DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 22 (KECEWA)


__ADS_3

Sesampainya di kampus, seperti biasa Karren turun lebih dulu, namun sebelum berjalan ke dalam kampus, Karren menoleh lebih dulu ke arah Gibran.


“Nanti makan siang bareng ya mas..” ucap Karren dengan suara yang manja.


Tentu saja Gibran tidak bisa menolak jika Karren meminta dengan wajah menggemaskan seperti itu, dan akhirnya Gibran mengangguk mengiyakan permintaan Karren.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Gibran barulah Karren meninggalkan parkiran dan masuk ke dalam kampus.


Karren mengikuti kelas dengan bersemangat mengingat kalau dirinya akan makan siang bersama Gibran nanti membuat teman-temannya menatap aneh ke arah Karren.


“Ren, lo gila ya?” tanya Silvia.


“Apa sih Sil? Gue waras kok.” Balas Karren.


“Terus lo kenapa kayaknya semangat banget, lo biasanya paling males nih pelajaran sejarah begini.” Ucap Silvia.


“Yaampun sejak kapan gue males kalo kuliah sih Sil? Gue semangat banget loh.” Ucap Karren.


Silvia tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya menghela nafas panjag dan menggelengkan kepala karena tau kalau di teruskan Karren akan semakin gila.


Mata kuliah siang ini pun selesai, masih beberapa jam lagi untuk ke mata kuliah selanjutnya.


Karren dengan semangat merapihkan semua buku-bukunya sambil bersenandung, benar-benar hal yang sangat langka melihat Karren Adibrata bersenandung saat kuliah.


“Beb? Lo kenapa?” tanya Kevin yang baru saja menghampiri Karren dan mendengar Karren bersenandung.


“Gue kenapa emang Vin? Gue baik-baik aja kok.” Balas Karren.


“Lo seneng banget hatinya, ada apa?”


“Kepo lo ah!” ketus Karren yang membuat Kevin mengendus kesal.


Tiba-tiba saja saat Karren sudah siap untuk menggantung tas di pundaknya, satu pesan masuk di ponsel Karren.


Karren segera melihat pesan di ponselnya karena dia tau kalau itu pasti pesan dari Gibran.


Gibran Mahardika :

__ADS_1


Karren, maaf saya tidak bisa makan siang denganmu karena saya ada rapat dadakan


dengan para dosen.


Setelah membaca pesan dari Gibran, Karren yang awalnya semangat langsung lemas dan menghembuskan nafas panjang, padahal dia sudah sangat senang karena akan makan siang bersama Gibran, tapi yang di dapatkan malah hal yang mengecewakan, namun bagaimanapun juga Karren harus mengerti dengan hal itu.


Karren Adibrata :


Iya ga apa-apa mas.


Karren melihat ke arah teman-temannya, tadi dia sudah menolak ajakan Silvia untuk makan siang bersamanya, tapi ternyata Silvia dan yang lain sudah pergi dan di dalam kelas hanya ada dirinya saja.


“Mereka kalo pergi cepet amat dah.” Gumam Karren yang akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin menyusul yang lain.


Karren yang awalnya sangat ceria mendadak menjadi lesu, dia berjalan dengan tidak niat bahkan sampai mengabaikan sapaan para penggemarnya.


Sesampainya di meja teman-temannya, Karren segera duduk di sebelah Kevin dan membungkukkan tubuhnya menyandarkan kepalanya di atas meja dengan wajah yang melihat ke arah Kevin.


“Lo kenapa beb? Kok di sini? Katanya ga bisa makan siang bareng kita?” tanya Kevin.


“Gue tadinya mau makan siang sama pak Gibran, tapi dia rapat ga jadi deh.” Jawab Karren.


Silvia yang ada di meja yang sama dengan Karren juga sibuk melihat ponselnya mengurus kerjaannya, hal itu membuat Karren merasa bosan dan kesepian dan akhirnya Karren memutuskan untuk melihat ponselnya juga membuka sosial medianya dan membalas beberapa komentar dari para penggemarnya.


Saat itu Kevin sudah memesan kulit ayam goreng yang baru saja datang, kedua mata Karren terbuka lebar saat melihat kulit ayam favoritnya itu.


“lo pesen kulit ayam Vin?” tanya Karren kepada Kevin.


“Iya, kesukaan lo kan?”


“Ah Kevin baik banget sih!!!” seru Karren yang langsung memakan kulit ayam tersebut sambil menyocolnya ke saus yang di sediakan di sana.


