DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 131


__ADS_3

Di sebuah dapur nan bersih dan indah, seorang wanita cantik berdaster sedang berperang dengan minyak panas yang ada di dalam wajan di hadapannya. Acara menggoreng ayam yang seharusnya terjadi dengan santai itu berubah menjadi sebuah ajang perang saat tiba-tiba saja cipratan minyak panas itu mengenai tangan wanita itu.


“Aw! Ih kenapa sih ga bisa diem minyak? Sakit tau!” teriak wanita itu.


Tentu saja teriakan wanita itu berhasil membuat seorang laki-laki yang sedang bermain dengan putri kecilnya itu segera berlari ke arah dapur dengan panik.


“Ada apa sayang?” tanya seorang laki-laki yang tidak lain adalah Gibran.


“Mas,, minyaknya nakal, dia loncat ke tangan aku.” Adu Karren kepada Gibran sambil menunjukkan tangannya yang sudah memerah karena cipratan minyak panas itu.


“Tunggu sebentar.” Ucap Gibran yang langsung pergi entah kemana.


Dan tidak lama kemudian, akhirnya Gibran kembali dengan membawa helm, jaket dan tidak lupa juga dengan sarung tangan untuk sang istri.


“Nih, pakai ini biar kamu aman.” Ucap Gibran sambil menyodorkan ketiga benda pusaka itu kepada Karren.


Karren langsung mengangguk setuju dengan ide suaminya, dia segera memakai ketiga benda itu dengan benar.


Setelah selesai memakai semuanya dan dia sudah merasa aman, barulah Karren kembali berperang dengan wajan dan ayamnya.


“Kamu lanjutin aja masaknya ya, aku mau jagain Kirana lagi.” Ucap Gibran yang di balas anggukan oleh Karren.


Gibran segera kembali naik ke atas untuk menghampiri putrinya yang beberapa saat lalu dia tinggalkan di kamar.


Kirana Arsyla Mahardika, putri kecil nan cantik yang saat ini sudah berusia satu tahun setengah hasil dari proses reproduksi antara Gibrn Mahardika dan Karren Adibrata. Kirana memiliki wajah yang sangat cantik perpaduan antara Karren dan Gibran.

__ADS_1


Di bawah, Karren kembali memulai peperangan dengan ayamnya, kali ini Karren bisa memasak dengan santai karena dia sudah tidak takut lagi terkena cipratan minyak panas.


Bahkan sangking santainya, Karren memutar lagu dari ponselnya dan tubuhnya mulai bergoyang mengikuti alunan musik yang bersenandung.


Tiba-tiba saja, seseorang menekan bel rumahnya membuat Karren akhirnya menghentikan aktifitasnya dan berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


Karren membuka pintu dan ternyata Key yang ada di depan rumahnya, Key terkejut saat melihat orang yang ada di hadapannya.


“S-siapa kamu?” tanya Key sambil mengerutkan keningnya.


“Mam, ini Karren, masa sama anak sendiri ga kenal sih, jahat banget.” Protes Karren.


“Yaampun Karren, kamu mau kemana berpenampilan seperti ini?” tanya Key sambil melihat ke atas sampai ke bawah.


Key hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya itu. Memang sudah tiga hari ini Karren melakukan pekerjaan rumahnya sendiri karena ART nya harus mengambil cuti karena ibunya yang sudah lansia itu sedang sakit.


Selama di tinggal oleh ART nya, Karren dan Gibran membagi tugas di rumah. Karren bertugas untuk memasak dan mencuci, sedangkan Gibran bertugas untuk menyapu dan mengepel.


Selama itu juga mami Key selalu mengunjungi rumah anak dan menantunya, karena dia tau kalau mereka berdua akan kerepotan untuk mengurus rumah tanpa ART, apa lagi saat ini Kirana sedang aktif aktifnya berjalan walaupun masih sempoyongan.


Itulah kenapa Key sering kali mengunjungi rumah mereka untuk sekedar memastikan kalau mereka bertiga baik-baik saja.


Yulia juga sering mengunjungi rumah mereka hanya untuk bertemu dengan cucu kesayangannya. baju Kirana terus bertambah setiap Yulia datang, karena neneknya itu tidak pernah datang dengan tangan kosong.


Kalau Darren memenuhi koleksi mainan Kirana, maka Yulia memenuhi koleksi pakaian Kirana. Walaupun Karren dan Gibran sering menegur keduanya agar tidak membelikan barang untuk Kirana, namun percuma karena keduanya terus saja membelikan mainan dan pakaian untuk Kirana.

__ADS_1


Sebenarnya Key sudah menawarkan untuk meminjamkan ART nya, namun Karren menolek karena Gibran tidak setuju, Gibran lebih suka mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri agar dia dan Karren memiliki waktu berdua untuk mengurus pekerjaan rumah bersama-sama, karena Gibran percaya kalau keharmonisan keluarga bisa terbangun dengan cara seperti itu.


“Kamu butuh bantuan?” tanya Key sambil berjalan ke arah dapur.


“Ga usah mam, mending mami bantuin mas Gibran aja di atas, dia pasti kesulitan jagain Kirana, soalnya dia sambil ngerjain kerjaan juga mam.” Balas Karren.


“Kamu beneran bisa?” tanya Key. Karena Key tau walaupun anaknya sering membantunya memasak, tapi masalah goreng menggoreng Karren masih sangat takut, dia hanya bertugas untuk memasak tumisan dan membuat sayur sayuran.


“Bisa mam, ini udah aman banget loh santai aja.” Balas Karren dengan percaya diri.


Key hanya mengangguk-anggukan kepala, lalu dia segera berjalan ke atas untuk membantu menantunya menjaga Kirana.


Sedangkan Karren melanjutkan memasaknya. Setelah ayamnya matang, Karren segera memindahkannya ke piring lalu menatanya di atas meja makan.


Menu sarapan hari ini adalah ayam goreng dan tumis kangkung saja, Gibran tidak masalah dan selalu menerima apa saja yang di masak oleh Karren untuknya.


Selama mereka menikah sampai sekarang pun Gibran tidak banyak menuntut Karren, apa lagi setelah lahirnya Kirana, perasaan Gibran kepada Karren semakin bertambah berkali-kali lipat.


Gibran tidak suka kalau Karren sampai kelelahan apa lagi sampai sakit, itulah kenapa Gibran ingin mempekerjakan baby sitter, hanya saja Karren menolak karena menurutnya hal itu tidak perlu karena Kirana juga jarang sekali rewel, Kirana hanya menangis saat mengantuk, lapar dan pup saja.


Melihat masakannya sudah tertata rapih di atas meja makan, Karren segera berjalan ke atas untuk memanggil suami, mami dan anaknya untuk sarapan bersama.


Sesampainya di ambang pintu kamar, mulut Karren terbuka lebar saat melihat kamar yang biasanya selalu rapih itu sekarang sudah seperti kapal pecah. Semua mainan Kirana berserakan di mana-mana, bahkan make up Karren pun ikut berserakan di mana-mana.


“Yaampun bb cushion ku!” teriak Karren dengan mata yang berkaca-kaca melihat putrinya baru saja memecahkan bb cushion yang baru saja Karren beli semalam.

__ADS_1


__ADS_2