
Hari ini adalah hari minggu, di mana Gibran dan Karren sama-sama libur. Bahkan Karren sudah mengirim pesan tempat mereka akan makan siang bersama.
Namun sayang, makan siang yang awalnya mau mereka jalani hari ini terpaksa harus di batalkan kedua kalinya oleh Gibran, karena hari ini mamanya akan datang ke rumahnya dan dia harus menjemput mamanya dari stasiun kereta.
Gibran Mahardika:
Maaf sekali saya tidak bisa menepati makan siang bersama lagi, mama saya tiba-tiba telfon dan meminta saya untuk menjemputnya.
Gibran sengaja mengirim pesan kepada Karren sebelum waktu makan siang tiba, karena dia takut kalau Karren sudah bersiap untuk makan siang.
Sebenarnya Gibran merasa tidak enak karena sudah dua kali membatalkan rencana makan siang mereka, tapi bagaimana lagi, Gibran tidak mungkin membiarkan mamanya pulang sendirian.
Untung saja Karren mengerti dan memaklumi alasan Gibran membatalkan makan siangnya membuat Gibran sedikit lebih tenang.
...****************...
Gibran menghela nafas panjang saat melihat mamanya yang sudah datang sedang duduk di sofa kamarnya.
Padahal Gibran sengaja menghindari mamanya dengan mandi yang di lama-lamakan untuk menghindari mamanya.
Bukannya Gibran tidak suka jika mamanya ada di rumahnya, tapi ucapan mamanya yang selalu menyuruhnya segera menikah lah yang membuat Gibran malas.
"Kamu sengaja ya mandi di lamain gitu? Kamu lagi menghindari mama kan?" tanya Yulia.
"Engga kok ma, emang Gibran mandinya lama." balas Gibran.
"Kamu kenapa sih susah banget di suruh cari calon istri? Kamu itu ganteng, kamu juga mapan dan punya pekerjaan yang bagus, pasti banyak cewek-cewek yang mau sama kamu." ucap Yulia.
Gibran yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak menggubris ucapan mamanya, dia lebih memilih untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Gibran melihat ke arah kalender yang ada di kamarnya, dia mengingat tanggal di hari ini agar mengingatnya kalau bulan depan di tanggal yang sama dia akan menyibukkan dirinya agar mamanya tidak menceramahinya lagi.
Karena memang setelah Gibran pindah, Yulia baru sekarang pergi ke rumah Gibran, dan biasanya sebulan sekali Yulia akan mengunjungi putranya lagi.
__ADS_1
"Ma, milih cewek tuh ga asal comot kayak nyocol sambel, butuh seleksi yang ketat juga." ucap Gibran.
"Mama ga nyari yang gimana-gimana kok, yang penting seiman dan kalian sama-sama suka." ucap Yulia.
"Mama bukan mertua yang banyak menuntut kayak ibu mertua di sinetron sama di novel kok." sambungnya.
Gibran hanya menghela nafas panjang, dia memutuskan untuk tidak menjawab ucapan mamanya lagi agar tidak jadi panjang.
Karena percuma saja mau bicara seperti apapun mamanya pasti tidak akan mendengarkannya.
“Memangnya teman dosen atau mahasiswi di kampus tempat kamu ngajar ga ada yang menarik?” tanya Yulia.
“Tidak ada.” Jawab Gibran dengan singkat.
“Yaudah kalo gitu sama Sarah aja, kamu kan dekat sama dia. Iya kan?” ucap Yulia yang membuat Gibran kembali menghela nafas panjang.
“Ma, sarah itu temanku.” Jawab Gibran dengan tegas.
Lagi-lagi Gibran hanya bisa menghela nafas panjang, padahal dia merasa kalau dia tidak terlalu tua, tapi kenapa mamanya selalu mendesaknya untuk segera menikah.
“Mama ke sini cuma mau nyuruh aku menikah? Kenapa ga ngomong lewat telfon aja kalo gitu?” ucap Gibran.
Seketika tidak ada jawaban dari Yulia membuat Gibran merasa aneh dan segera menoleh ke arah mamanya yang sedang melihat ke luar balkon.
