
Rasa bahagia di awal kehamilan perlahan menjadi menyebalkan untuk Karren saat Gibran terus menerus melarangnya melakukan ini dan itu.
Namun, di antara semya hal yang tidak Karren sukai dari apa yang di lakukan Gibran, ada hal yang di sukai oleh Karren. Gibran membantunya mengerjakan skripsi karena takun kalau Karren merasa stress dan berakibat pada kehamilannya.
Karren sangat bersyukur untuk yang satu itu, Gibran tidak mungkin mau membantunya andai saja Karren tidak hamil, untung saja Karren hamil di waktu yang tepat dan Karren akan berterimakasih kepada anaknya nanti saat dia sudah lahir.
“Kenapa lo cemberut gitu sih Ren?” tanya Darren.
Karren menoleh pada sepupunya itu, “Gue bosen Ren, masa dari tadi gue duduk terus, gue juga kan pengen bantuin bersih-bersih. Yang lain bersihin rumah lah gue yang punya rumah malah duduk santai di sini.” Ucap Karren.
“Udah lah di sini aja makan buah sama gue, lo kan lagi hamil ga baik kalau capek-capek.” Ucap Darren.
Karren berdecak kesal, ternyata sepupunya ini juga tidak mengerti dengan apa yang dia inginkan.
“Gue ga akan capek kalo cuma karena angkat beberapa piring aja Ren.” Ucap Karren.
“Udah lo nurut aja lah Ren, lagian sejak kapan sih lo suka bersih-bersih? Dulu kan lo paling males kalau di suruh bersih-bersih.” Ucap Darren.
Ucapan Darren membuat Karren ikut berpikir, dia juga bingung sejak kapan dia suka bersih-bersih begini, dulu Karren mau bersih-bersih kalau dia ingin sesuatu saja.
__ADS_1
Entah kenapa akhir-akhir ini Karren memang sangat suka melakukan pekerjaan rumah, dia bahkan sampai merengek kepada Gibran agar membiarkannya untuk membersihkan kamar mereka sendiri.
Tentu saja Gibran menolak, tapi akhirnya dia hanya bisa pasrah dan setuju setelah melihat Karren menangis. Hormon kehamilannya membuat Karren menjadi sensitif dan alhamdulillah Gibran cukup sabar menghadapi sikap Karren.
Sekarang Gibran tidak pernah marah-marah lagi kepada Karren, bahkan nada bicaranya pun semakin manis.
“Huekk,, hueekk...” perut Karren tiba-tiba saja terasa mual.
Karren langsung menutup mulutnya sendiri, sedangkan tangan satunya lagi memukul tubuh Darren berharap Darren akan segera pergi karena sumber mual yang di rasa Karren berasal dari wangi parfum yang di pakai Darren.
Suara muntahan Karren membuat semua orang yang sedang bekerja menghentikan kegiatannya dan segera menghampiri Karren dengan panik.
“Suruh Darren pergi.” Jawab Karren dengan lemas dan suara yang tidak terlalu jelas karena mulutnya masih di tutupi oleh tangannya.
“Kenapa gue di suruh pergi?” tanya Darren dengan tatapan tidak suka.
Pasalnya sejak tadi dia duduk di situ dan Karren yang ada di sebelahnya juga tidak kenapa-kenapa, lalu kenapa tiba-tiba Karren malah menyuruhnya pergi?
“Parfum lo bikin gue mual Ren!” ucap Karren.
__ADS_1
Gibran langsung mendekap tubuh Karren, menghadapkan wajah Karren ke dadanya berharap agar dengan cara itu Karren tidak bisa mencium wangi parfum Darren lagi.
“Cepat pergi Ren!” perintah Ken.
“Makanannya belum habis pi.” Balas Darren.
“Bawa pulang sana!” ucap Ken kembali.
Mata Darren seketika berbinar senang, doa mengangguk lalu segera membawa beberapa piring makanan dan segera kabur dari sana.
“Ayo ke kamar aja, kamu pasti kecapekan.” Ajak Gibran yang langsung menuntun Karren ke kamar.
Keluarga mereka juga sudah berpamitan pulang karena tanpa sadar hari sudah mulai malam.
“Aku mau ganti baju dulu mas.” Ucap Karren saat Gibran menuntunnya ke ranjang.
“Mau aku antar?” tanya Gibran.
Karren menggeleng sambil tertawa, “Aku ga selemah itu loh mas, aku bisa ganti baju sendiri kamu ga usah berlebihan deh.” Ucap Karren.
__ADS_1
Gibran hanya menganggukkan kepalanya, Karren segera mengambil piyama di lemari lalu memakainya di kamar mandi. Setelah berganti baju barulah Gbran bergantian mengganti bajunya lalu keduanya segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.