DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 56 (LARIS)


__ADS_3

Hari ini Karren sudah merasa sehat dan memutuskan untuk pergi kuliah.


Karren berjalan dengan santai, langkahnya anggun bak model yang sedang berjalan di red carpet sambil sesekali tersenyum kepada para laki-laki yang menyapanya.


Suara ketukan dari heels yang dia pakai menyadarkan orang-orang akan kehadirannya membuat perhatian tertuju kepadanya.


Semua mata tertuju kepada Karren, baik laki-laki maupun perempuan melihat penampilan Karren dari atas ke bawah, siapapun pasti kagum dengan penampilan Karren yang serba branded, belum lagi postur tubuh Karren yang tinggi semampai layaknya model internasional.


Banyak perempuan yang menganggap Karren adalah saingan mereka, padahal Karren sama sekali tidak merasa sedang bersaing dengan siapapun.


Kemarin memang Karren menganggap Sarah sebagai saingannya, namun tidak untuk sekarang. Karren tidak akan maju jika Gibran tidak menginginkannya, melihat penolakan Gibran beberapa hari ini sudah menunjukkan langkah apa yang harus Karren ambil.


Karren tidak ingin menyakiti hatinya sendiri dengan menaruh perasaan pada orang yang tidak memiliki perasaan kepadanya.


Memang awalnya Karren ingin memperjuangkan Gibran, karena walaupun cuek dan dingin, tapi Gibran masih memiliki sisi perduli kepadanya, namun perlakuannya akhir-akhir ini membuat Karren berubah pikiran.


Gibran sudah tidak perduli lagi padanya, bahkan tega menolak permintaan Karren berkali-kali, sikap Gibran yang lebih memilih Sarah di bandingkan dirinya membuat Karren semakin yakin untuk berhenti menaruh harapan pada Gibran. Dan mulai kemarin Gibran hanyalah dosen dan tetangganya saja, tidak lebih.


Karren berjalan menuju kantin, karena Kevin dan Darren sudah ada di sana sejak tadi, sedangkan Silvia sepertinya belum tiba di kampus karena dia tidak ikut komen di grup, jika dia sudah tiba pasti dia akan menghubungi Karren dan memberitahu posisinya saat ini.


Karren yang sedang berjalan seketika memelankan langkahnya saat melihat kerumunan orang yang ada di hadapannya.


Namun yang membuatnya aneh adalah sepupunya yang ikut berdiri di sana, padahal Darren sama sekali tidak pernah perduli dengan urusan orang kecuali hal itu berkaitan dengannya.


Karren berjalan mendekati kerumunan dan menyelinap ke dalamnya mendekati Darren yang sedang menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


“Ada apaan?” tanya Karren penasaran.


Karren melihat ada Kevin di tengah lingkaran, namun dia masih belum paham maksud dari hal itu.


“Biasalah si Kevin lagi laris, penasaran gue dia ke dukun mana.” Balas Darren.

__ADS_1


Karren yang belum mengerti maksudnya hanya mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Darren.


“Maksudnya?” tanya Karren.


“Si Kevin di tembak lagi sama mahasiswi baru.” Jawab Darren.


Darren kesal, dia merasa kalau pamornya kalah karena lebih banyak penggemar Kevin di bandingkan dirinya saat ini.


Padahal Darren merasa lebih tampan di bandingkan Kevin, sepertinya Darren harus berguru kepada papinya dan memperdalam ilmu crocodile nya setelah ini.


Karren langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kevin yang terlihat sedang kebingungan, dan seorang perempuan yang sepertinya sedang memohon-mohon dengan membawa surat dan juga cokelat.


“Lo udah ngirim gue cokelat tiap hari, sekarang lo kasih gue cokelat lagi? Lo mau buat gue diabetes?” jawab Kevin yang terlihat frustasi menghadapi perempuan yang ada di hadapannya saat ini.


