
“Gibran sadar aku mohon...” ucap Karren yang semakin pasrah karena Gibran terus saja berjalan mendekatinya.
Gibran terus mendekati wajah Karren, namun tiba-tiba saja Gibran menaruh kepalanya di bahu Karren dan tangannya mulai melingkar di pinggang Karren.
“Saya sudah tidak tahan lagi Karren.” Ucap Gibran memelas.
Karren sudah tidak bisa berkata-kata lagi, lidahnya kelu dan kaku sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.
Karren menatap wajah Gibran, terlihat tatapan terluka terpancar di matanya, Karren berusaha untuk menetralkan jantungnya yang berdegub kencang saat berdekatan dengan Gibran.
“Saya sudah tidak tahan lagi kalau harus berjauhan dengan kamu.” Ucap Gibran.
Mulut Karren terbuka, keningnya berkerut saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gibran.
“Kamu ga jadi macem-macem ke aku?” tanya Karren.
“Maafkan saya.” Balas Gibran sambil menggelengkan kepalanya dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Karren.
“Seharusnya kamu minta maaf ke Kevin bukan ke aku.” Ucap Karren.
“Bukan soal yang tadi Karren, tapi soal kemarin-kemarin saya sudah menjauhi kamu.” Ucap Gibran.
Karren menatap Gibran dengan tatapan kecewa, dia kira Gibran menjauh itu hanya perasaannya saja, tapi ternyata Gibran memang berniat buat menjauhinya.
“Kenapa kamu jauhin aku? Gara-gara bu Sarah kan?” ucap Karren.
Gibran menggeleng, lalu dia ingin buka suara namun sebelum suaranya keluar Karren sudah lebih dulu menempelkan jari telunjuknya ke bibir Gibran yang membuat Gibran tidak jadi bicara.
“Kita sambil duduk lah, aku capek.” Ucap Karren dengan memasang wajah memelas membuat Gibran gemas kepadanya.
Akhirnya Gibran dan Karren duduk di sofa yang ada di sana, keduanya sama-sama menarik nafas mencoba untuk menetralkan perasaan masing-masing.
“Jadi, apa yang mau kamu jelasin? Kenapa kamu menjauhi aku?” tanya Karren.
“Karena saya takut, saya seringkali mendengar para mahasiswa dan dosen sering membicarakan kamu, saya jadi takut kalau mereka akan berpikir semakin tidak-tidak jika kita berdua terus terlihat bersama, saya tidak ingin kalau mereka mengira kamu mendapatkan nilai bagus karena kamu dekat dengan saya.” Jelas Gibran.
__ADS_1
“Tapi sekarang saya sudah menyerah, saya tidak mampu jika terus berjauhan dengan kamu dan melihat kamu dekat dengan laki-laki lain.” Lanjutnya.
Karren tidak percaya dengan ucapan Gibran, dia hanya bisa terkekeh dan membuat Gibran bingung melihatnya.
“Kamu tau ga sih? Sebelum kamu datang ke kampusku, udah banyak orang yang ngomongin aku, kamu menjauh ga akan berefek apa-apa sama aku, mereka akan tetap ngomongin aku dan cari kesalahan aku.” Jelas Karren.
“Aku lebih memilih untuk tidak perduli dengan apa pun yang mereka pikirin tentang aku, aku akan tetap lakuin apa yang aku mau tanpa perlu repot-repot memikirkan pandangan orang yang akan suka atau tidak karena aku hidup bukan untuk membuat mereka terkesan.” Lanjutnya.
Mendengar ucapan Karren membuat Gibran terdiam merenungi kebodohannya sendiri yang lebih memilih untuk menjauhi Karren tanpa membicarakannya lebih dulu, untuk urusan haters sepertinya Karren lebih berpengalaman daripada dirinya.
“Maafkan saya karena saya sudah menyakiti hati kamu dengan semua penolakan daya kemarin-kemarin.” Ucap Gibran dengan penuh penyesalan.
“Asal kamu ga menolak aku karena lebih memilih cewek lain aja aku pasti bakal maafin kamu kok.” Ucap Karren dengan senyum tipisnya.
Gibran menganggukkan kepalanya, dia terdiam cukup lama seperti memikirkan sesuatu, rasanya ingin berbicara namun rasanya gugup untuk mengeluarkan suaranya.
