
Sandra membujuk Farzan agar mengantarnya pulang ke rumah, beralasan jika ingin melihat kaca yang sudah selesai diperbaiki.
“Semua sudah rapi, aku bisa kembali tinggal,” kata Sandra saat memandang rumah yang ditinggalkannya dua hari ini.
“Aku tidak akan mengizinkan kamu tinggal sendirian.” Farzan menatap punggung Sandra. Wanita itu sedang berdiri membelakanginya.
Sandra langsung menoleh ketika mendengar penolakan dari Farzan. Dia mengulas senyum memandang kekasihnya itu.
“Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba ingin tinggal kembali di sini, sedangkan tahu jika penjahat itu belum tertangkap?” tanya Farzan keheranan.
“Aku hanya tidak nyaman jika terus menumpang di rumahmu, apalagi kamu sampai tidur di sofa setiap malam,” jawab Sandra.
“Tidak, kamu sejak kemarin tidak pernah membahas masalah pindah. Kenapa sore ini mendadak? Apa kamu juga tak memikirkan resikonya?” tanya Farzan. Dia cemas jika Sandra tinggal sendiri.
Sandra menatap Farzan, melihat gurat kecemasan di wajah kekasihnya itu. Hingga tatapannya tertuju ke telapak tangan kanan Farzan, membuatnya merasa kembali bersalah.
“Aku akan baik-baik saja, percayalah,” ucap Sandra membujuk.
Namun, Farzan bersikukuh jika Sandra takkan aman di sana, hingga langsung meraih tangan wanita itu untuk mengajaknya pergi.
“Kamu tidak bisa tinggal di sini, penjahat itu pasti akan datang lagi,” kata Farzan sambil menarik tangan Sandra.
__ADS_1
Sandra terkejut dengan yang dilakukan Farzan, sadar jika pria itu hanya cemas akan dirinya tapi dia lebih cemas akan keselamatan Farzan.
“Zan, aku tidak ingin kamu terluka lagi karena melindungiku. Jika kamu tak mengizinkanku tinggal sendiri, maka aku akan tinggal di rumah Pak Gilang saja,” ujar Sandra mencoba menghentikan langkah Farzan.
Farzan berhenti melangkah, kemudian memutar badan hingga bisa menatap Sandra yang berdiri di belakangnya.
Keduanya berdiri saling berhadapan, menatap satu sama lain untuk menyelami isi hati masing-masing.
“Ada apa sebenarnya? Aku merasa kamu sedikit berbeda?” tanya Farzan tak ingin langsung menyimpulkan.
“Aku benar-benar tidak kenapa-kenapa, hanya ingin kembali ke rumah ini saja,” jawab Sandra.
Sandra sebenarnya masih memikirkan ucapan Anisa, berpikir jika sampai wanita itu melihat dirinya tinggal di apartemen Farzan, lalu bagaimana pandangan wanita itu tentangnya.
“Yakin,” jawab Sandra dengan seulas senyum di bibir.
“Kalau begitu aku juga akan tinggal di sini untuk menjagamu,” ucap Farzan kemudian.
Farzan melepas tangan Sandra, lantas berjalan ke sofa dan duduk santai di sana.
Sandra terkejut dengan mulut menganga, kenapa kekasihnya itu malah ingin tinggal di sana juga.
__ADS_1
**
Anisa menyambut kepulangan Harun. Wanita itu terlihat begitu bahagia dan tidak seperti pagi tadi yang berwajah masam.
“Sudah nggak marah lagi?” tanya Harun saat melihat wajah sang istri yang sudah secerah matahari.
“Tidak, Mama lagi senang,” jawab Anisa.
Dia membantu sang suami melepas jas, kemudian menaruhnya di ranjang pakaian kotor.
Harun menaikkan satu sudut alis, merasa heran karena Anisa bisa sembuh dari rasa kesal dengan cepat.
“Mama tadi bertemu dengan Valeria. Dia itu makin cantik saja,” kata Anisa menceritakan pertemuannya dengan wanita yang akan dijadikan menantu.
Harun cukup terkejut mendengar perkataan Anisa. “Mama masih ingin menjodohkan Farzan?” tanya Harun setengah tak percaya.
“Memangnya kenapa?” tanya Anisa dengan raut wajah tak senang mendengar pertanyaan sang suami.
“Bukan begitu, Ma. Apa Mama tidak ingin membiarkan Farzan berpikir dulu? Jangan sampai membuatnya semakin merasa tertekan,” jawab Harun memberi pengertian ke sang istri.
“Sudahlah, Pa. Jika kita hanya diam, maka Farzan nantinya akan memilih janda itu. Apa bagusnya sih janda itu? Aku sudah bertemu dan bicara dengannya, wanita itu biasa saja dan tidak ada yang spesial, beda dengan Valeria yang anggun dan manis. Janda yang disukai putramu itu tidak ada seujung kukunya Valeria. Pokoknya Mama hanya mau Valeria yang jadi menantu Mama, titik!”
__ADS_1
Anisa keluar dari kamar setelah selesai bicara, kesal karena seolah sang suami menghalanginya menjodohkan putra satu-satu mereka.
Harun menghela napas kasar, kenapa istrinya sangat keras kepala dan hanya memikirkan diri sendiri.