
Karren masih menertawakan Gibran yang menurutnya sangat menggemaskan, tanpa dia sadari sejak tadi ada seseorang yang melihatnya dari belakang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Udah puas godain anak perawan orang?” tanya Key tiba-tiba yang membuat Karren terkejut.
“Kok perawan sih mam, perjaka kali..” sahut Karren yang masih tertawa.
“Ya itu maksud mami, kamu udah puas godain perjaka orang?” tanya Key.
“Yah lumayan lah mam menghibur hehe.” Balas Karren.
Key menggelengkan kepala melihat kelakuan anak gadisnya ini, seharusnya laki-laki yang menggoda perempuan, tapi malah putrinya ini yang menggoda laki-laki.
“Seharusnya perjaka yang godain perawan, lah ini malah sebaliknya.” Ucap Key.
“Dia ga bisa godain perawan mam, kaku banget kayak kanebo kering haha.” Balas Karren.
“Kalau begitu jangan biarin dia dekat-dekat terus sama papi, nanti di kasih jurus ngegombal loh.” Ucap Key.
“Dih salah kali mam, aku ini nurun sama mami, kan kata papi dulu mami yang sering godain dia.” Sahut Karren mengejek maminya sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Heh Karren! Kamu ini, cepat mandi sana!” teriak Key sambil melihat Karren yang sudah berjalan masuk ke dalam walk in closet.
Key jadi ingat waktu dia mau melahirkan Karren, karena kamar mandi berada di dalam walk in closet jadi dia berteriak susah payah agar suaminya mendengar suaranya.
Untungnya sekarang walk in closet di kamar tidak terlalu besar jadi jarak kamar mandi hanya sedikit dan jika berteriak kita masih mendengar suaranya, seperti saat ini Key sudah mendengar suara air yang menandakan kalau Karren sudah mandi.
Key segera keluar dari kamar putrinya untuk menyiapkan sarapan, setiap hari minggu Key memang menyiapkan sarapan sedikit lebih siang karena Karren dan Bernard libur jadi dia masih bisa santai sedikit.
Karren yang sudah menyelesaikan ritual mandinya segera mengecek ponselnya yang berbunyi, Karren tersenyum saat melihat nama Gibran muncul di notifikasi layar ponselnya.
Gibran Mahardika :
Apa kamu sengaja menggoda saya tadi?
Karren Adibrata :
Iya, habisnya kamu lucu sih kalo lagi salah tingkah kayak tadi, bikin gemas tapi mau cubit ga berani huhuhu..
__ADS_1
Gibran Mahardika :
Berani cubit saya, nyawa kamu saya kurangi.
Karren Adibrata :
Cih! Dasar dosen killer pencabut nyawa!
Karren yang awalnya tertawa seketika berubah jadi cemberut karena Gibran yang mau mengambil nyawanya.
Dengan segera Karren membawa serta ponselnya ke bawah karena maminya sudah berteriak untuk menyuruh Karren sarapan.
“Morning pap..” sapa Karren yang sudah berada di ruang makan dan langsung mencium pipi papinya seperti biasa.
“Morning putri papi yang sebentar lagi kayaknya ga akan bisa deh cium papi tiap pagi lagi.” Balas Bernard membuat Karren mengerutkan keningnya.
“Maksud papi apa? Kenapa aku ga bisa cium papi tiap pagi lagi?” tanya Karren heran.
“Karena sebentar lagi tiap pagi bukan papi yang di cium, tapi calon suami kamu hehehe.” Ucap Bernard menggoda putrinya.
Mendengar ucapan papinya membuat Karren tersipu malu, wajahnya memerah dan langsung memukul pelan lengan papinya.
“Kan bener, mami kamu udah ngasih tau kamu kan kalau Gibran udah ngobrol sama papi?” tanya Bernard.
“Hem, udah kok aku tau papi sama mas Gibran udah ngobrol berdua.” Balas Karren.
“Jadi, kapan kamu mau jawab pernyataan cinta Gibran?” tanya Bernard.
“Ga tau pap, aku masih ragu sama perasaan mas Gibran ke aku, aku takut kalau mas Gibran khilaf saat menyatakan cinta padaku.” Ucap Karren bercanda mengingat ucapan maminya waktu itu.
