
“Apa kamu tidak sadar kalau kemejaku tidak setebal itu, tentu saja aku bisa melihat kalau kamu tidak memakai pakaian dalam!” ucap Gibran.
Karren segera menoleh ke bawah melihat penampilannya sendiri, dan benar saja tubuhnya memang bisa di lihat sangat jelas dari luar membuat Karren terkejut.
Wajah Karren seketika memerah karena mengingat kalau Gibran sudah melihat seluruh tubuhnya walaupun dari balik kemeja, ingin rasanya Karren pergi dari bumi ini agar tidak bertemu dengan Gibran saat itu.
“Terus kenapa kamu juga melepaskan celanamu?” tanya Gibran.
“Ah, kalo celana memang sengaja aku lepas, biar keliatan stylish aja, lagian kemeja kamu hampir selutut loh dan aku juga masih memakai dalaman kok tenang aja.” Balas Karren dengan santainya.
Karena Karren pikir tidak masalah untuk mengatakan hal itu, toh dia juga sudah terlanjur malu kepada Gibran.
“Biar aja deh aku malu sekalian, toh aku lagi berduaan sama calon suamiku kan hihihi, ngarep ga apa-apa lah kayak papi sama mami yang ngarepin dia jadi menantunya.” Gumam Karren namun tidak bisa di dengar oleh Gibran karena laki-laki itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Terlihat Gibran sedang menghela nafas panjang sambil memejamkan kedua matanya frustasi karena tingkah Karren yang tidak bisa di prediksi.
“Mana ponsel kamu?” tanya Gibran.
“Ngapain nanya ponsel aku mas?” Karren malah balik bertanya kepada Gibran.
“Saya mau menghubungi Darren lagi.” Ucap Gibran.
Walaupun saat ini Karren tidak tau kenapa lagi Gibran mau menghubungi saudaranya kali ini, tapi tetap saja Karren memberikan ponselnya kepada Gibran.
“Darren, tolong kamu ke ruangan saya lagi dan ambilkan hoodie saya juga yang ada di bagasi.” Ucap Gibran.
“B-baik pak.” Balas Darren dan segera mematikan ponselnya.
Darren ingin sekali rasanya memaki Gibran kalau tidak mengingat Gibran adalah dosen killer, padahal Darren baru saja mendudukkan b*kongnya di kursi kantin, namun Gibran sudah menyuruhnya untuk kembali lagi.
“Dia pikir gue ini babu mereka apa, nyuruh orang seenak jidat! Liat aja gue ga akan merestui hubungan lo sama Karren! Bisa-bisa gue jadi babu terus nih kalo sampe dia jadi sepupu ipar gue.” Ucap Darren ngomel-ngomel sendiri.
Darren memang lebih setuju jika Karren dengan Kevin, karena Kevin mudah di manfaatkan dan mau di suruh-suruh.
Sedangkan kalau Karren dengan Gibran, Darren tidak akan bisa melakukan hal itu kepada Gibran.
“Gojek!” teriak Darren sambil mengetuk pintu ruangan Gibran.
Dengan segera Gibran membuka pintu dan langsung memberikan kunci mobilnya kepada Darren.
“Maaf karena sudah merepotkanmu Darren.” Ucap Gibran.
“Iya tidak apa-apa pak, maaf karena saudaraku merepotkan bapak.” Balas Darren.
__ADS_1
“Sialan lo Ren!” teriak Karren yang mendengar ucapan Darren dari dalam.
“Dih, gila lo Re...” baru saja Darren ingin berteriak, tapi Gibran tiba-tiba menutup pintu ruangannya tanpa mengatakan apapun, bahkan hidung mancung Darren hampir saja kepentok pintu.
Darren melongo, dia tidak percaya kalau Gibran akan menutup pintu begitu saja padahal dia belum sempat membalas kata-kata Karren.
“Dasar ngeselin! Cocok lo sama Karren sama-sama ngeselin!” ucap Darren marah-marah sendiri.
Namun mau bagaimana lagi, dia masih tetap harus mengambil hoodie yang di suruh oleh Gibran karena dia tidak ingin nyawanya di hilangkan.
Dengan segera Darren menuju parkiran dosen dan mengambil hoodie di bagasi mobil Gibran sesuai yang di perintahkan.
“Awas aja kalo habis ini dia masih nyuruh gue lagi! Ga akan gue angkat telfonnya!” gumam Darren.