“Ma, mama liat apaan sih sampe ga denger aku ngomong?” tanya Gibran.
“Gib, itu ada cewek cantik banget ya Allah anak gadis ih cantik banget loh Gib, tapi kok kayaknya mama pernah lihat tapi di mana ya?” ucap Yulia sambil menunjuk ke arah luar rumah.
Mendengar hal itu membuat Gibran mengertukan keningnya lalu berjalan ke arah balkon untuk melihat wanita mana yang di maksud mamanya. Dan ternyata Yulia sedang melihat Karren yang sedang membantu maminya menyiram tanaman.
“Ah, mama pasti lihat dia di tv, dia emang bintang iklan gitu ma open endorse.” Jelas Gibran dengan santainya.
“Apa!? Ah iya mama baru ingat! Dia bintang iklan brand pakaian yang mama suka. Yaampun Gibran kamu tetanggaan sama artis kok ga bilang-bilang sih?” ucap Yulia dengan bersemangat.
__ADS_1
“Tunggu! Itu yang di sebelahnya mamanya ya? Kok mama juga kayak pernah lihyat dia ya tapi di mana...” ucap Yulai kembali sambil berfikir.
“Oh yaampun! Gibran, mamanya juga pernah ada di tv gosip gitu, dia adalah putri satu-satunya pengusaha nomer satu di seluruh dunia!” seru Yulia kembali.
“Kalo itu Gibran ga tau ma, Gibran emang pernah makan malam bersama keluarga mereka dan yang bisa Gibran simpulkan mereka pasti dari kalangan keatas.” Ucap Gibran.
“Apa!? Kamu pernah makan malam dengan keluarga mereka? Yaampun Gibran, beruntungnya kamu!!” seru Yulia sambil memeluk tubuh putranya.
“Apaan sih ma, jangan berlebihan deh.” Ucap Gibran sambil melepaskan pelukan mamanya.
“Mama ga berlebihan, tapi kalo kamu berniat menjual rumah ini kamu akan untung banyak, karena penggemar keluarga itu akan membeli rumah ini dengan nilai tertinggi!” ucap Yulia.
Karena memang posisi rumah Gibran adalah posisi paling strategis untuk melihat ke dalam kamar Karren dan menikmati ke seksian Karren yang setiap sore selalu melakukan senam aerobik di dalam kamarnya dengan pintu balkon yang terbuka lebar.
Untuk kali ini Gibran bersyukur karena perhatian mamanya sudah teralih kepada Karren dan keluarganya, jadi mamanya tidak akan mendesaknya lagi untuk segera menikah.
“Kamu emang penghianat Gib, kenapa kamu ga bilang sama mama kalo kamu bertetangga dengan orang hebat?” ucap Yulia dengan kesal.
“Toh mama juga ga pernah tanya jadi aku juga ga bilang apa-apa.” Balas Gibran dengan santainya.
“Yaudah ayo anter mama ke sana, mama mau foto sama mereka lumayan kan ada yang bisa mama banggakan setelah kembali nanti.” Rengek Yulia layaknya anak kecil.
Gibran benar-benar tidak habis pikir dengan sikap mamanya yang seperti anak kecil, merengek sambil menggoyangkan lengan Gibran.
Entah mimpi apa papanya bisa menemukan wanita seperti mamanya, pasalnya papa Gibran memiliki sifat yang sama sepertinya, cuek, kaku dan dingin, tapi kenapa papanya malah bisa mendapatkan istri seperti mamanya yang cerewet dan banyak tingkah.
Seketika sifat mamanya itu mengingatkan Gibran kepada seseorang, seseorang yang saat ini sedang tertawa sambil menyipratkan air di wajah mamanya.
“Gibran! Kamu kok malah bengong sih?” protes Yulia yang membuyarkan lamunan Gibran.
“Apaan sih ma, kayak anak kecil aja deh.” Ucap Gibran.
“Ayo anter mama foto bareng, siapa tau setelah foto bareng mama bisa jadi besan dan mertua idaman.” Celetuk Yulia membuat Gibran batuk karena tersedak ludahnya sendiri.
__ADS_1