DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 85 (KOLOT)


__ADS_3

“Karren, bisakah kamu membiarkan saya konsetrasi sebentar saja?” tanya Gibran dengan baik-baik.


“Aku ga ganggu kok mas, aku cuma pengen manja ke calon suami emangnya ga boleh?” tanya Karren dengan wajah memelas menatap Gibran.


“Boleh, tapi nanti kalau kita sudah menikah.” Ucap Gibran.


“Yaudah aku ke rumah Darren aja kalo gitu!” ketus Karren yang langsung beranjak dari tempat duduknya namun Gibran menahan tangannya.


“Jangan ngambek, ayo duduk lagi.” Ucap Gibran.


Karren tidak menatap ke arah Gibran, dia menggelengkan kepalanya menandakan kalau dia tidak mau duduk kembali.


Gibran menghela nafas panjang, rasanya dia seperti sedang mengasuh anak kecil.


“Iya deh boleh.” Ucap Gibran.


Jawaban Gibran membuat Karren langsung menoleh, dia kembali mendekat kepada Gibran dan duduk di sebelah Gibran sambil menyandarkan kepalanya di bahu Gibran.


Emang dasarnya Karren tidak tau malu, mentang-mentang sudah di ijinkan oleh Gibran, Karren malah semakin berlebihan, dia sekarang sudah memeluk lengan Gibran layaknya guling.


Gibran hanya melirik Karren sekilas lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, Karren memang sangat agresif dan Gibran adalah korban dari ke agresifannya itu.


Karren kembali menonton film yang tadi dia stel, dia merasa sangat nyaman bersandar di bahu Gibran seperti ini, apa lagi parfum Gibran yang manly membuat Karren rasanya ingin memeluknya dengan erat, tapi sayang Karren hanya bisa memeluk lengannya saja.


“Mas..” panggil Karren setelah sejak tadi terdiam.


“Hmm.” Balas Gibran yang masih setia pada layar laptopnya.


“Lihat deh filmnya bagus.” Ucap Karren.


“Saya lagi kerja Karren.”


“Mas lihat dulu..” rengek Karren yang akhirnya terpaksa Gibran mendongakkan kepalanya.


“Astagfirullah Karren!” ucap Gibran lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Sedangkan Karren tertawa puas karena sudah berhasil mengerjai Gibran. Layar televisi itu menampilkan dua orang wanita yang sedang memakai bikini sedang berjemur di pantai.


Namun berbeda dengan Gibran, Karren malah semakin melotot saat melihat salah satu pemeran laki-laki sedang menghampiri dua wanita itu, tubuhnya berotot membuat Karren terkagum-kagum.


Namun tiba-tiba saja ada tangan yang mengalihkan kepala Karren sampai dia melihat ke arah Gibran.


“Jangan melihat film seperti itu Karren!” tegas Gibran dengan menatap mata Karren.


Jarak keduanya hanya berjarak beberapa centi saja membuat Karren berpikir kalau dia dan Gibran akan saling berciuman. Karren sudah memejamkan kedua matanya menunggu benda kenyal berwarna merah muda itu menempel di bibirnya.


Gibran yang melihat reaksi Karren hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu dia segera mengambil remote dan mematikan televisinya namun Karren masih belum sadar.


Setelah beberapa saat barulah dia menyadari sesuatu dan segera menatap tajam ke arah Gibran.


“Kenapa di matiin mas?!” teriak Karren yang membuat telinga Gibran hampir pecah.


“Aku bilang jangan menonton film seperti itu!” tegas Gibran.


“Tapi film itu seru mas, kamu aja terlalu kolot.” Balas Karren.


“Apa kamu bilang? Aku kolot? Enak aja!” ketus Gibran.


“Tapi tetap saja itu zina mata kamu tau? Pokoknya ga boleh nonton film seperti itu!”


“Terus aku nonton apa? Semua film Hollywood pasti ada yang kayak begitu.” Ucap Karren kesal.


“Ya kalo gitu nonton kartun aja.” Balas Gibran.


Karren cemberut, dia tidak suka menonton kartun, kalau maminya sih emang iya dari dulu bahkan sampai saat ini masih menyukai film barbie, sedangkan Karren sama sekali tidak menyukai film yang seperti itu.


