DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 73 (TIDAK PAKAI CELANA?)


__ADS_3

Gibran menahan tawanya melihat ekspresi Karren yang terlihat kesal, sedangkan Karren semakin kesal melihat ekspresi Gibran yang sedang menahan tawa.


“Udahlah ngomong sama kamu malah buat aku makin naik darah! Matiin aja.” Ucap Karren yang mau mematikan ponselnya, namun terdengar suara Gibran dari dalam ponsel yang membuat Karren kembali menempelkan ponselnya di telinganya.


“Apa mas? Kamu tadi ngomong apa?” tanya Karren karena suara Gibran tadi tidak kedengaran.


“Saya lagi senggang, kalau kamu butuh bantuan kamu bisa datang ke rumah saya.” Ucap Gibran.


“Kenapa saya yang ke sana? Kenapa ga kamu aja yang ke sini?” tanya Karren.


“Yang butuh kan kamu, jadi kamu yang harus ke sini.” Ucap Gibran.


“Tapi aku ini kan cewek mas, ga baik loh malem-malem gini keluar rumah, nanti aku di culik gimana?” ucap Karren beralasan karena sebenarnya dia malas sekali keluar dari rumah.


“Kamu ga akan di culik kalau cuma berjalan beberapa langkah saja ke rumah saya Karren.” Balas Gibran.


“Oke oke aku ke sana, tunggu ya aku siap-siap dulu, jangan lupa red carpetnya di gelar ya mas.” Ucap Karren sambil terkekeh.


“Jangan kelamaan, kalau sepuluh menit kamu ga ke sini saya tidak akan bukain pintu karena saya mau tidur.” Ucap Gibran.


“Hah? jam segini udah mau tidur mas? Yaampun kamu ini anak bayi ya?” ucap Karren.


“Sudah satu menit.” Ucap Gibran yang membuat Karren panik dan langsung mematikan ponselnya.


Karren cepat-cepat merapihkan tugas-tugasnya dan juga laptopnya, dia tidak mengganti baju biarkan saja seperti ini salah sendiri dia menyuruh Karren cepat-cepat.


Kalau sampai Gibran meninggalkannya tidur bisa-bisa dia tidak ada yang membatu mengerjakan, Darren dan Kevin sangat tidak berguna jika bersangkutan dengan tugas, sedangkan Silvia entahlah kemana dia sejak tadi tidak mengangkat telfon Karren dan juga tidak membaca pesannya.


Karren segera menyebrang jalan dan mengetuk pintu rumah Gibran setelah dia sampai di depan pintu rumah doskillnya itu.


Karren memberikan senyum terindahnya saat Gibran membuka pintu rumahnya, senyum yang sangat cerah.


“Assalamualaikum mas..” sapa Karren dengan lembut.

__ADS_1


“Waalaikumsalam.” Ucap Gibran yang langsung melotot melihat penampilan Karren saat ini.


Malam itu Karren hanya mengenakan kaos oversize sampai menutupi celananya, bahkan /gibran tidak tau apakah Karren memakai celana atau tidak. Bisa-bisanya Karren memakai pakaian seperti itu saat bertamu ke rumah dosennya.


Gibran menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah ada orang yang penampilan Karren seperti itu, lalu dia menarik tangan Karren masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu rumahnya.


Kening Karren berkerut, dia tidak mengerti kenapa Gibran tiba-tiba menariknya masuk cepat-cepat, laki-laki itu juga terlihat terkejut saat melihatnya.


“Kamu kenapa sih mas?” tanya Karren yang masih belum mengerti kenapa Gibran seperti tadi.


Gibran menatap ke arah Karren dengan tajam membuat Karren dengan refleks mundur sedikit demi sedikit, walaupun bukan pertama kali Gibran bersikap berlebihan seperti ini tapi tetap saja Karren takut kalau Gibran macam-macam padanya.


“Salah apa lagi sih gue? Perasaan di mata dia gue salah mulu dah.” Batin Karren sambil menatap wajah Gibran dengan takut.


“Saya memang ngasih kamu waktu sepuluh menit, tapi bukan berarti kamu bisa pakai baju seenaknya Karren..” ucap Gibran.


“Hah? Maksudnya apaan sih mas? Emangnya baju aku kenapa?” tanya Karren yang masih bingung dengan ucapan Gibran.