“Kamu ini bercanda mulu!” ucap Bernard.
“Lagian aku belum lulus juga kan pap, biarkan berjalan seperti air yang mengalir aja lah.” Ucap Karren yang di balas helaan nafas oleh Bernard.
***
Karren berjalan dengan santainya sambil menundukkan kepala, dia sedang asik membalas chat group sahabat-sahabatnya dan mengabari mereka kalau dia sudah sampai di kampus.
__ADS_1
Sesekali Karren mendongak untuk melihat jalan dan juga menyapa orang-orang yang menyapanya lalu kembali menundukkan kepalanya melihat ke layar ponselnya.
Sangking seriusnya Karren menatap layar ponselnya, Karren sampai tidak tau kalau ada seseorang yang berdiri di depannya sampai membuat Karren menabrak orang itu.
Bugghh!! “Aduh..” keluh Karren sambil mengusap keningnya yang sakit setelah menabrak sesuatu yang keras.
Karren yang kesal ingin sekali mengutuk orang yang sudah berdiri di hadapannya itu. Dia segera mendongak melihat siapa yang berani menghalangi jalannya, lalu tiba-tiba saja keberanian itu seketika menghilang dan menciut saat mengetahui kalau orang yang ada di depannya adalah Gibran si dosen killer.
Karren menelan salvilanya, tatapan tajam Gibran membuat Karren mengingat-ingat dosa apa yang sudah dia perbuat sampai Gibran menatapnya dengan tajam begitu. Entah kenapa sepertinya apa yang dia lakukan akan selalu salah di mata Gibran.
Karren berusaha untuk santai dan tersenyum manis ke arah Gibran.
“Eh mas Gibran kenapa berdiri di situ? Kamu lagi cosplay jadi tembok China ya?” tanya Karren.
“Tidak lucu Karren!” ucap Gibran dengan nada dingin membuat Karren semakin gugup.
“Aku kan emang bukan komedian, jadi aku emang ga lucu mas.” Balas Karren sambil memamerkan gigi putihnya.
Melihat banyak mahasiswa yang mulai memperhatikan mereka, Gibran dengan cepat menarik tangan Karren menuju ruangannya tanpa memperdulikan tatapan mahasiswanya yang bertanya-tanya.
Karren yang tangannya di tarik oleh Gibran berusaha untuk mengimbangi langkah Gibran yang lebar-lebar, kaki Karren yang memakai high heels membuat Karren kesulitan untuk menyusul Gibran.
“Mas, pelan-pelan dong jalannya.” Ucap Karren.
Gibran tidak berniat sama sekali untuk membalas ucapan Karren atau menuruti Karren untuk memelankan langkahnya, dia terus saja berjalan dengan langkah lebar dan cepat. Tatapan tajam dari mata Gibran membuat para mahasiswi yang biasanya menggoda Gibran tidak berani lagi menatapnya.
Setelah sampai di ruangannya, Gibran langsung memasukkan Karren ke dalam ruangannya disusul oleh Gibran dan dia segera menutup pintu ruangannya dengan cepat.
Karren heran dengan sikap Gibran, dia tidak mengerti kenapa Gibran bersikap seperti itu, padahal tadi pagi sebelum berangkat kuliah Gibran masih mengiriminya ucapan selamat pagi dan perhatian-perhatian yang sangat manis.
“Kamu ini kenapa sih mas? Kenapa tarik-tarik aku kayak tadi?” tanya Karren kesal.
“Emang aku salah apa lagi sih?” sambungnya.
“Kamu masih ga sadar kesalahan apa yang kamu perbuat?” tanya Gibran yang di balas gelengan kepala oleh Karren.
“Lihat pakaian yang kamu pakai sekarang! Bukankah saya sudah mengingatkan kamu berkali-kali kalau saya tidak suka melihat kmu berpakaian seperti itu.” Ucap Gibran menggebu-gebu.
__ADS_1
“Lihat rok pendek itu, dan juga kemeja dengan dua kancing terbuka? Kamu sebenarnya ingin ke kampus apa ke bar hah!?” ketus Gibran dengan tatapan sinisnya.