DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 69 (MALAM MINGGU KELABU)


__ADS_3

“Karren kamu sama Gibran aja sana, tadi kamu ninggalin kunci mobil di meja eh ga sengaja kesenggol sama mami terus jatuh ga tau kemana jatuhnya.” Jelas Key.


“What, mam tapi kan aku mau pake mobil sendiri.” Balas Karren.


Key hanya menggelengkan kepalanya lalu memberi isyarat memakai tangannya agar Karren segera pergi bersama Gibran.


“Ayo Karren.” Ajak Gibran yang senang karena Key membantunya agar Karren bisa berangkat bersamanya.


Akhirnya dengan terpaksa Karren segera menyebrang jalan menuju rumah Gibran yang hanya lima langkah dari rumah layaknya lagu dangdut yang dulu sangat tenar hahahaha, tapi tidak lima langkah juga karena jalan yang menghalangi rumahnya dan Gibran cukup luas.


“Maafin kelakuan mami aku ya mas.” Ucap Karren.


Tidak apa-apa, memang sebaiknya kamu berangkat sama saya dari pada berangkat sendiri.” Ucap Gibran.


“Tapi nanti kamu merasa di repotkan.” Sindir Karren.


“Maaf karena kamu pasti sakit hati dengan kata-kata saya waktu itu.” Ucap Gibran yang merasa bersalah.


“Ya gitu deh, selama ini ga pernah ada laki-laki yang bilang gitu ke aku, jadi pas kamu bilang gitu rasanya sakit banget.” Balas Karren.


“Apa lagi waktu itu kamu bilang kayak gitu di depan bu Sarah, dan kamu juga lebih pilih bu Sarah, aku juga sampai sakit gara-gara pulang kehujanan.” Lanjut Karren.


Karren sengaja mengungkin kesalahan Gibran, itu adalah jurus paling jitu untuk mengingatkan laki-laki tentang kesalahannya seperti yang di lakukan Karren saat ini.


“Iya, maaf Karren saya salah.” Ucap Gibran yang ternyata mudah sekali mengakui kesalahannya, sampai membuat Karren tidak bisa berlama-lama marah padanya.


Karren mengangguk, dia fokus pada ponselnya membalas pesan grup yang sedang menggibahi Kevin karena kemarin Kevin benar-benar di obati dan di urus dengan baik oleh Trisna.


Bahkan Kevin tidak membiarkan Trisna untuk pulang sendirian, Kevin sendiri yang mengantar Trisna pulang sampai ke rumahnya dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun.


Karren tersenyum melihat pesan dari teman-temannya, mungkin sudah saatnya Karren melepaskan Kevin untuk wanita lain sekarang.


Gibran dari tadi ingin bicara, namun saat melirik ke arah Karren dia sepertinay sedang asik dengan ponselnya sampai Gibran tidak ingin mengganggu, tapi dia akhirnya mulai buka suara juga.

__ADS_1


“Karren...” panggil Gibran.


“Iya mas?” balas Karren sambil menoleh ke arah Gibran.


“Saya boleh tanya sesuatu sama kamu?” tanya Gibran.


Mendengar hal itu Karren segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya kembali dan langsung menoleh ke arah Gibran dengan mata yang fokus.


“Hem, mas mau tanya apa?” tanya Karren.


Gibran sangat menggemaskan saat itu, dia seperti sedang gugup padahal hanya ingin bertanya sesuatu saja, namun Gibran tidak kunjung buka suara juga membuat Karren sedikit tidak sabar.


“Mas mau tanya apa, tanya aja, apapun pertanyaan mas Gibran aku pasti jawab kok, aku ga akan marah.” Ucap Karren mencoba untuk meyakinkan Gibran yang tampak ragu.


“Setelah menikah nanti, apa kamu akan tetap pergi ke bar?” tanya Gibran yang di balas tawa oleh Karren.


“Kenapa ketawa?” tanya Gibran.


“Karena lucu hehe, baru kali ini ada laki-laki yang memberikan pertanyaan seperti itu kepadaku.” Balas Karren.


