DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 72 (SETELAH NONGKRONG TUGAS SELESAI?)


__ADS_3

Gibran adalah tipe dosen yang tidak suka melihat mahasiswanya bersantai baik di kampus maupun di rumah, dia selalu memberikan tugas yang buanyak, agar para mahasiswanya tidak bisa nongkrong seenak jidat.


Kalau mahasiswanya lebih memilih untuk nongkrong dan mengentengkan tugas dari Gibran, maka mereka akan menjadi seperti Karren saat ini.


Sebenarnya tugas yang saat ini sedang Karren kerjakan adalah tugas dari tiga hari yang lalu, tapi dia baru mengerjakan tugasnya karena terlalu menganggap remeh tugas yang Gibran berikan itu, dan saat ini Karren sedang menyesal karena kemarin dia lebih memilih untuk nongkrong bersama teman-temannya bukannya mengerjakan tugas lebih dulu.


Tidak lama kemudian suara ketukan terdengar lalu di susul dengan pintu yang terbuka, Key mengintip lebih dulu ke dalam kamar putrinya lalu dia tersenyum saat melihat putrinya yang sedang pusing memikirkan tugasnya sampai wajahnya pias begitu.


“Nih mami bawain kamu camilan sama jahe hangat.” Ucap Key sambil menaruh nampan yang dia bawa di meja melajar Karren.


“Thank you mam...” ucap Karren dengan lemas.


Setelah memberikan camilan dan jahe kepada Karren, Key tidak langsung keluar dari kamar putrinya itu, dia lebih dulu duduk di tepi tempat tidur sambil melihat Karren yang frustasi mengerjakan tugas kuliahnya.


“Kamu percaya ga, dulu waktu mami ada tugas kuliah, papi kamu nyempetin buat bantuin mami ngerjain tugas, yah walaupun sebenarnya papi kamu juga seneng soalnya sekalian apel haha.” Ucap Key mencairkan suasana dan berharap kalau ceritanya bisa membuat Karren sedikit lebih bersemangat.


“Seriusan papi mau bantuin mami kerjain tugas?” tanya Karren tidak percaya, pasalnya maminya dulu pernah bilang kalau dia dan papinya memiliki usia yang cukup jauh, jadi bisa di pastikan kalau papi adalah orang yang sibuk.


“Beneran, kok kamu ga percaya sama mami sih.” Balas Key.


“Percaya sih mam, tapi kan kata mami dulu papi sibuk banget karena kerja, masa sih bisa bantuin mami ngerjain tugas.” Ucap Karren.


“Karena dulu papi kamu bucin banget sama mami, dia rela menyampingkan pekerjaannya demi bantuin mami yang sering ngeluh kalo di kasih tugas ini.” Balas Key.


“Enaknya mami punya pacar bucin jadi ada yang bantuin kalo ngerjain tugas, ga kayak aku jomblo.” Ucap Karren dengan wajah memelas.


Key tersenyum mendengar ucapan Karen, mulutnya sudah gatal ingin mengatakan sesuatu.


“Denger-denger ada yang habis di tembak ya kemarin, tapi belum di jawab tuh.” Ucap Key menggoda putrinya.


Mendengar ucapan maminya membuat Karren terkejut dan langsung menoleh ke arah Key, bagaimana bisa maminya tau padahal hanya dia dan Gibran saja yang ada di ruangan itu kemarin.

__ADS_1


“Mami tau dari mana?” tanya Karren.


“Dari papi kamu tadi ngomong sama mami.” Balas Key.


“Loh, papi tau dari mana?” tanya Karren kembali.


“Kemarin kebetulan Gibran lewat depan rumah, terus sama papi kamu di panggil di ajak ngopi bareng di depan rumah, terus Gibran sendiri yang bilang kalau dia nembak kmu tapi kamu belum jawab.” Jelas Key.


Mendengar penjelasan maminya membuat Karren menganga, dia tidak percaya kalau Gibran akan bergerak cepat seperti itu, padahal Karren belum tentu menerima pernyataan cintanya.


Memikirkan hal itu saja membuat jantung Karren berdegup kencang dan pipinya mulai memanas. Gibran memang laki-laki yang paling serius di antara semua laki-laki yang pernah dekat dengan Karren.


“Kapan mereka ngopi bareng? Aku ga tau tuh mam.” Ucap Karren yang mencoba untuk bersikap biasa saja.


