Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Grisel berulah


__ADS_3

Sandra sedang memiliki banyak pekerjaan, belum lagi dia sedang bertemu dengan perwakilan bagian produksi yang ingin mengambil desain darinya, serta ada rapat yang harus dihadiri. Sandra melihat ada notifikasi pesan masuk, dia pun langsung melihat dan ada nama Farzan di sana.


“Kebetulan sekali,” gumam Sandra.


Sandra pun memilih membuka pesan dari Farzan, kemudian membaca isi chat itu.


[Pekerjaanku sangat banyak, aku tidak bisa menjemput Chila. Apa kamu mau bantu jaga dia sebentar, sampai pekerjaanku selesai?]


Sandra meletakkan ponsel setelah mengirimkan pesan kepada Farzan, kemudian kembali fokus ke desain yang akan diserahkan ke bagian produksi. Dia sesekali melirik ponsel di meja, berharap Farzan cepat membalas pesannya. Tidak butuh waktu yang lama, pesan baru dari Farzan pun masuk dan Sandra langsung mengambil ponselnya lagi untuk membaca.


[Baiklah, kamu tenang saja. Aku akan menjemput dan menjaganya.]


Sandra lega karena Farzan mau membantunya, dia pun mengirimkan pesan balasan jika akan menghubungi pihak guru agar Farzan tidak dipersulit saat akan menjemput Chila.


“Bagaimana desainnya, Bu Sandra? Apa masih ada yang kurang? Kalau tidak, apakah sudah bisa kami bawa?” tanya tim produksi yang bertemu Sandra.


Sandra mengulas senyum, kemudian menutup stopmap berisi desain yang dibuat oleh tim divisinya.


“Sudah tidak ada yang kurang, terima kasih mau menunggu,” ucap Sandra sambil menyerahkan desain itu.


“Sama-sama.” Tim produksi mengambil desain itu. “Kalau begitu kami permisi.”


Tim produksi pun berpamitan kemudian pergi. Sandra bisa bernapas lega karena akhirnya satu pekerjaan selesai, tapi pekerjaan lainnya tentu saja masih antri di belakang.


Sandra menengok ke arloji, sebentar lagi Chila pulang tapi dirinya belum bisa keluar dari ruangannya. Untung saja ada Farzan yang sudah siap menjemput Chila, dengan begini dirinya tidak perlu bingung menghubungi Gilang untuk meminta bantuan menjemput putrinya. Terkadang Sandra sendiri merasa sungkan dengan Gilang, pasalnya pria itu terlalu baik, membuat beberapa orang sampai salah paham akan hubungan mereka yang terlalu dekat. Namun, setelah Gilang rujuk dengan sang istri, Sandra pun mencoba membuat batasan hubungan dan kedekatan karena tidak ingin ada yang berpikiran buruk terhadap Gilang.


**

__ADS_1


Farzan sudah berdiri di depan gedung sekolah Chila, setelah sebelumnya menghubungi Sandra. Belum lagi wanita itu memang berkata jika akan datang terlambat karena banyak pekerjaan juga ada rapat dadakan.


Bel sekolah berdering, anak-anak dengan kebutuhan khusus di sana mulai keluar didampingi oleh guru dan pendamping mereka di sekolah.


“Anda mau menjemput Chila?” tanya guru Chila saat melihat Farzan, sikap guru itu tentu saja berbeda dari sebelumnya karena sudah tahu siapa Farzan.


“Ya, ibunya memintaku menjemputnya,” jawab Farzan dengan senyum ramah di wajah.


Wanita itu tersenyum sebelum kemudian menengok ke dalam gedung. “Ya, Bu Sandra tadi sudah meninggalkan pesan jika Anda akan menjemput. Sepertinya Chila sedang absen, Anda tunggu sebentar,” ujar guru itu ramah.


Farzan mengangguk dengan seutas senyum, kemudian menunggu sampai Chila keluar.


Tak menunggu waktu yang lama, gadis kecil itu berjalan seraya memegangi kedua tali tas ransel yang tersemat di pundak. Chila tersenyum lebar melihat Farzan di sana, lantas memperlebar langkah untuk bisa segera menghampiri pria itu.


Farzan melambaikan tangan saat melihat Chila. Ia langsung berjongkok ketika Chila sudah sampai di hadapannya.


Chila hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Farzan, menyampaikan jika harinya sangat baik.


“Mamamu ada sedikit urusan, jadi kamu ikut dengan Paman,” kata Farzan, tersenyum hangat pada gadis kecil itu, lantas merapikan helaian rambut Chila yang sedikit mencuat dari ikatannya.


Chila mengangguk, tentu saja mau ikut dengan Farzan. Farzan pun berdiri, kemudian mengambil tas dari punggung Chila sebelum kemudian menggandeng tangan gadis kecil itu, mengajak menuju mobil.


“Kita makan siang dulu, nanti biar mamamu menjemput di restoran. Bagaimana?” tanya Farzan saat keduanya melangkah menuju mobil.


Chila lagi-lagi hanya menganggukkan kepala, ke mana pun Farzan mengajakanya, dia akan dengan senang hati ikut.


Mereka pun berkendara di jalanan, Farzan mengajak Chila makan di tempat biasa gadis kecil itu makan dengan Sandra. Keduanya kini sudah duduk di meja yang berada di depan kafe, karena Sandra berkata jika Chila lebih suka di tempat terbuka daripada di dalam.

__ADS_1


“Apa makanan ini cukup? Kamu menginginkan yang lain?” tanya Farzan saat pesanan mereka sudah disajikan.


Chila menggelengkan kepala tanda tak menginginkan yang lain. Ia lantas mengambil alat makan dan bersiap menyantap makan siangnya.


Farzan pun ikut menyantap makan siangnya, keduanya makan siang bersama selagi menunggu Sandra karena memang sudah membuat janji di sana.


**


Grisel baru saja keluar dari perusahaan. Dirinya pergi sendiri karena Claudia pulang lebih dulu sebab ada urusan.


“Jalan, Pak!” perintah Grisel saat sudah masuk ke mobil.


“Langsung pulang, Nyonya?” tanya sang sopir.


“Ya,” jawab Grisel sedikit malas.


Mobil itu pun melaju meninggalkan perusahaan. Grisel duduk agak merapat di pintu, bersedekap dada dengan satu kaki menyilang dan tatapan tertuju pada apa yang dilewati mobilnya. Hingga saat mobilnya melewati kawasan tempat Farzan mengajak makan Chila, wanita itu melihat dan sangat terkejut mendapati pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu bersama bocah perempuan.


“Heh … sedang apa dia? Menggaet anak-anak?” Grisel langsung menyimpulkan hal negatif tentang Farzan.


“Pak, menepi sebentar!” perintah Grisel pada sopir pribadinya.


Mobil yang membawanya menepi. Grisel pun turun dari mobil dan berjalan ke arah Farzan dan Chila duduk. Wanita itu masih saja terlihat begitu angkuh dan sombong meski pernah tersandung kasus pencemaran nama baik. Jika bukan karena Darren, mungkin kini Grisel hanya akan menjadi pengangguran yang akan dihina banyak orang.


“Wah … apa seleramu sekarang berubah? Apa kamu bercerai denganku agar bisa menjebak anak-anak?” Pertanyaan pedas dan menghina langsung terlontar dari bibir Grisel, ketika wanita itu sampai di depan meja Farzan.


Farzan sangat terkejut mendengar suara Grisel, langsung mendongak dan menatap wanita itu yang sudah bersedekap dengan tatapan menghina. Chila pun terkejut, gadis kecil itu langsung menatap Grisel dan terlihat takut melihat wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2