Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Hadiah untuk Chila


__ADS_3

Setelah berdebat alot dengan Liana, akhirnya Anisa bisa bertemu dengan Chila, meski dipantau dari jauh oleh Liana.


Anisa dan Chila kini duduk di bangku yang terdapat di taman samping. Anisa memperhatikan wajah Chila yang manis dan terawat meski hidup dengan seorang ibu.


“Kenapa cari Chila?” tanya gadis itu sambil memandang Anisa. Dia tidak berani menyebut oma atau nenek karena merasa tidak mendapatkan izin, serta belum terlalu mengenal Anisa.


Anisa tersenyum mendengar pertanyaan Chila, lantas mengeluarkan sesuatu dari tas.


Dari jauh Liana sudah waspada, sampai menegakkan badan untuk melihat apa yang dikeluarkan Anisa.


Chila sendiri terus memandang, apa yang sedang dilakukan oleh Anisa.


Anisa mengeluarkan sebuah kotak persegi berukuran sedang, kemudian memberikannya kepada Chila.


“Chila nantinya akan jadi cucu Oma, jadi sekarang Oma ingin memberikan hadiah untuk Chila. Chila mau, ‘kan?” tanya Anisa sambil menyodorkan kotak itu ke Chila.


Chila belum menerima kotak dari Anisa, hanya memandang dengan ekspresi bingung lantas beralih menatap Anisa.


“Kenapa? Chila tidak mau?” tanya Anisa karena Chila tak kunjung menerima.


Dari kejauhan Liana masih memantau, sedang menduga-duga apa yang diberikan Anisa.


“Apa benar Chila boleh manggil Oma?” tanya Chila takut-takut.


Anisa mengulas senyum, mungkin gadis itu tidak percaya karena pertemuan awal mereka buruk dan Anisa tak bersikap baik.


“Tentu, bukankah Papa Farzan akan jadi Papa Chila? Nah, Oma ‘kan mamanya Papa Farzan, jadi Chila harus manggil Oma,” jawab Anisa menjelaskan dengan sabar.


Chila masih terlihat ragu, hanya takut saja jika semua tak seperti yang diinginkan.


Anisa masih mencoba meyakinkan, hingga kemudian membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya.


“Oma belikan ini khusus untuk Chila, jepit rambut dan bandananya cantik seperti Chila. Masa Chila mau nolak?” Anisa memperlihatkan hadiah untuk Chila.


Chila memandang dua benda yang tampak indah itu, hingga tersenyum lebar dan mengangguk tanda ingin memiliki.


Anisa senang saat melihat Chila menerima pemberiannya, ini adalah salah satu cara pendekatan agar Chila mau menceritakan hal yang membuatnya penasaran.


“Chila bisa panggil Oma?” tanya Chila setelah menerima hadiah itu.


“Tentu, Oma akan senang,” jawab Anisa sambil mengusap pipi Chila, senyum wanita itu begitu tulus dan hangat.


Chila mengangguk-angguk karena begitu senang, kemudian menatap hadiah dari Anisa.


“Chila, bolehkah Oma tanya sesuatu?” Anisa bicara secara hati-hati karena takut jika sampai menyinggung Chila.

__ADS_1


Chila mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Anisa.


“Tadi, Oma lihat Mama Sandra terlihat sedih, apa ada masalah?” tanya Anisa pelan, mengamati reaksi dan ekspresi wajah gadis kecil itu.


Chila mengangguk-angguk lagi menjawab pertanyaan Anisa.


“Ada apa? Apa yang terjadi? Kamu mau cerita ke Oma?” tanya Anisa antusias.


Chila awalnya terlihat ragu, tapi begitu merasa Anisa baik membuat gadis kecil itu pun bercerita yang terjadi.


**


Anisa pulang setelah bicara dengan Chila, ada rasa lega tapi juga kesal saat mendengar cerita gadis kecil itu.


“Mama dari mana kok baru pulang?” Harun merasa heran karena saat pulang sang istri tidak di rumah.


“Tadi Mama ketemu Chila,” jawab Anisa sambil meletakkan tas di lemari, kemudian menghampiri Harun yang duduk di sofa kamar.


Harun menaikkan satu sudut alis, berpikir kenapa Anisa menemui anak Sandra.


“Mama ngapain? Tidak melakukan hal yang aneh-aneh, ‘kan?” tanya Harun curiga, takut jika Anisa masih tidak merestui kemudian mencoba memisahkan Farzan dan Sandra.


“Papa ini kenapa berpikiran buruk terus? Memangnya Mama sejahat itu!” gerutu Anisa.


Harun merasa heran dengan sikap Anisa, kemudian membalas, “Ya, Papa tahu kalau Mama masih tidak suka dengan Sandra, kalau Papa berpikir buruk, bukankah wajar.”


