DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 117 (TIDAK DI BERI IJIN)


__ADS_3

Kaki Karren melangkah dengan ragu menuju ruangan Gibran, dia sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima apa pun jawaban yang akan Gibran berikan, meskipun sebenarnya dia juga tidak terima jika Gibran menghambatnya untuk meraih cita-citanya.


Karren masih ingat dengan janjinya pada Gibran kalau dia tidak akan menerima tawaran pemotretan dengan tema couple lagi.


Tapi sangat di sayangkan jika dia juga tidak menerima tawaran yang selama ini dia impikan. Jadi sekarang Karren berharap kalau Gibran akan memberinya dispensasi untuk janjinya dulu.


Langkah Karren tiba-tiba terasa berat saat satu langkah lagi dia sampai di depan pintu ruang kerja Gibran.


Karren berusaha bersikap normal dan tidak gugup agar Gibran tidak curiga dengan niat Karren yang sebenarnya.


Karren menghampirinya karena dia berniat untuk merayu Gibran lebih dulu agar manusia robot itu terlena, dan kesempatan itu akan Karren gunakan untuk meminta ijin kepada Gibran.


Karren mengambil napas panjang lalu perlahan dia menghembuskannya. Dia meregangkan otot lehernya dan otot tangannya seperti orang yang hendak bertanding.


Misi utamanya adalah membuat Gibran mengijinkannya untuk menjadi model cover V0GUE Magazine dengan Kevin.


Setelah peregangan otot, Karren mulai menjalankan aksinya. Dia membuka pintu perlahan.


Pemandangan Gibran yang sedang menunduk dengan memegangi kepalanya membuat Karren menjadi panik.


Apa lagi saat melihat Gibran memijat keningnya sendiri membuat Karren merasa kalau Gibran sedang pusing memikirkan sesuatu.


"Kamu kenapa mas?" tanya Karren sambil berjalan mendekat.


Gibran mendongakkan kepalanya, dia menghembuskan napas lalu menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi.


"Makin banyak mahasiswa yang kayak kamu." ucap Gibran yang membuat Karren mengerutkan keningnya.


"Kayak aku? Maksudnya gimana?" tanya Karren.


"Iya kayak kamu, kuliah cuma main-main ga pernah serius." Jawab Gibran dengan santai.


Karren mengendus sebal, mulut nyinyir Gibran yang se pedas bubuk cabe itu memang tidak pensiun dari pekerjaannya untuk menyinyiri Karren meskipun mereka sudah menikah.


Karren yang sudah berbulan-bulan menjadi korban kritik dan nyinyiran Gibran pun sudah kebal sampai kata-kata seperti itu tidak berhasil menyinggung perasaannya.


Andai saja para penggemar Gibran tau apa yang di terima Karren selama menjadi istri Gibran, pasti merek tidak akan bercita-cita menjadi selingkuhan Gibran.


Gibran bukan tipe laki-laki yang sangat memuja wanitanya sampai kentut wanitanya dia hirup dalam-dalam. Dia adalah tipe laki-laki yang suka mencari gara-gara dan mengkritik pasangannya jika tidak sesuai dengan keinginan hatinya.


"Aku kan sekarang sudah serius mas, kamu terbangun juga aku perhatiin kok." Balas Karren dengan cemberut pura-pura ngambek.

__ADS_1


"Iya kamu emang memperhatikan, tapi memperhatikan aku bukan memperhatikan penjelasannya!" ucap Gibran.


Karren cengengesan memamerkan gigi putihnya, dia berjalan memutari meja Gibran dan berhenti di belakang tubuh Gibran.


"Emangnya mahasiswa kamu kenapa lagi sih mas?" tanya Karren yang mulai memijat pelipis Gibran.


Gibran sedikit mendongak untuk mempermudah Karren memijat pelipisnya. Mata Gibran terpejam untuk menikmati pijatan sang istri.


"Jawaban mereka banyak yang salah, padahal aku udh jelasin se jelas-jelas nya. Pusing aku Karren, sebenarnya apa sih yang merek pikirkan sampai mereka bisa jawab asal-asalan kayak gitu." ucap Gibran.


"Jumlah salah mereka bahkan lebih banyak dari jumlah benarnya." lanjutnya.


"Sabar mas, manusia kan emang tempatnya salah." balas Karren mencoba untuk menenangkan suaminya ambil terus memijat pelipis Gibran dengan lembut.


