Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Menarik simpati


__ADS_3

Herman kini tinggal di pesisir pantai yang jauh dari kota. Gara-gara berurusan dengan Grisel dan setuju untuk mencelakai Sandra, kini hidupnya tak tenang sebab diburu oleh anak buah Gilang.


“Sial! Wanita itu menjurumuskanku ke masalah, lalu bilang tak mau ikut campur, enak saja!”


Herman menyeringai, kemudian ingat kejadian malam tadi. Dia sengaja mendatangi rumah Sandra kemudian melempar batu berisi pesan jika harus berhati-hati terhadap Grisel. Dia melakukan itu agar Sandra dan Farzan tahu kalau dalang semua yang kejadian yang terjadi adalah Grisel.


“Dia mau lepas tangan? Jangan harap!”


Herman menyeringai, kemudian memilih mengisap rokok yang dipegangnya.


**


Grisel berada di toilet karena mendadak perutnya sedikit sakit. Hingga mendengar suara langkah kaki dan dua orang berbincang.


“Kamu sudah dengar kejadian tadi di ruang pemotretan?” tanya salah satu staf perusahaan.


“Memang ada apa?” tanya balik staf satunya.


Grisel menajamkan pendengaran, mencoba menelinga apa yang dibicarakan dua wanita di luar sana.


“Kamu tahu model baru yang direkrut Pak Darren, ‘kan?”


Staf satunya mengangguk-angguk mendengar ucapan temannya.


“Katanya dia tadi tuh sengaja numpahin kopi panas ke tangan Nona Viona, tega sekali, ‘kan.”


“Eh … seriusan? Berani sekali dia!” Staf satunya terlihat geram mendengar kabar itu.

__ADS_1


“Seriuslah, yang cerita aja kru pemotretan, mereka melihat sendiri tangan Nona Viona sampai merah,” kata staf itu sambil memoleskan bedak di wajah.


Grisel mengepalkan telapak tangan mendengar percakapan dua staf itu. Dia yang awalnya sudah siap untuk keluar, akhirnya memilih untuk mengurungkan niat keluar dan mendengarkan percakapan dua staf itu.


“Nona Viona itu terlalu baik, masa kata kru pemotretan, beliau langsung memaafkan begitu saja. Sepertinya model itu yang tidak tahu diri karena sengaja melukai Nona Viona,” ujar staf itu melebih-lebihkan hal yang terjadi.


“Benar sekali katamu, model itu tak tahu diri saja, untung tidak didepak dari perusahaan,” timpal staf lainnya.


Telinga Grisel semakin panas mendengar ucapan yang jelas-jelas menyudutkannya. Hingga dia keluar dari toilet dan membuat dua staf itu terkejut karena ada Grisel di sana.


“Aku tidak pernah menumpahkan kopi ke tangannya, ingat itu!” Grisel geram hingga berkata demikian, kemudian memilih meninggalkan dua staf tadi.


Dua staf tadi langsung sewot, tentu saja tidak akan percaya dengan pembelaan Grisel.


“Dih … kalau salah pasti gitu, membela diri dan ga sadar diri,” cibir salah satu staf.


**


“Agh!” Grisel memekik karena pantat menghantam lantai.


Orang yang ditabraknya juga terjatuh, hingga membuat beberapa orang yang berlalu lalang langsung menghampiri.


“Nona baik-baik saja?”


Grisel terkejut saat mendengar ada yang memanggil Nona, hingga menoleh dan melihat siapa yang ditabraknya.


“Aku tidak apa-apa.” Viona tersenyum meski baru saja ditabrak dan jatuh ke lantai.

__ADS_1


Grisel memandang Viona yang dibantu banyak orang, sedangkan dirinya tak ada satu pun yang mendekat.


Viona berterima kasih ke semua orang yang membantu, hingga tatapan tertuju ke Grisel yang masih berada di lantai.


“Oh, astaga. Kenapa tidak ada yang membantumu?” Viona membantu Grisel berdiri dan aksi wanita itu tentu dilihat banyak orang.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Viona dengan suara lemah lembut. Tangan masih memegang lengan Grisel.


“Tidak apa-apa, terima kasih dan maaf sudah menabrak Anda,” ucap Grisel sedikit menurunkan pandangan, sebab banyak orang yang menatapnya aneh.


“Jangan meminta maaf, tadi aku tidak memperhatikan jalan hingga bertabrakan denganmu,” balas Viona.


Semua orang melihat bagaimana baiknya Viona, tapi juga betapa cerobohnya Grisel. Dalam sehari Grisel sudah dicap buruk karena dua kali melakukan kecerobohan.


Claudia yang melihat Grisel dikerumuni banyak orang pun mendekat, hingga kemudian bertanya dan dijelaskan oleh Grisel.


“Kamu beneran tidak apa-apa? Kalau tidak, aku pergi duluan,” kata Viona.


Grisel mengangguk, kemudian sekali lagi meminta maaf. Viona pun pergi karena mobilnya sudah menunggu di lobi, satu sudut bibir tertarik ke atas, dirinya berhasil membuat Grisel kembali disalahkan.


Viona bukannya tidak melihat Grisel yang berjalan, memang sengaja memotong jalan Grisel hingga selingkuhan suaminya itu menabraknya. Tentu saja Viona memanfaatkan kesempatan untuk menarik simpati karyawan di sana, dengan begini mereka akan menilai dirinya baik dan Grisel buruk.


“Wanita bodoh!” Viona tertawa dalam hati.


Di sisi lain. Grisel semakin merasa aneh karena semua kejadian sialnya selalu berhubungan dengan Viona. Ditatapnya istri sang Darren itu dengan perasaan bercokol penuh curiga di dada.


“Apa dia tahu sesuatu?”

__ADS_1


__ADS_2