
Farzan berangkat ke perusahaan seperti biasa di hari berikutnya. Dia sebenarnya tak ingin ke kantor karena ingin menjaga Sandra, tapi kekasihnya itu memaksa Farzan berangkat kerja dan tidak mengabaikan tugas hanya demi dirinya.
Farzan sendiri berangkat setelah memastikan Sandra minum obat, kemudian meminta wanita itu mengunci pintu dan tak membiarkan orang tak dikenal masuk.
Siang itu Farzan ingin segera pulang ke rumah Sandra, tapi dirinya ada rapat yang harus dihadiri hingga membuat Farzan tak bisa buru-buru pergi.
“Jadi ini adalah rancangan yang kami ajukan, Pak. Apakah ada yang perlu diperbaiki?” tanya salah satu staf yang ikut rapat bersama Farzan.
Farzan terlihat tidak fokus, hingga sekretarisnya mencoba memanggil nama atasannya itu untuk menyadarkan.
“Oh, maaf. Bagaimana?” tanya Farzan.
Staf pun mengulang pertanyaan, meminta pendapat dari Farzan. Tak ingin menyita waktunya lebih lama di ruang rapat, Farzan pun tak berkomentar banyak agar rapat itu cepat usai.
Dia bahkan berulang kali menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangan, membuat para staf nya sedikit keheranan.
“Apa sudah semuanya?” tanya Farzan, menatap satu persatu staf yang ada di ruangan itu.
“Sudah, Pak.” Sekretaris Farzan yang menjawab.
“Baguslah, kalau begitu sekian rapat hari ini.”
Farzan langsung berdiri, kemudian berjalan keluar dari ruangan meninggalkan stafnya.
__ADS_1
“Pak Farzan aneh sekali, baru kali ini dia tidak berkomentar dan langsung saja setuju dengan rancangan kita,” gumam salah satu staf.
“Sudahlah, yang penting Pak Farzan setuju,” timpal yang lain.
“Bukan itu, bagaimana jika tiba-tiba nanti tak setuju,” balas yang lain.
Para staf itu kemudian mengedikkan bahu, lantas memilih meninggalkan ruangan.
Farzan sendiri langsung turun ke basement. Dia hendak pergi ke rumah Sandra untuk memastikan kondisi kekasihnya itu di rumah. Dia sudah berjanji akan menjaga, jadi mana bisa meninggalkan begitu lama.
Saat Farzan baru saja akan membuka pintu mobil, ponsel yang ada di saku celananya berdering. Dia melihat nama ibunya terpampang di layar.
“Halo.” Farzan tak mungkin mengabaikan sehingga menjawab panggilan itu.
Farzan menengok ke arloji yang melingkar di pergelangan tangan, hingga terlihat berpikir sejenak. Mungkin ini kesempatannya untuk bertanya kenapa Anisa menemui Sandra, kemudian meminta kekasihnya itu menjauhinya. Meski Sandra berkata jika tak memasukkan ke dalam hati, tapi tetap saja Farzan tak bisa tinggal diam.
“Aku tidak sibuk, aku akan ke sana,” jawab Farzan kemudian mengakhiri panggilan itu.
Farzan pun masuk mobil, kemudian mengemudikan mobil meninggalkan basement perusahaan menuju kafe yang disebutkan ibunya. Dia tidak tahu kenapa Anisa ingin bertemu, tapi yang jelas sekarang keinginannya hanya mencari tahu maksud ibunya.
**
Farzan masuk ke kafe, mengedarkan pandangan mencari keberadaan Anisa. Namun, sayangnya sang ibu ternyata tidak ada di sana.
__ADS_1
“Mama bilang sudah di kafe,” gumam Farzan sambil mengeluarkan ponsel, hendak menghubungi Anisa dan bertanya di mana wanita itu.
Namun, belum juga Farzan mendial nomor Anisa, sebuah suara membuatnya menoleh.
“Farzan!” Valeria terlihat berdiri dan melambaikan tangan ke arah pria itu.
Farzan mengerutkan dahi, berpikir kenapa malah ada wanita itu di sana.
Valeria berjalan mendekat ke arah Farzan berdiri karena pria itu hanya diam. Wanita itu tersenyum manis memandang pria yang akan dijodohkan dengannya itu.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Farzan penuh curiga. Dia tentu tahu siapa Valeria.
“Oh … tadi Bibi bilang agar aku datang ke sini, katanya mau ada yang dibicarakan,” jawab Valeria masih dengan seulas senyum di wajah.
“Lalu di mana Mama? Dia bilang sudah berada di kafe?” tanya Farzan penuh curiga.
“Bibi bilang sedang di jalan, lalu memintaku menunggu,” jawab Valeria tanpa menghilangkan senyum di wajah. “Karena kamu juga mau bertemu Bibi, kenapa tidak menunggu bersama-sama saja,” imbuh Valeria.
Farzan terlihat ragu, hingga menoleh keluar untuk melihat apakah ibunya sudah tiba.
Valeria merasa Farzan takkan mau menunggu, hingga kemudian meraih tangan pria itu dan ingin mengajaknya duduk.
“Kita tunggu saja dulu, sebentar lagi pasti datang,” ucap Valeria sambil menggandeng tangan Farzan.
__ADS_1
Farzan sangat terkejut karena Valeria berani memegang tangannya, hingga dengan kasar dia melepas dan berkata, “Aku bisa jalan sendiri.”