Karren yang kesal dan tidak ingin berdebat lagi hanya bisa diam dan memanyunkan bibirnya, sedangkan Gibran terus fokus mengerjakan pekerjaannya.


***


Karren terbangun dari tidurnya dengan terkejut, dia kaget karena hari sudah terang sekali sedangkan Karren masih berada di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


Dengan segera Karren melangkah ke kamar mandi, dia hanya mandi bebek lalu segera memakai pakaian kuliahnya.


Kaki Karren melangkah dengan terburu-buru, atau lebih tepatnya berlari bukan berjalan. Karren melewati pintu yang hampir saja tertabrak olehnya.


Penampilan Karren saat ini jauh dari kata rapih, rambutnya dia urai biasa tanpa sempat mencatok, kancing kemejanya terbuka semua dan memperlihatkan tanktopnya, bawahannya celana jeans ketat dan untuk alas kakinya dia lebih memilih sepatu kets karena itu adalah sepatu yang cocok untuk di pakai berlari.


Dengan satu tangan memegang roti dan tangan satunya memegang kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya. Karren berlari menuju rumah Gibran sebelum Gibran benar-benar meninggalkannya.


Gibran baru saja mengirim voice note yang mengatakan kalau dia akan meninggalkan Karren jika dalam sepuluh menit Karren tidak keluar.


Jika saja Karren tidak ingat kalau jam pertama adalah jam mata kuliah Gibran, pasti Karren lebih memilih untuk berangkat bersama Darren atau membawa mobil sendiri daripada berangkat dalam keadaan kacau seperti ini.


Karren hanya bisa berdoa di dalam hati berharap semoga Gibran tidak berubah pikiran untuk menikahinya setelah melihatnya dengan penampilan acak-acakan seperti ini.


Hari ini Karren memang kesiangan karena semalam dia dan Darren menonton film sampai lewat tengah malam, tepat setelah Karren pulang dari rumah Gibran, Darren datang ke rumahnya dan menceritakan keadaan Kevin kepada Karren.


Sangking asiknya mengobrol membuat mereka lupa waktu, Karren dan Darren yang belum merasa mengantuk pun memilih untuk menonton film horor yang semakin membuat Karren kesulitan memejamkan matanya karena terbayang-bayang wajah hantu yang muncul di film.


Jika bukan karena maminya yang mengeluarkan suara menggelegarnya dan menyiprat wajahnya dengan air Karren mungkin masih tertidur sampai sekarang.


Gibran menatap kesal ke arah Karren, perempuan itu sedang berlari dengan memakan roti, sedangkan penampilannya saat ini berhasil membuat Gibran geleng-geleng kepala.


“Maaf mas, aku kesiangan.” Ucap Karren sambilmemasang tampang memelas.


Semoga saja wajahnya yang memelas ini berhasil membuat Gibran merasa iba dan memaafkannya.


Wajah Gibran yang biasanya kaku seperti kanebo kering sekarang semakin kaku saat menyadari jarum jam di tangannya terus berputar sedangkan Karren baru muncul di hadapannya.


Gibran sudah yakin kalau hari ini dia pasti akan terlambat mengajar dan itu semua karena Karren.


Andi saja Gibran tidak mengingat kalau Karren adalah tunangannya, pasti Gibran sudah meninggalkan perempuan itu.


Tanpa membalas ucapan Karren, Gibran langsung masuk ke dalam mobil, wajahnya tetap datar membuat Karren merasa bersalah.


Karren ikut masuk ke dalam mobil, kali ini Karren memutuskan untuk tidak memulai pembicaraan karena aura menyeramkan yang keluar dari tubuh Gibran membuat Karren merasa jika dia harus diam jika ingin tetap aman.

__ADS_1


Roti yang awalnya masih beberapa gigitan saat ini sudah habis seutuhnya, Karren meminum kopinya sedikit lalu segera mengancingkan kemejanya.


Jujur saja, Karren merasa aneh karena Gibran tidak menegurnya saat laki-laki itu melihat Karren memakai kemeja yang masih belum dikancingkan semuanya, mungkin rasa kesalnya membuat Gibran malas untuk berbicara dengan Karren.


__ADS_2