"Tidak usah membela spesies kamu Karren." ucap Gibran membuat Karren mendengus kesal.


"Salah mulu gue!" gumam Karren pelan namu masih bisa di dengar oleh Gibran.


"Aku masih bisa denger kamu loh Ren." ucap Gibran.


"Alhamdulillah kalo gitu, berarti pendengaran kamu masih normal mas." sahut Karren.


Gibran tidak membalas, dia fokus menikmati pijatan Karren dengan mata terpejam.


"Kamu aja aku tidur?" tanya Gibran yang matanya saat ini terbuka lebar sambil tersenyum menggoda.


Melihat senyum Gibran, Karren tau kalau laki-laki itu mengartikan lain ajakannya.


"Tidur dalam konteks yang sebenarnya mas, jangan mikir yang macam-macam deh!" jelas Karren.


Gibran tertawa mendengar penjelasan Karren lalu dia mengangguk mengiyakan ucapan Karren.


"Ayo, kepalaku juga udah pusing." balas Karren.


Karren mulai ragu mengungkapkan maksudnya yang sebenarnya saat melihat kondisi Gibran yang sedang kurang sehat.


Namun jika Karren tidak mengatakannya sekarang pasti dia tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


keduanya sudah berada di dalam dan Gibran lebih dulu berbaring di atas tempat tidur.


Karren segera memiringkan badannya menghadap Gibran setelah dirinya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Mas..." panggil Karren dengan perasaan gugup.


"Iya?" balas Gibran yang sudah memiringkan tubuhnya menghadap Karren.


"Aku dapat tawaran jadi model cover V0GUE Magazine." ucap Karren.


"Majalah yang terkenal itu?" tanya Gibran.


"Hmm, boleh ga?" tanya Karren.


"Boleh asal tidak melanggar peraturan yang aku buat. Bajunya ga terlalu terbuka dan ga foto berpasangan juga." ucap Gibran.


Karren mengigit bibirnya, dia terdiam sesaat, tidak berani untuk melanjutkan ucapannya.


"Kenapa Karren?" tanya Gibran yang melihat perubahan ekspresi wajah Karren seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Majalah itu minta aku sama Kevin buat jadi modelnya, tapi bajunya ga terbuka kok mas. Kata Dina, kostumnya nanti dress pantai." jelas Karren.


Wajah Gibran seketika menjadi datar, tatapannya tidak terbaca oleh Karren.


"Dress pantai? Pemotretannya di pantai?" tanya Gibran.


"Iya mas, kata Dina di Bali." jawab Karren dengan jujur.


dia berusaha tidak menyembunyikan apa pun dari Gibran karena mereka sekarang sudah menjadi suami istri yang seharusnya saling terbuka dan berbagi apa pun yang di rasa.


"Boleh ya mas? Ini salah satu mimpiku, karierku sebagai model pasti akan naik kalau aku berhasil menjadi model cover majalah itu." ucap Karren dengan tatapan memohon.


"Aku yakin kamu sudah tau jawabannya." balas Gibran dingin.


"Mas, kamu jangan gini dong! Masa kamu ga mau dukung cita-cita aku sih?" ucap Karren.


"Aku dukung apa pun cita-cita kamu, tapi tidak dengan yang satu itu. Aku ga rela tubuh istriku di sentuh laki-laki lain."


"Kamu juga sudah janji kan tidak akan menerima tawaran seperti itu lagi?" ucap Gibran.


"Tapi ini beda mas, kesempatannya ga akan datang dua kali." Karren memasang wajah sendu agar Gibran kasihan kepadanya.


"Terus kamu mau terima tawaran itu, begitu? Kamu biarin aku sendiri di rumah sedangkan kamu ke Bali melakukan pemotretan dengan laki-laki lain. Kamu membiarkan laki-laki lain menyentuh tubuh kamu hanya demi sebuah gambar sampul?" ucap Gibran yang mulai kesal.


Karren terdiam dengan menunduk, dia tidak tau harus melakukan apa lagi agar Gibran mau memberinya ijin. Jujur saja Karren kecewa dengan jawaban Gibran yang tidak sesuai harapannya.

__ADS_1


"Sudahlah ayo tidur! Ini sudah malam." tegas Gibran yang langsung berbalik badan memunggungi Karren setelah mengucapkan itu.


Air mata Karren menetes, apa Gibran segitu marahnya sampai tidak mau memeluknya seperti biasa? Karren benar-benar kacau dan bingung saat ini.


__ADS_2