
“Apa maksud pertanyaanmu, memangnya Mama melakukan apa?” Anisa terlihat kesal karena Farzan menuduhnya berbuat jahat.
“Kenapa Mama bisa bersamanya? Mama pasti tahu siapa dia,” kata Farzan sambil menunjuk ke kafe di mana Chila kini berada.
Chila sendiri memang tidak mau tahu jika memang sudah diminta untuk pergi. Gadis itu kini duduk dengan santai sambil memakan makan siangnya.
Anisa menoleh Chila, hingga kemudian menebak siapa gadis kecil yang menolongnya, hingga membuat Farzan menuduhnya.
“Jadi dia anak janda itu?” Anisa terlihat tak senang, terlebih karena Farzan telah salah paham kepadanya.
“Namanya Sandra, Ma. Meski dia janda, tidak ada bedanya dengan status dudaku.” Farzan mempertegas ucapan agar Anisa tak terus mengucapkan kalimat buruk tentang Sandra.
Anisa menggenggam erat tali tote bag, dengan tatapan terus tertuju ke putranya yang tampak membenci dirinya sekarang.
“Wanita itu benar-benar membawa pengaruh buruk kepadamu. Membangkang, menentang, sekarang kamu bahkan tega menuduh mamamu sendiri. Dia ….” Anisa menjeda ucapannya dan menunjuk ke Chila berada. “Datang membantu Mama yang kerepotan, bahkan Mama tidak tahu siapa dia, lalu kamu menuduh Mama berkata macam-macam dengannya. Sungguh kamu memang sudah berubah, Zan. Mama kecewa!”
Tatapan wanita itu penuh kekecewaan tertuju ke putra satu-satunya itu. Semua itu sebenarnya tak lepas dari kesalahan Anisa yang membuat Farzan akhirnya tidak percaya dengan wanita itu.
“Sudah kubilang, semua perubahanku karena sikap Mama yang tak setuju dengan pilihanku. Andai Mama lebih mengerti, aku tidak akan seperti ini.” Farzan menjelaskan lagi agar Anisa tak terus salah paham dengan Sandra.
__ADS_1
Anisa terlihat geram, melirik Chila kemudian memandang Farzan.
“Terserah!” Wanita itu melangkah untuk meninggalkan Farzan, hingga langkahnya terhenti karena ucapan sang putra saat dia hendak melewati.
“Aku akan menikahinya tanpa atau dengan persetujuan Mama, dia sudah setuju dan aku akan mengatur pernikahan kami sesegera mungkin.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Farzan membalikkan badan kemudian menyusul Chila yang sedang makan dengan tenang.
Anisa begitu terkejut dengan mulut menganga, bagaimana bisa Farzan berkata demikian.
“Di-dia benar-benar tidak menganggapku ibunya lagi?”
Anisa merasa hatinya hancur, putra yang dibanggakan dan menjadi harapan terakhirnya, kini tak membutuhkan restunya. Dia menoleh dan melihat Farzan yang sudah duduk bersama Chila, melihat sang putra yang tersenyum hangat ke gadis kecil yang baru saja masuk ke hidup sang putra.
“Apa kamu mau lagi?” tanya Farzan saat melihat Chila yang makan dengan lahap.
Chila menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Chila sudah kenyang.”
“Tadi Chila kenapa tiba-tiba pergi?” tanya Farzan.
__ADS_1
Chila menoleh keluar dan melihat Anisa yang sudah pergi, kemudian kembali memandang Farzan.
“Chila kasihan lihat nenek itu kesusahan, seperti Mama Liana kalau kesusahan bawa banyak barang,” jawab Chila yang tentunya jujur.
Farzan terkejut dengan jawaban Chila, sedikit merasa bersalah karena telah menuduh ibunya tanpa bukti. Dia hanya takut jika Anisa mempengaruhi Chila dengan ucapan buruk, terlebih Chila mudah reaktif dengan ucapan atau tindakan buruk yang ditujukan kepadanya.
“Oh … begitu.”
“Om Farzan kenal?” tanya Chila dengan tatapan tertuju ke Farzan, tapi tangan masih memutar-mutar sendok di atas piring.
Farzan mengangguk-angguk, kemudian menjawab, “Ya, dia mamanya Om.”
Chila tak terlihat terkejut akan sesuatu yang baginya tak penting. Gadis itu meraih gelas berisi jus dan menyedot dengan cepat.
Farzan memandang Chila yang terlihat santai, kemudian berniat mengutarakan kembali niatnya untuk bicara tentang pernikahannya dengan Sandra.
“Chila, Om Farzan ingin bicara. Om harap Chila mendengarkan sampai selesai sebelum menjawab,” kata Farzan memberi instruksi terlebih dahulu.
Chila mengangguk-angguk setelah selesai minum, kemudian fokus mendengarkan apa yang akan diucapkan Farzan.
__ADS_1
“Chila, jika Om Farzan menikah dengan Mama, agar Om bisa bersama Mama dan Chila, kita bertiga bersama. Apa Chila mengizinkan?” Farzan bicara dengan sangat hati-hati, jangan sampai ada ucapannya yang menyinggung perasaan Chila.
Chila terdiam mendengar ucapan Farzan, tatapan dan ekspresi wajahnya tidak bisa didefinisikan.