Padahal dia datang dengan niatan untuk mengerjakan tugas, tapi kenapa Gibran malah mengomentari baju yang aku pakai, lalu Karren melihat ke mana pandangan Gibran tertuju dan langsung mengerti maksudnya.


“Kamu kenapa ga pake celana?” tanya Gibran.


“Aku pake celana mas, yaampun..” ucap Karren sambil mengangkat bajunya dengan maksud untuk memperlihatkan celana pendeknya, namun Gibran malah langsung memalingkan wajahnya berusaha untuk tidak melihat ke arah pakaian Karren.


“Cepat turunkah baju kamu Karren!” tegas Gibran yang tidak mau menatap Karren.


Karren tertawa melihat sikap Gibran seperti itu, lalu dia segera menurunkan bajuyang dia angkat tadi, tentu saja hanya dengan Gibran  Karren berani melakukan hal seperti itu, dia tidak berani melakukan hal seperti ini jika di depan laki-laki lain, apa lagi spesies pakboy seperti Darren dan Kevin, bisa di makan dia.


“Udah mas.” Ucap Karren memberi tahu agar Gibran mau menatapnya.


Dengan perlahan Gibran memutar kepalanya melihat Karren dan memastikan kalau dia sudah menurunkan bajunya. Lalu tatapan Gibran kembali menajam saat menatap ke arah Karren.


“Jangan pernah keluar rumah memakai pakaian seperti ini lagi Karren!” tegas Gibran.

__ADS_1


“Huh, iya, iya mas.” Ucap Karren dengan malas.


“Saya serius Karren, kamu akan segera menjadi milik saya dan saya tidak mau kalau kamu mempertontonkan sesuatu yang harusnya hanya saya yang melihatnya, bukan orang lain.” Tegas Gibran.


Wajah Gibran yang serius membuat Karren meleleh, jantungnya berdegup dengan kencang dan mungkin saja pipi Karren saat ini sudah memerah apa lagi dia tidak memakai make up yang bisa menutupi merah di wajahnya, dan akhirnya dia menundukkan kepala menutupi wajahnya yang memerah.


“Kenapa kamu malah menundukkan wajah?” tanya Gibran karena dia merasa kalau Karren menundukkan kepala karena takut dan merasa bersalah, padahal sebenarnya Karren menunduk karena menutupi wajahnya yang memerah.


“A-aku malu..” ucap Karren tanpa sadar membuat Gibran tertawa.


Tanpa Gibran sadari tangannya bergerak sendiri untuk mengacak-acak rambut Karren dengan gemas.


Untuk Gibran yang jarang sekali melakukan physical touch, perlakuan itu mampu membuat Karren membeku di tempat dan jantungnya berdetak semakin tidak menentu.


“Ayo kita kerjakan tugas, keburu malam nanti kamu malah ketiduran kayak waktu itu.” Ucap Gibran.


Karren mengangguk mengiyakan ucapan Gibran, dia mengikuti langkah Gibran menuju ruang tengah, Karren juga langsung mengeluarkan tugas-tugasnya dan juga laptop miliknya dan meletakkannya di atas meja.


“Kamu mau minum apa?” tanya Gibran.


“Kopi deh mas, biar ga ngantuk aku.” Balas Karren yang di balas anggukan oleh Gibran.


Gibran berniat untuk melangkahkan kakinya ke dapur, lalu tiba-tiba saja suara Karren menghentikan langkah Gibran.


“Mas..” panggil Karren.


“Iya?” tanya Gibran yang sudah menoleh melihat ke arah Karren.


“Boleh ga aku buat kopi sendiri?” tanya Karren dengan ragu.


Karena sebenarnya Karren memiliki asam lambung, biasanya laki-laki lebih suka kalau kopinya kental dan memasukkan lebih banyak bubuk kopi, jadi Karren takut lambungnya akan sakit.


“Boleh kok, sekalian saya juga bikinin ya.” Ucap Gibran.

__ADS_1


Karren tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia segera berdiri dan mengikuti langkah Gibran ke dapur.


Di sana Gibran menemani Karren membuat kopi, beberapa kali juga Karren bertanya di mana tempat biasanya Gibran menaruh kopi dan gula lalu Karren meracik kopi dengan serius.


__ADS_2