
Terimakasih semua dukungan dan doa terbaik dari kakak-kakak, kalian semua emang penyemangan author banget huhuhu jadi terharu deh...
Maaf author ga bisa bales satu-satu tapi author pasti akan luangin waktu buat baca semua komentar dari kakak-kakak semuanya,, Saranghaee~~
***
Gibran berjalan mondar-mandir dengan perasaan gelisah, tidak jauh dari tempatnya berdiri, Bernard sedang menenangkan Key yang sejak awal di beritahu menangis sesegukan.
Ada Darren dan Kevin juga yang tidak kalah panik, mereka semua sedang berada di depan ruang VIP, menunggu hasil pemeriksaan dokter dengan rasa cemas yang semakin lama semakin bertambah karena dokter tak kunjung keluar.
Bernard sudah menjebloskan Srah ke penjara, walaupun sebenarnya Bernard ingin melakukan seperti yang biasa dia lakukan bersama mertuany dan iparnya dulu, tapi Darren dan Kevin melarangnya karena Sarah juga perempuan.
Meskipun keluarga Sarah memohon agar Sarah tidak di masukkan ke penjara dan agar Sarah di maafkan, tetapi Key tidak mengabulkan permohonan keluarga Sarah.
Key tidak ingin mengambil resiko, karena ini menyangkut tentang keselamatan putrinya. Sekarang saja dia belum tahu apakah anaknya baik-baik saja atau tidak.
Key tidak mungkin membebaskan orang yang sudah membuat putrinya tidak berdaya, Key tidak sebaik itu. Key bisa menjadi malaikat ataupun menjadi iblis tergantung situasinya.
Sebaiknya sebelum menyelakai Karren, Sarah lebih dulu mencari tahu seperti apa keluarga Karren agar dia berpikir ulang jika ingin bermain-main dengan Karren.
Key bisa melakukan apa pun kepada orang yang berani mengusik hidupnya, tadi sebelum Bernard memasukkan Sarah ke penjara, Key lebih dulu menampar Sarah sampai bibirnya sobek.
Namun itu hanyalah trailler dari hukuman untuk Sarahy, jika keadaan Karren sampai memburuk, Key tidak akan segan membuat perempuan itu menyesal seumur hidupnya karena sudah berurusan dengan keluarga Adibrata.
Key tidak pernah sedikitpun berpikir untuk membebaskan Sarah dari penjara, karena obsesinya kepada Gibran yang bisa saja melukai Karren lebih parah dari saat ini.
Setelah beberapa menit akhirnya dokter keluar dari ruangan Gibran, semua orang segera menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaan Karren.
“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Bernard yang langsung menyambar sang dokter dengan pertanyaan.
Bernard berharap penjelasan dokter bisa sedikit mengurangi rasa khawatirnya akan keadaan putri semata wayangnya itu.
“Pasien mungkin tidak sadarkan diri untuk sementara waktu, karena benturan keras di kepalanya...”
“Tidak sadarkan diri? Tapi anak saya pasti selamat kan dok?” potong Key di sela-sela pembicaraan dokter itu.
__ADS_1
Kebetulan dokter yang menangani Karren adalah teman Kalandra kakek Karren, tentu saja dokter itu sudah lebih dulu menghubungi Kalandra, padahal Key dan Bernard ingin menyembunyikan hal ini dari papi mereka tapi terlambat sudah karena Kalandra sedang berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Kita doakan saja yang terbaik untuk putri kalian, dia adalah cucu sahabatku, tentu saja dia akan baik-baik saja.” Balas dokter tersebut.
“Tapi Karren ga akan amnesia kan dok?” tanya Darren yang tiba-tiba membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Darren yang merasa menjadi pusat perhatian langsung menelan salvilanya.
“Emm, itu karena biasanya di sinetron orang yang kepalanya terbentur akan mengalami amnesia.” Jelas Darren dengan suara yang pelan namun masih bisa di dengar oleh semua orang.
Darren hanya merasa kasihan kepada Karren jika dia mengalami amnesia maka semua pelajaran yang sudah menyangkut di otaknya selama TK sampai saat ini akan hilang begitu saja.
Sudah otak Karren pas-pasan, masa dia harus kehilangan ingatannya juga? Jika Karren melupakannya sih tidak masalah, itu artinya Karren akan melupakan hutang yang Darren miliki.
