagia saat bercanda dengan Kirana, bahkan Darren terlihat sangat dewasa saat mengurus Kirana.
“Cepatlah menikah dan berhenti bergonta-ganti pacar.” Ucap Karren membuat Darren terkejut karena Karren datang tiba-tiba dari belakang.
“Lo bikin gue jantungan aja sih Ren, untung gue ga lagi gendong Kirana, kalo dia jatoh dari gendongan gue gimana?” ucap Darren.
“Gue serius Darren, jangan bahas yang lain deh.” Balas Karren.
Namun Darren sama sekali tidak menggubris ucapan sepupunya itu, dia kembali menoleh ke arah Kirana dan mengajak keponakannya itu bercanda kembali.
“Darren, lo masih mikirin Anindita?” tanya Karren membuat Darren yang sedang mengajak Kirana mengobrol itu terhenti seketika dan langsung menoloeh ke arah Karren.
“Plis lah Ren, dia udah bahagia sama kehidupannya.” Ucap Karren.
__ADS_1
“Gue ga bisa ngelupain semuanya Ren, gue ga bisa maafin diri gue sendiri walaupun Anindita sudah bahagia.” Ucap Darren.
Karren hanya bisa menghela nafas panjang, dia tidak bisa mengatakan apapun karena kisah cinta sepupunya yang bisa di bilang tragis itu.