“Hemm,, aku tidak akan pergi ke bar lagi setelah menikah nanti, itulah kenapa papi dan mami mau aku mencari laki-laki yang baik agar bisa menuntun aku ke jalan yang benar.” Jelas Karren.


Mendengar ucapan Karren membuat Gibran sedikit lega, lalu tanpa Karren sadari senyum tipis terukir di wajah Gibran.


“Saya kira kamu tidak akan bisa lepas dari tempat itu.” Ucap Gibran.


“Pfftt,, selama ini aku ke tempat itu cuma buat bersenang-senang saja kok mas, itu juga gak terlalu sering juga kalo lagi bosan di rumah aja, jadi aku nggak masalah kalau memang harus lepas dari sana karena aku juga bukan orang yang kecanduan dengan hal seperti itu.” Jelas Karren.


“Syukurlah kalau begitu, saya tidak suka kalau kamu ke tempat seperti itu terus.” Ucap Gibran.


“Kenapa? tempat itu kan punya teman kamu.” Balas Karren.


“Tempat itu tidak baik untuk kamu, andai bisa sudah lama aku merobohkan tempat itu, sayangnya hal itu bisa membuatku masuk penjara dan sama saja aku menutup sumber rejeki temanku sendiri.” Ucap Gibran.

__ADS_1


“Terus kenapa aku beberapa kali lihat kamu ke tempat seperti itu?” tanya Karren.


“Pertama kali ke sana itu karena paksaan dari teman-teman saya dan kebetulan bertemu dengan kamu, selanjutnya saya ke bar karena kamu, saya memantau kamu dari jauh agar tidak ada laki-laki yang berani kurang ajar sama kamu.” Jelas Gibran.


Karren speechless mendengar ucapan Gibran, dia tidak percaya kalau Gibran sampai rela masuk ke tempat yang tidak dia sukai demi dirinya.


“Kamu serius mas? Kamu ke tempat itu hanya demi memantau aku?” tanya Karren yang masih tidak percaya.


“saya serius.” Ucap Gibran dengan yakin.


“Wah ternyata kamu sudah lama ya bucin sama saya.” Goda Karren sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Saya tidak bucin, saya hanya mengikuti kata hati saya yang terus menyuruh untuk memantau kamu.” Balas Gibran yang tidak mau di bilang bucin.


“Ah gitu ya, ga ngaku ya kalo di bilang bucin.” Goda Karren lagi.


“Karren, jangan menggoda saya seperti itu atau saya akan langsung menghalalkan kamu sekarang juga.” Tegas Gibran yang membuat Karren terkejut.


Karren menatap ke arah Gibran dengan tatapan gemas dan haru, bagaimana bisa hatinya kuat jika laki-laki di sampingnya teus menunjukkan kepeduliannya kepada Karren walaupun caranya berbeda.


“Kalo kamu ga mau aku ke tempat kayak gitu lagi, ajak aku jalan dong malam minggu jadi aku ga bosen di rumah.” Ucap Karren.


Gibran tampak berpikir sejenak lalu akhirnya tersenyum sebelum memberikan jawaban.


“Boleh, gimana kalo kita ikut pengajian di masjid, rame loh biasanya ada ibu-ibu juga jadi kamu bisa bersosialisasi dan mengenal banyak ibu-ibu.” Ucap Gibran.


Mendengar jawaban Gibran membuat Karren terkejut tidak percaya, bisa-bisanya dia mengajak Karren bermalam minggu di masjid.


“Mas,,, kamu kok tega banget sih..” protes Karren dengan wajah cemberut.


“Hahaha, saya bercanda Karren, kamu menggemaskan sekali sih, baiklah malam minggu ini saya akan mengajak kamu keluar agar kamu tidak bosan.” Ucap Gibran yang membuat mata Karren berbinar.


“Beneran ya mas? Kamu beneran mau ajak aku malem mingguan?” tanya Karren memastikan dengan antusias.

__ADS_1


“Iya Karren saya akan mengajak kamu keluar malam minggu ini.” Balas Gibran sambil tersenyum melihat Karren yang sangat antusias.


“Yes, yes yes!!” seru Karren senang karena akhirnya malam minggunya tidak akan kelabu lagi karena Gibran mau mengajaknya keluar.


__ADS_2