Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Sebuah kebetulan


__ADS_3

Mereka berempat makan malam bersama, itu karena Sandra meminta Bi Sum bergabung sebab merasa menu di meja juga sangat banyak. Mereka berbincang hangat, sesekali terdengar tawa hingga ruangan itu begitu hidup.


“Ibu sudah lama kenal Tuan?” tanya Bi Sum ketika keduanya berdiri di depan washbak untuk membersihkan peralatan makan.


Bi Sum sudah melarang Sandra membantu karena wanita itu tamu, tapi Sandra yang sudah terbiasa hidup sederhana serta melakukan semua pekerjaan sendiri, bersikeras ingin membantu.


“Belum, mungkin baru beberapa hari,” jawab Sandra apa adanya. Dia melirik ke belakang di mana Farzan sedang duduk di lantai bersama Chila, keduanya tengah asyik menggambar.


Bi Sum ikut melirik ke arah Farzan, kemudian menatap Sandra. Melihat kalau wanita itu berbeda dari Grisel, ada sebuah ketulusan dan kebaikan di tatapan Sandra, begitulah penilaian wanita paruh baya itu.


“Saya tidak pernah melihat Tuan seperti sekarang, tepatnya setelah menikah dengan Nyonya Grisel,” ujar Bi Sum mengungkap apa yang diketahui. “Tuan yang dulu periang, menjadi sedikit pendiam setelah hidup bersama wanita itu,” imbuh wanita paruh baya itu dengan senyum getir di wajah.


Sandra yang awalnya sedang melirik Chila, lantas memandang ke arah wanita yang kini berdiri di sampingnya. Sandra tahu bagaimana kondisi rumah tangga Farzan dan Grisel, tapi tentunya tidak berani bertanya lebih jauh karena jelas itu bukan haknya.


“Ya, saya sedikit tahu akan rumah tangga mereka karena Farzan pernah bercerita,” balas Sandra.

__ADS_1


Bi Sum tersenyum masam, kemudian kembali bicara. “Maaf jika saya lancang, tapi pernikahan Tuan memang tidak baik-baik saja sejak bertahun-tahun. Tuan saja yang masih terus bertahan karena menganggap pernikahan adalah hal sakral dan tidak boleh dijadikan mainan. Namun, hal itu seolah membuat kebahagiaan Tuan sirna, yang ada hanya tekanan setiap hari. Sampai Tuan memutuskan bercerai, kemudian hari ini saya melihat Tuan bisa bahagia seperti dulu.”


Bi Sum berhenti bicara, memandang Sandra yang sejak tadi mendengarkan.


“Apa itu karena Anda?” tanya Bi Sum kemudian.


Sandra terperanjat mendengar pertanyaan wanita di depannya itu, bagaimana bisa perubahan Farzan dikarenakan dirinya.


“Ah … bukan. Mungkin hanya sebuah kebetulan. Lagi pula dirinya sudah bebas dari wanita itu, mungkin itu yang membuat Farzan bahagia,” jawab Sandra, lantas menoleh Farzan yang tampak begitu senang bermain dengan Chila.


**


Farzan berada di mobil mengantar Sandra dan Chila. Dia tidak bisa membiarkan kedua orang itu pulang menggunakan taksi.


“Aku pikir acaramu akan banyak mengundang orang.” Sandra akhirnya melayangkan protesnya.

__ADS_1


Farzan mengatupkan bibir sambil terus fokus menghadap jalanan. Sedangkan Sandra langsung melirik karena Farzan tak lekas membalas.


“Aku tidak memiliki banyak teman, bahkan teman mungkin malah tidak punya, kecuali rekan bisnis,” ujar Farzan.


Sandra mengerutkan dahi, lantas menatap Farzan yang menyetir. “Kenapa?”


“Karena Grisel,” jawab Farzan.


Dahi Sandra semakin muncul kerutan halus karena bingung.


“Grisel mudah cemburu, sering sekali curiga, membuatku akhirnya memilih tidak bergaul dengan siapapun dan sering bersikap dingin hanya untuk menghindar. Aku mencoba menjaga hatinya, tapi dia terus membuat hatiku hancur.” Farzan tersenyum miris jika ingat akan hal itu.


Sandra terdiam, ternyata sebegitu cintanya Farzan sampai rela melakukan segala hal untuk menyenangkan hati yang dicinta, tapi sayangnya istrinya itu begitu bodoh karena telah melukai dan melepas pria sebaik Farzan. Kira-kira begitulah pikiran Sandra sekarang.


“Tapi itu masa lalu, setidaknya sekarang aku memiliki teman yaitu kamu dan Chila,” ujar Farzan dan langsung mendapat balasan seutas senyum dari Sandra.

__ADS_1


“Jika bisa, aku ingin lebih,” gumamnya kemudian.


__ADS_2