“Masih ada yang mau kamu omongin?” tanya Karren yang sadar akan kegugupan Gibran.
“Ehem..” Gibran berdehem untuk mengatasi kegugupannya.
“Karren..” panggil Gibran.
“Bisakah kamu kembali memanggil saya ‘mas’ seperti sebelumnya? Saya tidak suka mendengar kamu memanggil ‘bapak’ ke saya.” Protes Gibran.
“Loh, itukan kamu sendiri yang nyuruh saya panggil begitu.” Ucap Karren.
Sebenarnya Karren ingin tertawa melihat wajah kesal Gibran, laki-laki yang ada di hadapannya itu memang sepertinya baru mengalami puber makanya labil begini, dia yang menyuruh Karren agar tidak memanggilnya ‘mas’ tapi dia sendiri yang menyuruh Karren memanggilnya ‘mas’ seperti sebelumnya.
“Iya mas, ada yang mau di omongin lagi?” tanya Karren.
“Emm, kamu... Kamu mau ga jadi pacar saya?” tanya Gibran lalu segera memalingkan wajahnya ke arah lain menutupi rasa malunya.
Karren mematung, mulut dan matanya terbuka lebar tidak perduli jika ada hewan yang akan masuk ke dalam mulutnya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar tadi.
Karren tidak langsung menjawab, dia hanya terdiam sambil melihat ke arah Gibran, Karren ragu dengan perasaan Gibran kepadanya.
__ADS_1
Karren takut kalau Gibran mengatakan hal itu hanya karena emosi semata setelah melihat dia dan Kevin hampir berciuman.
Gibran yang tidak kunjung mendengar jawaban dari Karren langsung mengerti kalau Karren membutuhkan waktu untuk menjawab perasaannya.
“Kalau memang kamu tidak bisa menjawab sekarang tidak apa-apa, saya bisa menunggu.” Ucap Gibran.
Karren mengangguk sambil tersenyum, akhirnya Karren bisa bernafas lega karena Gibran memberinya waktu untuk berpikir lebih dulu.
“Apa aku sudah boleh keluar sekarang?’ tanya Karren yang di balas anggukan oleh Gibran.
Akhirnya mereka berdua segera beranjak dari sofa dan keluar dari ruangan Agra bersama-sama, Gibran juga sudah membuka pintu yang awalnya dia kunci.
“Karren...” panggil Gibran kembali membuat Karren menoleh ke arahnya.
“Iya mas?” tanya Karren.
“Bisakah kamu tidak terlalu dekat dengan laki-laki lain? Saya tidak suka melihatnya.” Ucap Gibran.
Karren tersenyum, lalu dia menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Gibran kalau dia tidak akan berdekatan dengan laki-laki lain.
Sebenarnya Karren sudah yakin dengan perasaannya kepada Gibran, hanya saja dia tidak yakin dengan perasaan Gibran kepadanya. Beberapa hari yang lalu Gibran lebih memilih Sarah di bandingkan dirinya, mungkin saja kedepannya Gibran akan memilih Sarah lagi dan meninggalkannya.
Karren kembali ke meja di mana teman-temannya berada, dahinya berkerut saat melihat orang yang tidak biasanya ada di tempat itu berada di bangku mereka.
“Trisna?” gumam Karren saat melihat Trisna sedang berjongkok di depan Kevin yang sedang duduk.
“Sini kak biar aku obatin.” Ucap Trisna yang sudah membawa kain dan es batu di tangannya.
Tubuh Trisna sudah maju perlahan-lahan, namun Kevin malah menjauhkan tubuhnya, dia menatap ke arah Trisna dengan tatapan kaget dan juga ketakutan seperti melihat setan.
“Lo ngapain sih di sini? Lo harusnya bobo di rumah, lo masih bocah!” ketus Kevin.
“Tadinya udah mau tidur, tapi kata temenku kakak berantem makanya aku ke sini.” Ucap Trisna.
“Yaudah mendingan lo ke temen lo aja sono ga usah sok obatin gue deh!”
__ADS_1
“Engga, aku cuma mau ngobatin kakak aja kok bukan ke temenku.” Kekeuh Trisna.
Kevin yang kesal hanya bisa berteriak pelan sambil mengacak-acak rambutnya, bisa-bisa rambutnya rontok jika terus berhadapan dengan Trisna.