
Jari Karren terus menekan remote dengan tidak sabaran, wajahnya terlihat bete, bibirnya sudah maju beberapa senti.
Karren merasa bosan, tayangan di televisi tidak ada yang menarik. Sebenarnya ada acara komedi yang menarik menurut Karren, tapi acara itu baru saja selesai.
Dan sekarang Karren sedang mencari acara lain untuk dia tonton selanjutnya. Sayangnya, dia tidak kunjung menemukan acara yang menurut Karren benar-benar menghibur. Bukan sinetron yang penuh dengan konflik yang saat ini bertebaran di pertelevisian Indonesia.
Sebenarnya menonton TV seperti ini juga bukan keinginan Karren, bahkan bisa di bilang Karren sangat jarang menonton TV. Namun malam ini dia terpaksa menonton TV karena dia tidak tau harus melakukan apa.
Dulu sebelum menikah Karren tidak pernah merasa bosan seperti sekarang ini, malah bisa di bilang dia jarang merasa kesepian. Banyak yang bisa dia lakukan seperti hangout bersama teman-temannya, ikut bersama Darren dan Kevin nongkrong, atau sekedar berinteraksi dengan para penggemarnya.
Semua itu sudah tidak bisa dia lakukan lagi sekarang, suaminya yang posesif itu sering kali cemburu jika tahu Karren masih suka merespons laki-laki lain. Karren tidak ingin membuat masalah di usia pernikahan mereka yang masih belum genap seminggu.
Dan akhirnya Karren pun memilih menuruti ucapan Gibran, dia sudah tidak lagi membalas pesan para penggemarnya yang sekarang sudah berkurang drastis setelah tahu kalau Karren sudah menikah dengan Gibran sang dosen killer yang terkenal sangat galak.
Mereka semua tidak ingin membuat masalah dengan Gibran yang kemungkinan bisa menghambat masa depan mereka.
Karren mematikan televisinya setelah tidak menemukan acara yang menarik untuk di tonton, dia memilih untuk memainkan ponselnya, sudah lama dia tidak membuka media sosialnya. Terakhir kali dia membuka akun media sosialnya saat sore hari dan sekarang sudah malam hari.
Aplikasi pertama yang di buka Karren adalah aplikasi WA, dia ingin melihat apakah ada pesan penting yang masuk. Tapi bukannya pesan penting yang masuk, melainkan pesan dari sahabat-sahabatnya yang menanyakan hal-hal kurang ajar.
“Ciee yang udah jebol...”
“Gimana rasanya Ren? Mantap pasti.”
“Gibran tahan berapa lama Ren? Pacar gue yang sekarang pengusaha obat kuat nih, Gibran bersedia jadi brand ambassador nya ga?”
“How? Big or small? Long or short? Jawab jawab!”
“Jangan lupa pakai pengamanan Ren! Lo ga mau kan nanti pas wisuda sambil gendong anak?”
Membaca semua chat dari teman-temannya membuat wajah Karren memerah, dasar memang teman-temannya itu kampret semua! Bayangan first night nya dan Gibran kembali berputar di otak Karren.
__ADS_1
Bagaimana gagahnya Gibran, seksinya tubuh Gibran yang berotot, dan wajah tampannya yang berhasil menghipnotis Karren sampai tidak bisa melihat ke arah lain.
“Kampret emang! Gara-gara manusia-manusia ga ada akhlak itu pikiran gue jadi mesvm!” gumam Karren sambil menutupi wajahnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, berharap agar bayangan itu bisa hilang dari otaknya.
Karren memasukkan ponselnya ke dalam saku celana pendeknya lalu melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Gibran untuk menemui suaminya itu.
Karren membuka pintu ruang kerja Gibran dengan perlahan, terlihat gibran yang masih berkutat dengan laptopnya, kacamata baca juga membingkai matanya membuat Gibran semakin seksi.
Satu fakta yang Karren ketahui setelah menikah, ternyata selain jadi dosen Gibran juga mengurus resort milik papanya. Pantas saja pekerjaan Gibran seperti tidak ada habisnya, Gibran juga beberapa kali meeting lewat laptopnya.
Mendengar suara pintu di buka membuat Gibran melirik ke arah pintu sekilas lalu kembali menatap layar laptopnya setelah mengetahui kalau Karren yang masuk.