Setelah mengambil hoodie, Darren kembali ke ruangan Gibran.
“Pakettt!!!!” teriak Darren dari luar.
Tadi gojek, sekarang paket, yah anggap saja kalau Darren adalah gojek yang disuruh mengambil paket.
Gibran segera membuka pintu ruangannya dan langsung mengambil hoodie dan kunci mobilnya.
“Tunggu sini, kamu langsung anter Karren pulang!” ucap Gibran lalu kembali dia menutup pintu ruangannya tanpa mengatakan apapun.
Darren tetap berdiri di depan ruangan Gibran dengan alasan yang sama yaitu dia tidak ingin nyawanya di hilangkan, sedangkan di dalam ruangannya Gibran segera melemparkan hoodie miliknya kepada Karren.
“Pakai ini, setidaknya itu bisa menutupi tubuhmu itu.” Ucap Gibran.
Karren segera mengambil hoodie itu dan langsung memakainya tanpa mengatakan apapun.
“Makasih mas...” ucap Karren dengan senyum manisnya.
Kali ini hoodie itu terlihat sangat cocok di tubuh Karren, hoodie Gibran panjangnya setengah paha membuat Karren sangat menggemaskan saat mengenakannya.
Namun di sisi lain, Gibran ingin sekali kalau Karren mau memakai kembali celananya agar tidak menjadi santapan bagi para laki-laki di luar sana.
“Kamu ga mau pake celanamu lagi?” tanya Gibran.
“Engga mas, lagian aku juga mau langsung pulang kok, soalnya kuliah soreku di batalin.” Balas Karren.
Mendengar ucapan Karren membuat Gibran menganggukkan kepalanya.
“Lewat koridor yang sepi aja.” Ucap Gibran.
__ADS_1
Karren hanya membalas ucapan Gibran dengan anggukan, lalu dia segera keluar dari ruangan Gibran di antar oleh Gibran juga.
Saat melihat sepupunya keluar, Darren meneliti Karren dari atas hingga ke bawah dan ke atas lagi, tatapannya menunjukkan kecurigaan kepada Karren.
Karren segera menjitak kepala Darren hingga membuatnya kesakitan.
“Ngapain lu liat-liat hah!?” ketus Karren.
“Habis ngapain lu dari tadi di dalem?” tanya Darren.
“Ga usah mikir macem-macem otak lo!” ketus Karren.
“Salah sendiri ngapain pake buka celana lu, bikin otak orang travelling ke mana-mana.” Balas Darren.
“Jelek kalo gue masih pake celana jeans dodol!” ketus Karren.
Darren hanya menganggukkan kepala berpura-pura untuk percaya dengan saudara sepupunya itu agar tidak memanjang.
“Kalo gitu aku pulang dulu ya mas, bye...” ucap Karren dengan mesranya sambil melambaikan tangannya.
Darren yang melihat ekspresi Gibran yang terkejut itu segera menurunkan paksa tangan Karren dan ikut berpamitan kepada Gibran dan menarik tangan Karren.
“Ih apaan sih lu Ren, kok tangan gue di tarik-tarik, kan gue belum selesai pamitan sama calon suami.” Protes Karren.
“Apaan sih lu Ren, ga malu lu jadi cewek agresif banget.” Ucap Darren.
“Kenapa sih, gue kan cuma sama mas Gibran aja agresifnya.” Balas Karren.
“Iya menurut lo, tapi pak Gibran bakal mikir kalo lo agresif ke semua cowok!” tegas Darren.
Karren yang kesal langsung melepaskan tangannya dari Darren dan akhirnya dia berhasil.
“Apaan sih lo Ren! Ga dukung banget gue deket sama mas Gibran.” Ucap Karren dengan kesal.
“Gue bukannya ga dukung, tapi gue ga suka kalo lo terlalu agresif! Semakin lo agresif, semakin ilfil cowok sama lo!” ketus Darren.
“Terserah deh, bete gue sama lo!” ketus Karren yang langsung merebut kunci mobil Darren dan berlari meninggalkan Darren sendirian.
“Kunci, kunci mobil gue woy Karren!” teriak Darren yang baru sadar kalau Karren merebut kunci mobilnya.
Darren terus berlari dan tepat saat mobilnya di lajukan oleh Karren meninggalkan parkiran membuat Darren kesal.
“Arrgghhh dasar! Sepupu siapa sih dia itu! Nyebelin banget!!” teriak Darren sambil mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1