“Kemarin kan kamu keluar sama teman-teman kamu, gimana mau nongkrong.” Balas Karren.


Karren mengangguk mengerti, dia kemarin memang nongkrong bersama teman-temannya sepulang kuliah, mungkin saat itulah Gibran mengobrol dengan papinya.


“Mami ga ada niatan buat bantuin Karren gitu.” Rengek Karren.


“Calon pacar kamu kan dosen yang buat tugas, kalo kamu minta bantuan ya minta tolong ke dia aja.” Ejek Key.


Karren memanyunkan bibirnya sambil menggerutu kesal, sedangkan Key segera pergi dari kamar putrinya agar dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan serius.


Setelah maminya pergi dari kamarnya, Karren kembali berkutat dengan tugasnya, beberapa kali dia mengacak-acak rambutnya karena tidak menemukan jawaban dari tugas yang di berikan oleh Gibran.


Karren kira Gibran sudah insaf dan tidak akan menyusahkan mahasiswanya lagi, tapi ternyata dia salah besar. Padahal kalau dengar ceramah ada hadist yang tidak boleh menyusahkan orang lain karena tuhan akan menyusahkannya kembali.


“Kayaknya gue harus mengingatkan deh, kan gue baik hahaha.” Gumam Karren sambil membuka ponselnya untuk memotrat tugas-tugasnya yang berserakan di atas meja belajar dan juga mencari hadist yang berkaitan dengan apa yang di ucapkan Karren tadi.


Kali ini Karren mempostingnya di WA storynya karena di IG banyak sekali followersnya dan juga IG Karren sudah centang biru jadi dia tidak bisa asal memposting semua hal. Bisa-bisa dia akan di bully oleh masyarakan +62 ini.

__ADS_1


Belum ada satu menit Karren memposting di WA storynya, sudah ada banyak sekali orang yang mengomentari storynya itu namun Karren memilih untuk tidak membalasnya, papinya juga mengomentari statusnya dengan emotikon ketawa.


Tidak lama kemudian, Gibran muncul saat Karren mulai fokus kembali pada tugasnya. Karena penasaran Karren pun langsung membukanya.


Gibran Mahardika :


Maksud kamu apa membuat story seperti itu dengan background tugas yang saya berikan?


Melihat komentar dari Gibran membuat Karren tertawa sampai perutnya sakit, Karren yakin pasti wajah Gibran saat ini sudah sangat kesal.


Belum sempat Karren membalasnya, tiba-tiba panggilan video dari Gibran muncil di layar ponselnya, Karren langsung mengangkatnya namun dia mengubah wajahnya yang tadi tertawa jadi wajah kesal agar Gibran tau kalau tugas-tugas yang dia berikan membuat Karren kesal.


“Apa!?” ketus Karren dengan wajah yang kesal.


“Astagfirullah Karren, bukannya salam dulu malah langsung kayak gitu.” Ucap Gibran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Yaudah kalo gitu aku matiin dulu nanti kamu telfon lagi oke.” Ucap Karren yang langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Gibran lebih dulu.


Beberapa detik kemudian, Gibran langsung menghubungi Karren kembali, Karren menerima panggilan video dari Gibran dengan malas karena kalau seperti ini terus dia tidak akan selesai mengerjakan tugas yang Gibran berikan.


“Assalamualaikum mas Gibran...” ucap Karren dengan senyum yang di paksakan.


“Waalaikumsalam, kenapa wajah kamu cemberut begitu?” tanya Gibran yang sudah mengerutkan dahinya.


“Ini karena kamu ngasih tugas banyak banget, mana susah-susah semua lagi, kepalaku bisa pecah lama-lama tau.” Protes Karren.


“Makanya, udah tau tugasnya banyak, harusnya di kerjain bukan malah di tinggal nongkrong, emangnya pulang kamu nongkrong tugas-tugas kamu sudah selesai?” tanya Gibran.


“Ajaib dong kalo pulang aku nongkrong tugasnya udah selesai, kecuali kamu bantuin aku kerjain.” Balas Karren yang semakin kesal.


Gibran menahan tawanya melihat ekspresi Karren yang terlihat kesal, sedangkan Karren semakin kesal melihat ekspresi Gibran yang sedang menahan tawa.

__ADS_1


__ADS_2