Beberapa kali Kevin meminta Karren untuk menyuapinya dan tentu saja Karren dengan senang hati menyuapkan kulit ayam tersebut ke mulut Kevin hingga membuat para mahasiswa yang ada di dalam kantin baper melihat mereka berdua.


Tidak lama kemudian, Gibran dan Sarah masuk ke dalam kantin setelah rapat selesai dan mereka ingin makan siang sebelum masuk ke kelas berikutnya.


Keduanya melihat ke sekeliling kantin untuk mencari kursi kosong, namun yang Gibran temukan bukanlah kursi kosong, melainkan pemandangan Karren dan Kevin yang sedang suap-suapan.

__ADS_1


“Apa laki-laki itu tidak memiliki tangan sampai harus di suapi? Lagian ngapain juga dia membelai rambut Karren seperti itu, Karren juga kenapa diam saja di perlakukan seperti itu?” batin Gibran di dalam hatinya.


“Kita duduk di pojok aja yuk, tuh ada yang baru pergi.” Ajak Sarah yang membuat Gibran yang masih menatap ke arah Karren dan Kevin tersadar.


Gibran menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Sarah yang berjalan menuju meja yang ada di pojok, kedua mata Gibran terus menatap ke arah meja Karren yang belum menyadari keberadaannya di sana.


Gibran dan Sarah duduk di meja yang posisinya membelakangi Karren sehingga Karren tidak sadar kalau Gibran dan Sarah ada di sana.


Sedangkan Silvia yang baru saja menyelesaikan pekerjaanya segera mendongak dan ingin memesan makanan lagi, namun pandangannya tanpa sengaja menangkap seseorang yang membuatnya tidak jadi memesan makanan.


“Lo yakin pak Gibran lagi rapat Ren?” tanya Silvia karena tadi dia mendengar dari Akrren kalau Gibran sedang ada rapat dadakan dengan para dosen yang lain.


Mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu membuat Karren melihat ke arah Silvia dan menghentikan aktifitasnya memakan kulit ayam yang sudah tinggal sedikit.


“Iya tadi dia bilangnya gitu sih.” Balas Karren.


“Kayaknya dia sengaja bilang gitu ke lo biar bisa makan bareng sama bu Sarah.” Ucap Silvia yang menunjuk ke arah belakan Karren dengan dagunya.


Karren yang mendengar hal itu segera menoleh ke belakang sesuai dengan yang di tunjuk oleh Silvia.


Dan benar saja, karren melihat dengan sangat jelas kalau Gibran dan Sarah sedang duduk bersama dan berbincang dengan asiknya tanpa memperdulikan para mahasiswa yang sedang menatap dan membicarakan mereka.


Di samping meja Karren dan teman-temannya, ada beberapa mahasiswa yang mengatakan kalau Gibran dan Sarah sangat serasi dan bergosip kalau hubungan keduanya lebih dari sekedar rekan kerja.


Hal itu membuat telinga Karren panas, Karren tidak suka mendengar tentang Gibran dan Sarah yang di jodoh-jodohkan.


Karren juga merasa kecewa kepada Gibran yang sudah berbohong kepadanya, kenapa tidak jujur kalau Gibran lebih memilih makan siang dengan Sarah di bandingkan dengannya.


Kevin yang mengetahui kalau Karren terlihat kecewa langsung merangkulnya dan mengacak-acak rambut panjang Karren.


“Ga usah sedih lah beb, lo sama gue aja mendingan! Ga usah berusaha deket sama laki-laki lain, toh lo ujung-ujungnya balik sama gue lagi.” Ucap Kevin.


“Gue juga lebih dukung lo sama Kevin Ren, pak Gibran terlalu baik buat lo.” Sahut Darren yang dari tadi padahal hanya diam saja.


Karren mendengus kesal, segitu tidak cocoknya kah dia dengan Gibran? Apa dia benar-benar seburuk itu untuk laki-laki sebaik Gibran?


“Gue kan udah bilang sama lo Ren, kalo pak Gibran sama bu Sarah tuh ada sesuatu, sekarang udah kebukti kan? Lo liat sendiri kan, dia lebih milih bu Sarah dari pada lo.” Sahut Silvia.

__ADS_1


Ucapan Silvia berhasil mengganggu pikiran Karren, meskipun sudah berusaha untuk membantah, tapi yang di katakan Silvia memang benar. Kenyataan Gibran lebih memilih Sarah di bandingkan dirinya membuat kepercayaan Karren menurun.


__ADS_2