Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Perhatian tapi gengsi


__ADS_3

Sandra duduk dengan rasa canggung, diliriknya wanita yang kini duduk berhadapan dengannya.


“Apa Mama ada perlu? Kenapa tidak menghubungiku saja dan minta aku datang?” tanya Sandra ke Anisa.


Sandra sendiri terkejut saat Anisa datang ke tempat kerjanya, membuatnya salah tingkah dan bingung.


“Aku hanya kebetulan lewat, sekalian membawakan kamu ini.” Anisa meletakkan tas berisi kotak bekal makanan di meja.


Sandra memandangi tas itu, apakah Anisa sengaja datang hanya untuk memberinya makan siang.


“Jangan besar kepala, aku ke sini mengantar makanan, hanya untuk memastikan kamu itu makan-makanan sehat dan higienis. Jangan sampai kamu makan di kantin yang kebersihannya tidak terjamin,” ujar Anisa panjang lebar, tetap saja mempertahankan gengsi, sedangkan sebenarnya Anisa sangat senang Sandra hamil dan ingin memberikan perhatian ke menantunya itu.


Apa pun alasan Anisa, bagi Sandra mertuanya itu sudah cukup memberikan perhatian yang tulus. Dia mengeluarkan bekal kotak makanan dari tas, kemudian membuka satu persatu penutup kotak itu.


Isi kotak itu lebih banyak buah dan aneka olahan sayur, mungkin Anisa tahu jika Sandra sedang tidak bisa makan makanan yang berlemak.


“Cepetan makan, jangan dibuang atau disia-siakan. Aku sudah capek-capek ke sini mengantarnya sendiri,” ucap Anisa terdengar sedikit ketus, tapi berharap Sandra memuji masakannya itu.


Sandra tersenyum lantas mengambil sendok dan mulai menyantap makanan yang dibawa Anisa.


“Mama tidak makan?” tanya Sandra sambil mengunyah.


“Sudah tadi. Kamu makan saja, tidak usah sambil bicara,” kata Anisa menjawab pertanyaan Sandra.

__ADS_1


Sandra akhirnya diam, kemudian memakan apa yang tersedia di meja.


Anisa melirik Sandra yang makan, senang saat melihat menantunya makan dengan lahap dan hampir menghabiskan separuh dari porsi yang dibawa. Anisa memang tidak membawa banyak, karena tahu jika mungkin Sandra tidak berselera makan atau mual jika makan banyak di trimester pertama kehamilan.


“Maaf, Ma. Aku tidak bisa langsung menghabiskan, tapi janji akan aku habiskan nanti,” ucap Sandra yang merasa lambungnya sudah penuh dan akan mual jika dipaksa.


Anisa berdeham menanggapi ucapan Sandra, sebelum kemudian mengangguk tanda mengizinkan.


Sandra senang karena Anisa lebih perhatian kepadanya, lantas menyimpan kembali sisa makanan dan memasukkan ke tas.


“Kamu dan karyawan lain, kenapa tadi saling berpelukan?” tanya Anisa penasaran dengan apa yang dilakukan Anisa tadi.


“Oh … itu karena aku berkata ingin mundur dari kepala desainer dan mereka menerima dengan baik,” jawab Sandra.


“Kenapa kamu mundur dari kepala desainer?” tanya Anisa.


Sandra melirik Anisa, kemudian berhenti minum dan meletakkan gelas ke meja.


“Karena kehamilanku butuh perhatian khusus, Ma. Aku tidak ingin terlalu lelah serta banyak beban pikiran yang akan membuat kondisiku tidak stabil memengaruhi janinku,” jawab Sandra menjelaskan.


Anisa masih memasang wajah datar, tapi dalam hatinya begitu senang karena Sandra benar-benar memperhatikan kesehatan demi janin yang sedang tumbuh di rahim.


“Padahal kalau kamu berhenti bekerja lebih baik lagi, bukankah nafkah yang diberikan Farzan tidak mungkin kurang jika hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.”

__ADS_1


Ucapan Anisa membuat Sandra sedikit menunduk, meski Farzan memberikannya jatah bulanan yang bisa dibilang banyak. Namun, Sandra sudah terbiasa memakai uangnya sendiri jika menginginkan sesuatu, sehingga pemberian Farzan dia tabung untuk investasi.


“Tapi, mengurangi pekerjaan juga sudah bagus. Yang terpenting kamu lebih utama fokus ke kehamilan, jangan sampai terjadi sesuatu dengan bayimu,” ujar Anisa kemudian.


Sandra langsung menatap Anisa saat mendengar ucapan terakhir wanita itu. Dia kini paham jika sebenarnya Anisa hanya mencemaskan dirinya.


**


Saat pulang kerja. Farzan menjemput Sandra seperti biasa di perusahaan.


“Bagaimana harimu?” Pertanyaan sama yang selalu dilontarkan Farzan, serta selalu membuat Sandra senang karena merasa diperhatikan.


“Baik, sangat baik,” ucap Sandra dengan senyum lebar untuk menutupi wajah lelahnya.


Farzan melirik tas bekal yang dibawa Sandra, sebelum kemudian bertanya, “Mama tadi ke sini?”


Setelah melontarkan pertanyaan itu, Farzan pun mengemudikan mobil meninggalkan area perusahaan Sandra bekerja.


“Kok kamu tahu?” tanya Sandra keheranan.


“Mama tadi telepon, tanya apa yang tidak bisa kamu makan. Aku jawab, kamu tidak bisa makan makanan berlemak karena mual saat mencium bau makanan itu. Tidak kusangka Mama benar-benar ke sini memberikan makanan, kupikir dia tadi sekadar tanya,” jawab Farzan panjang lebar.


Sandra terkejut mengetahui fakta itu, jadi benar jika Anisa sebenarnya perhatian tapi masih terlalu gengsi saja.

__ADS_1


__ADS_2