
Pagi itu Grisel bertemu seorang pria, memandang pria yang duduk di hadapannya dengan senyum kecil di wajah.
“Bagaimana?” tanya Grisel saat melihat pria itu baru saja mengirimkan sebuah pesan.
“Beres,” jawab pria itu. “Ingat! Kamu jangan mengkhianatiku, atau aku akan membuat hidupmu tak tenang,” kata pria itu memperingatkan.
“Tenang saja,” balas Grisel dengan senyum penuh kepuasan di wajah. “Musuh dari musuhku adalah teman, bukankah begitu? Ya, karena itu aku mencarimu, bukankah kamu juga akan mendapatkan keuntungan lebih bekerjasama denganku?”
Pria itu tertawa mendengar ucapan Grisel, hanya tak menyangka jika model terkenal seperti wanita itu ternyata memiliki dendam dan pikiran yang sangat licik.
“Aku percaya kepadamu. Setelah ini serahkan semua kepadaku, asal kamu memberikan apa yang sudah kamu janjikan,” ujar pria itu.
Grisel menyeringai, kemudian merogoh tas dan mengeluarkan amplop coklat kemudian meletakkan ke meja. Dia mendorong amplop coklat tebal itu dengan telunjuk ke arah pria di hadapannya.
“Dp, jika semua beres, aku akan membayar sisanya.”
Pria itu mengambil amplop coklat yang diberikan Grisel, kemudian melirik isinya dan melihat setumpuk uang di sana.
“Anggap saja semua beres.”
**
“Ada apa? Kenapa kamu tampak panik?” tanya Gilang yang langsung mendatangi Sandra, begitu mendapat panggilan dari wanita itu.
“Pak, apa menurut Anda ini hanya kerjaan orang iseng?” tanya Sandra balik sambil memberikan ponsel miliknya, di mana ada pesan yang didapatkannya pagi tadi.
Gilang mengerutkan alis, tak biasanya Sandra panik seperti ini. Dia pun mengambil ponsel wanita itu, lantas membaca isi pesan yang diterima.
[Kamu bisa hidup senang, luar biasa sekali. Suamimu sudah membuatku menderita, kini kamu yang harus mendapat balasan dariku.]
Gilang merasa aneh dengan isi pesan itu, hingga kemudian mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi seseorang.
__ADS_1
Sandra menanti tanggapan Gilang dengan cemas, jujur saja takut jika ancaman itu bukanlah sebuah keisengan orang, serta akan melibatkan putrinya.
“Halo, apa pria itu masih mendekam di penjara?” tanya Gilang saat panggilannya ke seseorang terhubung.
“Dia keluar sekitar satu minggu lalu,” jawab seseorang yang dihubungi Gilang dari seberang panggilan.
Gilang menatap Sandra, sebelum kemudian mengakhiri panggilan itu.
“Sepertinya dia orang yang sama,” ucap Gilang.
Sandra langsung membungkam mulut mendengar jawaban Gilang.
“Tapi, dari mana dia tahu informasi tentangmu?” Gilang bertanya-tanya sendiri.
Selama ini tidak ada yang tahu siapa suami Sandra. Bahkan Gilang mengusahakan data tentang masa lalu Sandra ditutup rapat agar tidak ada yang mengetahui, semua orang hanya tahu jika Sandra adalah janda anak satu.
“Saya juga tidak tahu,” ucap Sandra dengan wajah cemas.
Gilang baru sadar dengan gadis kecil itu, bisa saja ancaman itu akan ditujukan kepada Chila yang tidak tahu apa-apa.
“Di mana Chila? Dia di sekolah?” tanya Gilang.
Sandra mengangguk-angguk, bingung harus bagaimana karena informasi tentang masa lalunya telah diketahui oleh orang yang memiliki dendam dengan mendiang suaminya.
**
Sandra pergi bersama Gilang menuju sekolah Chila, cemas jika sampai orang yang menghubungi Sandra datang atau memantau Chila di sekolah.
“Maaf, jika harus menjemput Chila lebih awal,” kata Sandra ke guru Chila.
“Tidak apa-apa. Semoga apa pun masalahnya bisa segera terselesaikan dan Chila bisa kembali ke sekolah lagi,” balas guru Chila yang mendengar alasan Sandra mengambil Chila dan meminta izin cuti selama beberapa hari.
__ADS_1
Gilang dan Sandra memutuskan untuk meliburkan Chila dari sekolah, tapi tetap memberikan tutor ke rumah agar gadis kecil itu tetap mendapatkan pelajarannya.
Sandra memandang Chila yang bingung karena dijemput lebih awal, kemudian menggandeng tangan putrinya untuk diajak pergi.
“Kenapa Chila tidak sekolah?” tanya Chila saat berjalan keluar dari gedung sekolah.
“Karena Chila akan belajar di rumah untuk sementara,” jawab Sandra sambil mengulas senyum kecil.
“Tapi Chila suka di sekolah,” ucap Chila merasa berat jika diminta tak datang ke sekolah.
Gilang yang mendengar ucapan Chila pun berhenti melangkah, lantas berjongkok di depan gadis kecil itu dan tersenyum hangat sambil mengusap lengan Chila.
“Chila, nanti bisa kok kembali ke sekolah. Tapi untuk saat ini, Chila di rumah Mama Liana dulu, ya. Nemenin Mama Liana sambil belajar di sana, kasihan Mama Liana sendirian, Chila mau ‘kan menemaninya?” Gilang mencoba memberikan alasan yang masuk akal agar Chila tidak bingung akan kondisi yang sedang dihadapi.
Chila memandang Gilang, kemudian beralih menatap sang ibu.
“Chila akan tinggal di tempat Mama Liana?” tanya Chila.
“Ya sayang,” jawab Gilang.
Sandra hanya diam, memercayakan semuanya kepada pria yang sudah melindunginya selama bertahun-tahun lamanya.
“Bagaimana kalau Om Farzan mau ketemu Chila?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir mungil Chila, ditatapnya Sandra yang berdiri di hadapannya.
Sandra gelagapan mendengar Chila menyebut nama Farzan, bingung menjelaskan jika Gilang bertanya karena selama ini Sandra memang tak pernah membahas Farzan ke Gilang, takut jika pria paruh baya itu berpikir negatif tentang Farzan.
Gilang terkejut mendengar Chila menyebutkan nama yang tak dikenalnya, hingga memandang Sandra seolah meminta penjelasan dari wanita itu.
“Nanti Mama yang bilang sama dia di mana Chila berada, jadi kalau mau bertemu nanti bisa datang ke sana,” ujar Sandra agar Chila merasa tenang dan tak lagi cemas jika tidak bisa bertemu Farzan.
Chila pun mengangguk, akhirnya diam tak bertanya lagi. Gilang masih memandang Sandra, ingin wanita itu menjelaskan semua kepadanya, termasuk siapa saja yang dekat dengan Sandra.
__ADS_1