
Mata Karren mulai terbuka perlahan saat sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya mulai terang, dia sengaja tidak menutup penuh gordennya agar ada celah untuk sinar matahari masuk ke dalam kamarnya seperti biasa.
Hari ini adalah hari minggu, Karren melihat jam dinding dengan mata yang menyipit, hari ini Karren bangun pagi seperti biasanya, padahal setiap hari minggu Karren pasti selalu bangun siang karena malamnya dia pergi ke bar sampai subuh, namun semalam dia tidak keluar karena Gibran selalu memantaunya.
Padahal semalam Karren ingin keluar bersama teman-temannya, Gibran melarangnya sampai dia berpura-pura beralasan ingin mengobrol dengan papi Karren, padahal yang sebenarnya dia ingin memastikan kalau Karren benar-benar tidak pergi ke mana-mana.
Karena tau kalau Karren tidak akan bisa keluar, Darren pun meninggalkannya tanpa menjemputnya lebih dulu. Tidak ada yang bisa di lakukan Karren selain berdiam diri bersemedi di dalam kamarnya.
Padahal Karren ingin gabung bersama papinya dan Gibran tapi papinya melarang Karren karena dia bilang kalau mereka sedang melakukan pembicaraan penting antara laki-laki, kalau mengingat hal itu Karren malah kembali kesal kepada papinya.
Karren bangun dari tidurnya, dia melihat ke arah meja kecil di samping tempat tidurnya, dan tersenyum saat melihat jahe hangat yang sudah tersedia di sana.
Maminya memang tidak pernah ketinggalan untuk menyiapkan jahe hangat untuk Karren, awalnya Karren adalah pecinta kopi dan setiap bangun tidur dia akan minum kopi hitam sampai suatu hari dia sakit lambung karena kopi yang setiap pagi dia minum dalam keadaan perut kosong.
Itulah kenapa semenjak kejadian itu Key selalu menyiapkan jahe hangat lebih dulu sebelum Karren sendiri yang turun tangan karena Karren pasti akan membuat kopi hitam.
Karren berjalan menuju balkon kamarnya sambil membawa jahe hangat yang di buatkan maminya untuk menghirup udara pagi hari yang sangat segar.
Karren meletakkan jahe hangatnya di atas meja kecil yang ada di balkon, lalu perhatiannya tertuju kepada seorang laki-laki yang sedang menyiram tanaman di balkon kamarnya.
“Rajin banget calon suami.” Gumam Karren sambil terkekeh geli karena sebutannya tadi untuk Gibran.
“Morning mas...” teriak Karren dengan berani membuat Gibran menoleh ke arah Karren.
Mata Gibran melotot saat melihat Karren yang laki-laki menyapanya dengan memakai baju jahanamnya, baju berbahan satin tipis di atas lutut dengan tali satu membuat tubuh Karren terlihat sangat seksi.
__ADS_1
“Yaampun Karren!” ucap Gibran yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
Padahal masih pagi, tapi mata Gibran sudah ternodai dengan hal yang tidak-tidak. Mungkin kalau mereka sudah menikah Gibran akan sangat senang melihat Karren memakai pakaian seperti itu, tapi saat ini sebisa mungkin Gibran ingin menjaga pandangannya karena Karren bahkan belum menjawab pernyataan cintanya.
Karren terkekeh melihat Gibran yang sudah masuk ke dalam kamar cepat-cepat, dia tau betul apa alasan Gibran sampai seperti itu, akhirnya Karren memilih untuk duduk di kursi balkonnya sambil menikmati jahe hangatnya.
Kepala Karren mendongak ke atas melihat awan yang sangat indah dan langit yang cerah.
Di sisi lain, Gibran tidak ingin keluar dari kamarnya, padahal dia belum selesai menyiram tanamannya tapi Karren sudah menghancurkan kegiatannya itu.
Padahal Karren tau kalau Gibran tidak suka kalau Karren memakai baju seperti itu, tapi Karren ternyata masih berani untuk menyapanya dengan memakai baju pendek seperti itu.
Ingin sekali rasanya Gibran kembali menyiram tanamannya, hanya saja dia takut kalau Karren masih ada di balkon akhirnya Gibran mencoba untuk mengintip sedikit untuk melihat apakah Karren sudah masuk atau belum.
Tapi bukannya masuk, Karren malah sedang duduk santai menikmati minumannya tanpa memperdulikan kalau ada orang yang sedang bersembunyi menantikan dia cepat masuk ke dalam kamarnya.
Gibran Mahardika :
Bisakah kamu masuk ke dalam sebentar? Saya hanya ingin menyiram tanaman sedikit lagi.
Karren yang mendengar ponselnya berdering segera mengambilnya dan membaca pesan yang berasal dari Giban.
Setelah membaca pesannya Karren hanya bisa memutar bola matanya jengah dan langsung membalas pesan dari Gibran.
Karren Adibrata :
__ADS_1
Ya kalo mau nyiram silahkan mas, aku kan ga ganggu kamu.
Gibran Mahardika :
Tidak, lebih baik kamu masuk ke dalam atau berganti baju dengan baju yang lebih layak, meskipun kamu tidak mengganggu secara langsung, tapi dengan adanya kamu di sana dengan pakaian itu membuat saya terganggu karena kamu itu seperti magnet yang selalu membuat saya menoleh.
Karren tertawa membaca pesan balasan dari Gibran, dia tidak menyangka kalau Gibran ternyata bisa menggombal walaupun gombalannya terlalu kaku.
Karren Adibrata :
Kamu lucu banget sih mas.
Gibran Mahardika :
Cepat masuk atau mau saya siram juga kamu dari sini.
Karren berdecak kesal sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamarnya membawa serta jahe hangat yang tadi dia bawa, setelah Karren masuk ke dalam kamarnya barulah Gibran kembali keluar ke balkon untuk melanjutkan kegiatan menyiramnya.
Namun tiba-tiba saja Karren yang ada di dalam kamar memiliki pikiran jail, dia tersenyum sinis lalu kembali membuka pintu balkon kamarnya dengan lebar.
“Mas!!” teriak Karren yang membuat Gibran refleks menoleh ke asal suara.
Gibran melotot melihat Karren yang masih memakai baju haramnya, lalu dengan cepat Gibran memalingkan wajahnya, sedangkan Karren malah tertawa puas saat melihat ekspresi Gibran sang dosen killernya.
Gibran berusaha mati-matian untuk menjaga kepalanya agar tidak menoleh ke arah Karren, dia segera menyelesaikan kegiatannya agar bisa langsung masuk kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam kamarnya Gibran masih sempat-sempatnya melirik ke arah Karren sebentar, dan ternyata Karren sedang mamperhatikannya dengan menopang dagunya, melihat Gibran yang menoleh kepadanya membuat Karren mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Gibran hanya menggelengkan kepalanya lalu dia segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu agar pemandangan Karren yang sedang menggodanya tidak terlihat lagi.