Hal itu membuat bibir Karren kembali manyun, sifat cuek Gibran memang sudah mendarah daging, bahkan setelah menikah dan mereka sudah SAH saja Gibran masih cuek.
“Belum selesai mas?” tanya Karren sambil berjalan mendekat dan memeluk leher Gibran dari belakang.
“Belum, kalau mau tidur, kaku tidur duluan saja.” Ucap Gibran lalu mencium pipi Karren sekilas dan kembali membaca berkas-berkas.
“Boleh.” Jawab Gibran.
“Sebentar.” Ucap Karren yang langsung mengambil cangkir Gibran yang kosong dan beranjak menuju dapur.
Dia mulai membuatkan Gibran kopi dengan takaran yang pas seperti biasanya karena Gibran sangat menyukai kopi buatannya.
Tidak lama kemudian Karren kembali dengan membawa secangkir kopi hitam, dia meletakkannya di atas meja kerja Gibran.
“Terimakasih sayang.” Ucap Gibran yang langsung menangkup pipi Karren lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir Karren yang berwarna merah muda.
Karen terkejut, selain karena Gibran menciumnya tiba-tiba, panggilan Gibran untuknya juga berhasil membuat tubuh Karren menegang dengan pipi yang memerah.
Dari mereka akad,sampai sekarang baru kali ini Gibran memanggil Karren dengan sebutan ‘sayang’. Biasanya laki-laki itu hanya memanggil Karren dengan namanya, begitu saja Karren sudah senang karena nada bicara saat Gibran memanggilnya sangat lembut.
__ADS_1
Karren hanya bisa mengangguk membalas ucapan terimakasih yang Gibran ucapkan.
“Aku tunggu kamu di sini aja deh, acara TV nya ga ada yang bagus.” Ucap Karren.
Karren segera berjalan menuju sofa lalu duduk di sana sembari memainkan ponselnya, sedangkan Gibran hanya melihat sang istri yang sedang memainkan ponselnya.
“Kamu ga ngantuk?” tanya Gibran.
“Engga, aku tidurnya nunggu kamu aja biar ada yang peluk aku.” Balas Karren dengan nada manja membuat Gibran tersenyum.
Keberadaan Karren cukup membuat Gibran merasa terhibur setelah kepalanya pusing memikirkan pekerjaan yang menumpuk.
“Meskipun kamu tidur duluan juga ujung-ujungnya pasti saya peluk Karren.” Ucap Gibran.
“Mas, bisa ga sih kamu jangan ngomong formal sama aku? Aku ini udah jadi istri kamu loh, bukan orang asing.” Rengek Karren.
Sudut bibir Gibran tertarik ke atas, wajah cemberut Karren dan rengekan dari istrinya itu membuatnya gemas, ingin sekali rasanya Gibran menggendong Karren ke kamar andai pekerjaannya sudah selesai.
“Baiklah akan saya coba.” Balas Gibran.
“Tuh kan, masih formal!” protes Karren.
“Iya maaf, akan aku coba.” Sahut Gibran.
“Nah,, gitu dong!” seru Karren sambil tersenyum senang.
Gibran ikut tersenyum, dia segera mengalihkan pandangannya ke laptop sebelum dia semakin hanyut ke dalam senyuman manis sang istri. Bisa-bisa pekerjaannya tidak selesai-selesai.
Melihat gibran kembali melototi layar laptopnya, Karren pun ikut melototi layar ponselnya. Kali ini dia membuka akun instagramnya, terlihat ada insta story milik teman-temannya di layar atas timeline instagramnya, dan Karren segera membukanya satu per satu.
Di lihat dari semua story teman-temannya, bisa di pastikan kalau mereka sekarang sedang berada di bar. Ada rasa ingin ikut yang muncul di hati Karren saat melihat teman-temannya sedang tertawa bahagia di tengah dentuman musik yang keras.
__ADS_1
Namun, Karren sudah berjanji tidak akan minum dan datang ke tempat itu lagi. Simulasi meninggal yang beberapa waktu lalu Karren rasakan menjadikannya lebih takut berbuat dosa, jadi yang bisa di lakukan Karren saat ini hanyalah melihat teman-temannya sedang bersenang-senang tanpa dirinya.