Bahkan rambut Kevin yang awalnya rapih, sekarang sudah tidak beraturan karena dia acak-acak sendiri.


"Aku akan tetap ngasih coklat sebelum kakak balas pesan aku!" tegas perempuan itu dengan tatapan berani.


Lagi lagi Kevin kembali mengacak-acak rambutnya untuk menahan kekesalan yang di ciptakan oleh perempuan itu.


Dia seperti orang sibuk, padahal di rumahnya juga kerjaannya hanya rebahan sambil bermain hp.


"Kak, aku tuh suka sama kakak, dan aku mau kakak balas perasaan aku!" ucap perempuan itu tanpa ada rasa malu sama sekali.


Adik tingkat itu bernama Trisna, perempuan yang sangat menyukai dan mengagumi Kevin, dengan beraninya mengungkapkan perasaannya di hadapan semua mahasiswa yang ada di sana.


"Heh, gue juga suka sama Jisoo blackpink tapi gue ga minta dia buat bales perasaan gue tuh!" ketus Kevin.


"Denger ya adik kecil, ga semua orang yang lo suka harus suka juga sama lo, jangan maksa karena berjuang sendirian itu ga enak." Lanjut Kevin seperti sedang menasehati dirinya sendiri.


"Kalo kakak ga mau balas perasaan aku, seenggaknya kakak mau datang ke pesta ulang tahunku ya, pliss.." ucap Trisna sambil memberikan amplop yang dari tadi dia pegang yang ternyata itu adalah sebuah kartu undangan.

__ADS_1


"Ga bisa, gue besok ada rapat masalah negara!" ketus Kevin.


Mendengar ucapan Kevin membuat Trisna sedih, dia menundukkan wajahnya dengan pipi yang memerah menahan malu dan menahan air matanya.


Tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri Trisna, dia menarik tangan Trisna membuat Trisna akhirnya menoleh ke arah orang yang menariknya.


"Anin?" ucap Trisna kepada temannya.


Ya, Anindita, mahasiswa baru yang menjadi gebetan baru Darren walaupun sebenarnya Anindita selalu menghindari Darren dan menolaknya.


Melihat Anindita ada di sana membuat Darren yang awalnya menyilangkan tangannya di dada tiba-tiba langsung melepaskan tangannya dengan ekspresi terkejut.


"Anin?" gumam Darren yang terdengar oleh Karren dan langsung menoleh ke arah Darren.


"Lo kenal?" tanya Karren.


"Dia maba yang waktu itu pernah hampir kita tabrak." jawab Darren yang membuat Karren langsung mengalihkan pandangannya.


"Jadi dia maba di sini? Wah gila sih, hati-hati lo di laporin polisi Ren." balas Karren.


"Gila lo! Ya engga akan lah, dia juga kan salah karena nyebrang ga lihat-lihat." ucap Darren.


Karren hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali melihat tontonan menarik yang ada di depannya.


"Lo temennya kan? Syukur deh, tolong ga bawa temen lo ini, dia sampe bikin satu kampus heboh cuma gara-gara ngasih undangan doang ke gue." ucap Kevin kepada Anindita.


"Sorry kak, tapi kayaknya kakak emang harus dateng ke acara ulang tahunnya, seenggaknya buat menghargai dia gitu." ucap Anindita.


"What!? Lo kok sama aja sih sama temen lo, bukannya ajak dia ke jalan yang benar." ucap Kevin.


"Emang jalan dia yang mana yang salah?" tanya Anindita dengan santainya.

__ADS_1


Anindita dan Trisna keduanya sama sama tidak tau takut, padahal mereka di kelilingi senior sedangkan mereka hanyalah maba, tapi mereka sudah berani berbicara dengan nada menantang.


Sedangkan Karren yang melihat wajah sedih Trisna seketika ingat akan dirinya yang di tolak oleh Gibran, Karren bisa merasakan bagaimana rasanya di tolak dan itu sangat menyakitkan.


__ADS_2