Harun terkejut tapi juga bersyukur karena sang istri setidaknya tidak membenci gadis kecil yang tak bersalah.


“Apalagi Chila itu manis, dia sedikit bicara tapi sangat sopan.” Anisa tiba-tiba membayangkan kembali bagaimana sikap Chila tadi.


Kedua sudut bibir Harun tertarik ke atas, menciptakan lengkungan kecil di wajah. Dia senang karena ada sedikit kemajuan dalam hubungan Sandra dan Anisa, meski itu lewat Chila.


“Ah … aku juga kesal, Pa.” Anisa ingat cerita Chila.


“Kesal kenapa? Baru saja bilang senang,” kata Harun heran karena ucapan istrinya berubah-ubah.


“Sebenarnya tadi aku melihat kalau Sandra habis menangis, tapi tidak mau jujur, kupikir karena dia tak mau menemuiku. Tapi ternyata aku salah, ada masalah lain yang dihadapinya.” Anisa menceritakan apa yang diketahui.


Harun mendengarkan dengan setia, hingga pria itu terkejut saat Anisa berkata kalau Grisel hampir membawa Chila.


“Tampaknya Grisel masih tidak rela bercerai dengan Farzan,” ujar Anisa di akhir cerita.


“Dia ini kenapa? Tidak mau memiliki anak, selalu memojokkan anak kita, sekarang saat anak kita mau bahagia pun dia tidak bisa menerima!” Harun ikut geram sendiri.


“Makanya, Pa. Aku semakin kesal dengan wanita itu, kenapa juga dulu Farzan menikahinya, sekarang bikin semua orang kecewa,” timpal Anisa ikut geram.

__ADS_1


Harun melirik sang istri, dari cara bicara Anisa kini Harun tahu kalau istrinya sudah sedikit menerima kehadiran Sandra dan Chila di keluarga mereka.


“Kita sebentar lagi akan mendapatkan mantu baru plus bonus cucu sekalian. Tapi kenapa kita belum pernah kumpul bersama? Mungkin malam makan?” Harun memancing reaksi Anisa, berharap istrinya menawarkan makan malam keluarga guna mempererat hubungan mereka. Terlebih karena Sandra dan Chila sebentar lagi akan menjadi bagian dari mereka.


Anisa terlihat berpikir, hingga setuju dengan ide suaminya.


“Benar juga, ya sudah nanti kita atur saja kumpul sebelum mereka menikah, setidaknya biar kita lebih kenal,” kata Anisa sambil berdiri.


“Mama mau ke mana?” tanya Harun saat melihat Anisa berdiri.


“Mandi, bau asem.” Anisa berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Harun memperhatikan Anisa yang masuk ke kamar mandi, kemudian buru-buru mengambil ponsel dan mengetik pesan untuk dikirimkan ke Farzan.


[Zan, tampaknya mamamu sangat menyukai Chila. Ini pertanda baik karena lama-lama mamamu pasti setuju dengan pilihanmu.]


Di sisi lain. Farzan masih berada di mobil bersama Sandra. Pria itu membuka pesan dari sang ayah sambil menyetir. Farzan tersenyum saat membaca pesan dari Harun.


“Ada apa? Kenapa senyum-senyum?” tanya Sandra dengan dahi berkerut.


“Tidak ada, hanya pesan dari Papa,” jawab Farzan kemudian meletakkan ponsel ke dashboard.


Sandra mengerutkan alis, tapi tak mau berpikiran negatif juga.


“Oh ya, malam ini aku akan menginap bersama Chila. Kamu tidak apa-apa, ‘kan?” tanya Sandra.


Sandra hanya merasa ingin menghabiskan malam bersama sang putri, setelah seharian ini merasa begitu berat karena masalah yang menimpa Chila.


“Tentu,” jawab Farzan, “aku akan pulang ke apartemen, kasihan Bi Sum aku tinggal lama.”


Sandra mengangguk-anggung, hanya tak ingin kembali teringat dan sedih karena mencemaskan Chila.


**


Darren pulang ke rumah setelah sejak siang hingga sore bersama Grisel. Seolah tak memiliki dosa yang harus dipertanggungjawabkan, pria itu pulang dan langsung menuju kamar.


“Cecil, kamu belum pulang?” tanya Darren saat melihat asisten istrinya masih di sana.


Cecil memandang benci ke Darren, tapi dirinya hanya seorang bawahan yang tak bisa berbuat banyak.


“Saya baru mau pulang,” jawab Cecil sopan meski merasa sebal.


Cecil pun memilih meninggalkan Darren tanpa berpamitan ke Viona sebab sejak tadi majikannya itu tak menjawab panggilannya.


Tanpa firasat apa pun Darren membuka pintu kamar, hingga sangat terkejut melihat apa yang terjadi dengan kamar itu.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?”


__ADS_2