Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Sekamar


__ADS_3

Farzan benar-benar mengajak Sandra ke apartemen. Tentunya Sandra memilih tinggal di apartemen Farzan dengan banyak pertimbangan, termasuk di tempat itu ada Bi Sum bersama mereka, jadi mereka tidak tinggal berdua saja.


“Tuan sudah pulang.” Bi Sum yang sedang di dapur, langsung menyambut Farzan saat melihat pria itu datang.


Bi Sum kemudian melihat Sandra yang berjalan di belakang majikannya, kemudian dia mengulas senyum untuk menyapa.


“Kamu nanti bisa tidur di kamarku,” kata Farzan sambil meletakkan tas milik Sandra ke sofa.


“Hah?” Sandra cukup terkejut mendengar perkataan Farzan.


Bi Sum sendiri masih bingung dengan yang terjadi, hingga akhirnya memilih pergi ke dapur untuk membuatkan minuman majikan dan tamunya.


“Kenapa? Apartemenku hanya punya dua kamar, satu kamar sudah dipakai Bi Sum, jadi kamu pakai kamarku,” ucap Farzan menjelaskan.


Sandra gelagapan dan bingung, kemudian bertanya, “Kamu tidur di mana?”


“Aku bisa tidur di mana saja, mungkin sofa atau kasur lantai,” jawab Farzan sambil menunjuk ke kanan dan kiri ruang tamunya.


Sandra menggaruk tengkuk, tak bisa dirinya tidur nyenyak sedangkan pemilik tempat malah tidur di sofa.


“Begini saja, aku akan tidur dengan Bi Sum jika dia berkenan,” kata Sandra kemudian.


Kini Farzan yang terkejut, bagaimana bisa kekasihnya malah ingin tidur di tempat pembantu, belum lagi ranjang milik Bi Sum tidak terlalu besar.


“Tidak bisa, aku tidak setuju,” tolak Farzan.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Sandra bingung.


“Ya, kamu ini tamuku, bagaimana bisa kamu ingin tinggal di kamar Bi Sum. Di mana sopan santunku?” Farzan tak suka jika Sandra ingin sekamar dengan Bi Sum.


“Tapi aku tidak masalah sekamar dengan Bi Sum,” ujar Sandra menjelaskan, keduanya berdebat masih dengan posisi berdiri.


Bi Sum sejak tadi membuat minuman sambil mendengarkan perdebatan dua orang yang dianggapnya tengah menjalin hubungan itu, hingga wanita tua itu pun memberanikan diri menyela perdebatan keduanya.


“Kalau Bu Sandra mau memakai ranjang saya, saya nanti tidur di lantai tidak apa-apa,” kata Bi Sum.


“Tidak!” Farzan langsung menolak mentah-mentah perkataan Bi Sum, membuat wanita tua itu memilih diam.


“Zan, jangan keras kepala,” bujuk Sandra karena tahu jika tak mungkin bicara keras ke pria itu. Jika dirinya dan Farzan sama-sama keras, maka tidak akan ada titik temu terang akan masalah mereka.


“Farzan,” lirih Sandra menyadarkan di sana ada Bi Sum.


Farzan baru ingat, kemudian menoleh dan melihat Bi Sum. Bukankah sudah terlanjur diketahui, untuk apa ditutupi.


“Pokoknya kamu tidur di kamarmu!” kekeh Farzan sambil menggandeng tangan Sandra menuju kamar.


“Zan!” Sandra terkejut dengan sikap pria itu.


Bi Sum garuk-garuk kepala, ternyata dugaannya benar. “Baguslah Tuan bisa bangkit lagi, setidaknya Bu Sandra lebih baik dari Nyonya.”


Farzan membawa Sandra ke kamar, kemudian mendudukkan di tepian ranjang. Pria itu berlutut di depan Sandra, membuat wanita itu salah tingkah dibuatnya.

__ADS_1


“Farzan, jangan begini.” Sandra benar-benar tak enak hati melihat pria itu berlutut di depannya.


“Dengarkan aku!” Farzan bicara sambil meraih kemudian menggenggam satu telapak tangan Sandra menggunakan tangan kiri.


Sandra memandang Farzan, melihat keseriusan di tatapan pria itu.


“Aku mengajakmu ke sini karena ingin melindungimu, lalu bagaimana bisa aku memperlakukanmu buruk. Mengertilah, jangan membuatku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dan memastikan kamu tinggal dengan nyaman,” ujar Farzan sedikit mendongak untuk menatap wajah Sandra.


“Aku tahu, tapi aku juga tidak bisa merepotkanmu. Bagaimana bisa kamu memberikan ranjangmu, kemudian kamu sendiri tidur di sofa?” tanya Sandra. Dia memang setuju tinggal bersama, tapi tidak ingin jika menjadi beban.


“Kamu tidak memperbolehkanku tidur di sofa atau lantai, lalu aku harus tidur di mana? Satu ranjang denganmu?” Farzan melontarkan pertanyaan candaan kepada Sandra.


Sandra terkejut hingga membulatkan bola mata lebar, kemudian mencebik karena hal itu pasti mustahil.


“Ya nggak gitu juga, makanya biar aku sama Bi Sum saja,” kata Sandra sambil mengalihkan tatapan dari Farzan. Sungguh ucapan Farzan tentang satu ranjang membuat jantungnya berdegup dengan cepat.


Farzan tersenyum mendengar perkataan Sandra, kemudian semakin mempererat genggaman tangan yang ada di pangkuan wanita itu.


“Aku tetap tidak akan setuju kalau kamu sekamar dengan Bi Sum. Keputusanku, kamu tidur di ranjang, aku di lantai atau sofa,” ujar Farzan membuat keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.


Sandra langsung memandang Farzan, kemudian menghela napas kasar seolah pasrah.


“Baiklah, tapi jangan tidur di sofa ruang tamu. Tidurlah di sofa kamar saja, aku tidak keberatan sekamar denganmu,” balas Sandra. Dia hanya merasa tak sopan jika sampai terkesan mengusir pemilik kamar.


“Oke, setuju.” Farzan tersenyum lebar mendengar keputusannya disetujui, baru kali ini Farzan dihormati sebagai pria dalam mengambil keputusan. Dulu saat bersama Grisel, wanita itu terus mendominasi dan tidak pernah menghargai keputusan yang Farzan buat, tapi kini dirinya merasa senang karena Sandra seolah memikirkan bagaimana perasaannya jika ditentang.

__ADS_1


__ADS_2