Dokter yang menangani Karren tertawa mendengar pertanyaan lucu yang terlontar dari mulut Darren.
“Tidak akan amnesia kok karena lukanya tidak seserius itu.” Balasnya.
Semua orang bernapas lega, walaupun otak Darren adalah otak sinetronable, tapi pertanyaan yang muncul dari otaknya itu membuat semua orang tahu jika peluang Karren untuk sembuh cukup besar.
“Boleh, maksimal tiga orang yang boleh masuk.” Balas dokter tersebut.
“Jika sudah tidak ada yang di tanyakan lagi, saya permisi.” Ucap dokter tersebut lalu pergi.
Semua orang saling memandang satu sama lain, mereka sedang memutuskan siapa yang akan masuk lebih dulu.
“Om sama tante masuk duluan aja.” Ucap Gibran mempersilahkan Bernard dan Key masuk lebih dulu.
Kedua orang itu mengangguk lalu segera masuk ke dalam ruangan secara bersama-sama.
Sekarang hanya tinggal Gibran, Darren dan Kevin saja di depan ruangan, mereka kembali duduk menunggu dengan perasaan cemas.
Walaupun dokter sudah mengatakan kalau keadaan Karren tudak terlalu buruk, tapi tetap saja perasaan khawatir mereka tidak bisa di tutupi.
Gibran yang awalnya sedang menunduk seketika mendongakkan kepalanya melihat ke arah Kevin yang sedang duduk di sebelah Darren bersebrangan dengan tempat Gibran duduk.
__ADS_1
“Kevin.” Panggil Gibran.
Kevin langsung menoleh saat namanya di panggil, Darren yang ada di sebelahnya pun ikut melihat ke arah Gibran. Darren ingin memastikan kalau keduanya tidak akan membuat keributan di rumah sakit.
“Iya pak?” sahut Kevin.
“Terimakasih karena sudah menemukan Karren dan merekam bukti kejahatan Sarah, mungkin Karren tidak akan bisa di temukan sampai sekarang kalau kamu tidak lewat di depan toilet.” Ucap Gibran.
“Sama-sama pak, sebagai sahabat Karren, saya juga merasa punya kewajiban untuk menjaga Karren.” Ucap Kevin.
Gibran hanya menganggukkan kepalanya lalu dia kembali melihat ke arah pintu ruangan Karren yang masih tertutup.
Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, andai saja tadi dia mengijinkan Karren untuk pulang lebih dulu maka kejadian ini tidak akan terjadi.
Gibran merasa tidak berguna sebagai tunangan Karren karena dia tidak bisa menjaga Karren dengan baik, bahkan Karren sampai terluka saat dia berada di dekat Gibran.
Pintu ruangan Karren terbuka, Bernard dan Key keluar dari ruangan. Terlihat mata Key masih berair, mungkin dia tadi menangis saat berada di dalam.
“Masuklah, tapi tidak banyak yang bisa kamu lakukan di dalam sana.” Ucap Bernard mempersilahkan Gibran masuk ke dalam.
Gibran hanya mengangguk mengiyakan ucapa Bernard, lalu Girban segera masuk ke dalam ruangan Karren.
Dia melangkah mendekati tempat tidur pasien yang di atasnya terdapat Karren sedang memejamkan kedua matanya.
Gibran merasa semakin sedih saat melihat wajah yang biasanya ceria dan suka menggodanya itu sekarang malah terlihat pucat.
Kepala Karren di lilit perban dan juga alat pernapasan yang terpasang di hidungnya membuat hati Gibran hancur.
Gibran duduk di kursi sebelah tempat tidur pasien, tatapan sendunya menatap tubuh Karren dan atas sampai bawah.
Gibran masih tidak menyangka perempuan yang tadi pagi masih mengoceh layaknya burung beo itu sekarang sedang berbaring lemah tanpa bisa menatapnya dan mengucapkan sepatah katapun.
Seketika tangan Gibran mengepal dengan mata yang menatap tajam saat tidak sengata matanya melihat bekas cengkraman kuku di leher Karren.
Dia sekarang tahu apa saja yang sudah di perbuat Sarah kepada calon istrinya itu. Dan Gibran sangat kecewa kepada wanita yang dia anggap sahabat itu.
__ADS_1