Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Terus waspada


__ADS_3

Setelah mengobrol dengan Sandra, Farzan tak langsung pulang dan ternyata malah pergi ke rumah yang dulu ditinggali bersama Grisel. Dia merasa kesal dan marah sebab wanita itu berani mendatangi Sandra.


Namun, Farzan tak mau masuk ke halaman, memilih memarkirkan mobil di depan gerbang dan menunggu Grisel pulang. Farzan melihat kamar yang ditempati Grisel masih gelap, membuatnya yakin jika wanita itu belum pulang.


Benar saja, tak selang beberapa lama. Terlihat mobil datang dan membunyikan klakson karena merasa ingin masuk tapi terhalang mobil Farzan.


“Hei! Punya otak nggak sih kalau parkir!” teriak Grisel yang kesal karena jalannya terhalang.


Farzan menghela napas kasar mendengar teriakan Grisel, kemudian membuka pintu mobil dan keluar.


Grisel terkejut mengetahui jika pengemudi mobil itu adalah Farzan. Namun, dia juga terlihat begitu senang karena Farzan mau datang ke sana. Grisel pun keluar dari mobil, menatap Farzan yang berdiri di samping mobil.


Keduanya saling tatap, Farzan menatap kesal pada Grisel yang selalu membuat ulah, sedangkan Grisel menatap Farzan dengan wajah gembira meski bisa menebak maksud kedatangan pria itu di sana.


Grisel terlihat senang melihat Farzan di sana, langsung mendekat untuk menyapa pria itu.


“Kamu datang kenapa tidak langsung masuk? Kenapa malah berhenti di tengah jalan?” tanya Grisel karena posisi mobil Farzan memang melintang di jalan masuk.


Farzan menatap Grisel dengan rasa muak, terutama saat melihat senyum wanita itu yang tak pernah merasa memiliki dosa.


“Jangan bersikap manis di hadapanku!” Farzan tetap memasang wajah tak senang meski Grisel tersenyum. “Kamu pasti tahu betul alasanku datang ke sini!” imbuhnya kemudian.


Seketika senyum Grisel memudar, lantas berubah menjadi senyum sinis.


“Tentu aku tahu, pasti wanita itu mengadu padamu. Dasar manja!” ejek Grisel.


“Aku peringatkan kamu! Hubungan kita sudah berakhir, kamu sudah tidak berhak lagi mencampuri urusan pribadiku, baik masalah aku berteman atau dekat dengan siapa! Jadi, kamu seharusnya tahu posisimu!” Farzan mencoba mengingatkan Grisel agar tidak terus melakukan sesuatu seenak hati.


“Suka-suka aku!” balas Grisel, kemudian melipat kedua tangan di depan dada, tatapannya tidak teralihkan dari Farzan.


Farzan semakin geram, bagaimana bisa Grisel semakin egois setelah masalah yang dihadapai wanita itu.


“Ingat! Hubungan kita sudah berakhir! Jangan lagi mencampuri urusan pribadiku!” geram Farzan memperingatkan lagi sambil menunjuk wajah Grisel.

__ADS_1


Bukannya takut, Grisel malah menantang dengan mengangkat dagu, seolah ancaman atau gertakan Farzan tak berarti apa pun baginya.


Farzan terlalu muak bicara dengan Grisel, lantas memilih masuk ke mobil dan menyalakan mesin. Dia langsung memacu mobil tanpa melihat ke arah Grisel yang berdiri di luar.


Grisel langsung mengepalkan kedua telapak tangan begitu mobil Farzan pergi. Da memberikan tatapan penuh kebencian karena merasa kesal, gara-gara Sandra mengadu membuatnya harus berhadapan dengan Farzan, padahal dirinya berharap Farzan bisa bersikap manis padanya.


“Lihat saja! Semakin kamu memperingatkan, maka aku akan semakin berbuat gila!” Grisel menyeringai, menunjukkan hatinya yang benar-benar dikuasai iblis.


**


Hari-hari berlalu. Grisel tak lagi terlihat mengganggu atau mendatangi Sandra karena sibuk dengan beberapa pemotretan di luar kota, sedangkan Farzan sendiri terus waspada, tak ingin jika lengah dan Grisel kembali mengganggu Sandra maupun Chila. Farzan terus menyempatkan mengantar jemput Sandra dan Chila karena cemas.


“Kamu seharusnya tak perlu berbuat seperti ini,” kata Sandra. “Aku bisa menjaga diri,” ucap Sandra lagi, merasa tak enak hati karena Farzan terus menyempatkan memberi perhatian padanya juga Chila.


“Tidak apa-apa, aku juga merasa senang melakukan ini,” balas Farzan. “Semua masalah yang kamu dapat, berasal dariku. Sudah sewajarnya aku berbuat seperti ini,” imbuhnya kemudian.


