
“Yaampun bb cushion ku!” teriak Karren dengan mata yang berkaca-kaca melihat putrinya baru saja memecahkan bb cushion yang baru saja Karren beli semalam.
***
Mendengar teriakan Karren membuat Kirana terkejut dan seketika mata gadis kecil itu berkaca-kaca karenanya.
“Karren! Lihat Kirana jadi mau menangis mendengar teriakanmu!” ketus Key memarahi putrinya.
Karren yang tanpa sadar sudah berteriak di hadapan putrinya itu langsung menutup mulutnya, dia merasa bersalah karena sudah membuat putri kecilnya menangis.
Dengan segera Karren menggendong Kirana dan tersenyum manis padanya agar tidak membuat Kirana menangis dan takut padanya.
“Maaf ya sayang, mama ga marah kok sayang, lihat mama tersenyum kan?” ucap Karren yang berusaha untuk menenangkan putrinya agar tidak jadi menangis, namun kedua mata Karren melirik Gibran.
Gibran yang di lirik seperti itu langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum penuh dengan rasa bersalah.
“Jangan menangis ya sayang, nanti papa akan belikan yang baru buat mama.” Ucap Karren sambil tersenyum sinis ke arah Gibran.
“Iya sayang, papa akan ganti rugi biar mama ga teriak lagi ya.” Balas Gibran sambil tersenyum ke arah Kirana yang sudah mulai tenang.
Tentu saja Gibran akan bertanggung jawab meskipun dia tahu harga satu make up itu cukup mahal. Namun, Gibran tidak masalah dari pada Karren marah padanya dan berujung tidur memunggunginya. Bisa-bisa Gibran akan puasa beberapa hari karena insiden make up pecah itu jika tidak di ganti secepatnya.
__ADS_1
Gibran kembali mengambil alih Kirana saat bayi mungil nan cantik itu sudah mulai tertawa kembali, dan keduanya kembali bercanda begitu juga dengan Key yang ikut tertawa melihat tingkah lucu Gibran yang berusaha membuat Kirana tertawa.
Begitu juga dengan Karren yang tersenyum melihat interaksi tiga orang yang sangat di cintainya itu. Dia bahagia karena memiliki mereka semua. Ternyata memiliki suami dan anak tidak semenyeramkan apa yang ada di bayangannya.
Apa lagi memiliki anak seperti Kirana yang sudah terlihat pintar, bahkan di usianya yang satu tahun ini dia sudah cepat tanggap dan mulai berbicara sepatah kata demi kata.
Karren bersyukur karena Kirana memiliki kepintaran yang di miliki Gibran, karena anaknya itu lebih tanggap di bandingkan dengan anak-anak lain seusianya.
“Cuci muka dulu sana mas, aku tunggu di meja makan, mami juga ya mam.” Ucap Karren yang di balas anggukan oleh Gibran namun tidak dengan Key.
“Mami ga makan di sini, mami ke sini cuma mau lihat Kirana aja, sekarang mami mau pulang karena papi kalian pasti sudah menunggu mami.” Jelas Key.
“Baiklah, ayo aku antar sampai depan mam.” Balas Karren sambil menggendong Kirana karena Gibran harus mencuci muka lebih dulu karena wajahnya penuh dengan bedak yang di peperkan oleh Kirana tadi.
“Pap, papi mau jemput mami ya?” tanya Karren yang sudah tahu kalau papinya akan menjemput sang istri.
“Iya, mami kamu kalo udah ke rumah kamu pasti lupa kalo masih punya suami.” Ucap Bernard sambil menoleh ke arah Key yang saat ini sedang memamerkan gigi putihnya.
“Sudahlah mami pulang sana, aku ga mau jadi pengganggu deh.” Ucap Karren bercanda.
Key hanya memutar bola matanya lalu dia berjalan mendekati suaminya. Namun sebelum Bernard dan Key kembali ke rumahnya, kedua orang tua Karren lebih dulu menciumi pipi mungil Kirana sampai bayi mungil itu merengek sambil mendorong wajah opa dan omanya.
__ADS_1
“Yaampun pipi Kirana nanti habis kalo di ciumin gitu terus.” Ucap Karren.
Akhirnya Bernard dan Key melepaskan Kirana dan mereka berdua langsung pulang ke rumah mereka. Setelah kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah barulah Karren membawa putrinya masuk ke dalam rumah.
Gibran yang sudah mencuci wajahnya itu langsung duduk di meja makan saat Karren juga berjalan dan duduk di meja makan dengan Kirana di pangkuannya.
Karren lebih dulu menyuapi putrinya, karena tidak mungkin dia makan di saat perut Kirana belum kenyang, putri kecilnya itu akan heboh kalau melihat orang tuanya makan.
Gibran mengambil porsi makan yang lebih banyak karena dia berniat untuk menyuapi Karren yang sedang sibuk dengan putri mereka.
Gibran memang seperti itu, jika Karren sedang menyuapi Kirana maka Gibran akan menyuapi Karren agar mereka bisa makan bersama tanpa ada yang ketinggalan, karena kalau tidak di suapi maka Karren akan makan setelah suami dan anaknya makan.
Karren menerima suapan Gibran dengan senang hati, dia sangat bahagia memiliki suami seperti Gibran, begitu juga dengan Gibran yang beruntung memiliki Karren yang sangat mencintainya dan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka.
Mereka berharap bisa saling memiliki dan mencintai satu sama lain sampai maut memisahkan, dan mereka berdua berdoa agar di surga nanti mereka akan bertemu kembali, dan di kehidupan selanjutnya mereka pun akan di persatukan kembali.
***
Huaaaa, akhirnya novel Dosen Cinta Karren Adibrata TAMAT!!!
Terimakasih banyak atas dukungan kakak-kakak semua yang sudah dengan sabar membaca nobel author yang satu ini, kalian semua luar biasaaaaa....
__ADS_1
Dukung terus karya-karya author dan sabar terus menunggu kelanjutan novel-novel author yang belum tamat yaaa, author akan tetap menamatkan satu per satu novel author ya, jadi mohon di tunggu... saranghaeee~~