Sandra tak bisa berkomentar banyak, hingga akhirnya membiarkan saja apa yang ingin dilakukan Farzan.


“Baiklah kalau begitu, terima kasih atas perhatianmu selama beberapa minggu ini,” ucap Sandra sebelum membuka pintu mobil.


“Tidak perlu sungkan,” balas Farzan, menatap Sandra yang siap keluar.


Sandra mengulas senyum tipis, kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia bahkan sempat melambaikan tangan saat mobil Farzan mulai melaju meninggalkan area lobi perusahaan.


Saat akan masuk ke lobi, langkah Sandra terhenti saat ada mobil lain berhenti tepat di depan pintu lobi. Dia memperhatikan hingga melihat Joya keluar dari mobil yang kemudian meninggalkan area perusahaan.


“Kenzo mau ke mana?” tanya Sandra.


“Oh … dia ada rapat dadakan di luar, jadi mengantarku terlebih dahulu,” jawab Joya yang memang sudah mengetahui keberadaan Sandra di sana.


Sandra mengangguk-angguk mengerti, lantas mengajak Joya masuk bersama.


“Tadi aku melihatmu melambai pada mobil yang keluar dari sini, bukankah itu mobil Farzan?” tanya Joya saat keduanya menunggu pintu lift terbuka.

__ADS_1


“Ya. Dia mengantarku setelah mengantar Chila,” jawab Sandra santai. Dia tidak tahu jika mantan kekasih Farzan itu terkejut mendengar jawabannya.


Pintu lift pun terbuka, keduanya lantas masuk dan Sandra menekan tombol lantai tempat dirinya bekerja.


“Ternyata kalian sangat dekat,” kata Joya.


“Siapa?” Sandra menatap Joya bingung.


“Kamu dan Farzan. Bukankah kalian sangat dekat, sehingga Farzan mengantar dan terlihat terus memperhatikan kalian,” ujar Joya sambil menatap Sandra untuk melihat reaksi wanita itu.


Sandra terlihat gelagapan mendengar ucapan Joya, kemudian mencoba tersenyum untuk menutupinya.


“Ya, dekat sebagai teman. Itu karena Farzan sangat menyukai Chila,” balas Sandra kemudian.


Joya mengangguk-anggukan kepala pelan, sebelum kemudian berkata, “Farzan takkan pernah membiarkan wanita sembarangan naik mobilnya, mungkin dia menganggapmu spesial sehingga merasa senang saat kamu duduk di sampingnya.”


Sandra terkejut mendengar perkataan Joya, kemudian menatap istri Kenzo itu dengan kepala penuh tanda tanya.


“Apa maksudnya itu?” tanya Sandra.


Joya menatap Sandra, melihat ada kegugupan dan rasa bingung dalam tatapan wanita satu anak itu.


“Oh … bukan apa-apa. Maksudku itu Farzan dulu, saat kami masih kuliah. Dia tipe pria yang tak suka jika ada gadis sembarangan duduk di sebelah kemudinya. Bahkan jarang sekali dia memberikan tumpangan pada gadis lain, mungkin saat itu hanya aku dan mantan istrinya itu,” jawab Joya menjelaskan.


Sandra semakin bingung, benarkah yang dikatakan Joya. Saat Sandra sedang menebak apakah Farzan dulu dan sekarang masih sama atau sudah berubah, pintu lift terbuka di lantai tempat Sandra bekerja.


Sandra tersadar dari lamunan saat Joya menepuk pundaknya, dia lantas berpamitan ke Joya dan keluar dari lift.


“Masalah yang aku bicarakan, jangan dimasukkan ke dalam pikiran. Mungkin saja hanya kebetulan, siapa tahu juga sekarang Farzan lebih terbuka dengan semua wanita,” ujar Joya.


Sandra menoleh dan tersenyum saat mendengar ucapan Joya, kemudian mengangguk tanda takkan memikirkan hal itu.


Sandra berjalan ke arah ruang divisinya berada dengan langkah pelan, meski Joya sudah berkata jika mungkin hanya kebetulan, tapi entah kenapa kini Sandra memang merasa ada yang berbeda dari sikap Farzan.

__ADS_1


“Apa benar dia menganggap kami seperti itu?” Sandra bertanya dalam hati. Dia kemudian menggeleng cepat, menepis pemikirannya itu.


“Mana mungkin, mungkin benar kata Joya jika hanya sebuah kebetulan. Lagi pula aku hanya merasa kami berteman dan hubungan itu cukup baik.” Sandra bermonolog untuk menepis pikiran-pikiran yang mungkin bisa membuatnya gelisah.


__ADS_2