
Sandra menatap seorang gadis berpakaian cleaning service perusahan, tengah menatap bengis ke Grisel. Tampaknya gadis itu juga tak menyukai Grisel, hingga tiba-tiba datang menampar model sombong itu.
“Siapa kamu? Berani-beraninya ikut campur!” bentak Grisel yang semakin emosi. Dia memegangi pipi yang terasa panas karena tamparan.
“Siapa aku nggak penting, dasar model gila tukang fitnah!” balas gadis itu tak kalah sengit.
Sandra kembali terkejut mendengar ucapan gadis itu, terlebih dia berani membentak Grisel.
Grisel meradang, tangannya terangkat dan kini siap melayangkan tamparan ke cleaning service yang berani menampar dirinya. Namun, siapa sangka jika gadis itu melawan dengan cara meraih rambut Grisel dan menjambaknya begitu kuat.
“Dasar sialan!” umpat Grisel berusaha melepas rambut dari tangan gadis itu.
Sandra terkejut dengan mulut menganga, tak menyangka jika gadis berseragam cleaning service itu berani melawan Grisel.
“Sialan apanya? Kamu yang sialan karena suka memfitnah orang sembarangan! Aku sudah sangat lama ingin melakukan ini, jadi takkan menyiakan kesempatan yang ada!” Gadis itu semakin menarik dengan kencang, sebelum kemudian melepas dengan kasar.
Sandra semakin bertanya-tanya, apakah mungkin gadis cleaning service itu memiliki dendam pribadi kepada Grisel. Hingga gadis itu memandang ke arahnya.
“Dasar cleaning service sialan! Berani-beraninya kamu melawanku!” bentak Grisel sambil memegangi kepala karena kulit terasa perih akibat ditarik gadis yang lebih muda darinya itu.
Grisel ingin membalas, tapi langsung dihadang oleh Sandra. Wanita satu anak itu berdiri tepat di hadapan gadis itu untuk melindungi.
“Jangan membuat gara-gara di sini! Aku akan memanggil security untuk mengusirmu jika kamu masih ingin membuat masalah! Kamu tidak ada urusan di sini, jadi silakan pergi saja!” Sandra bicara dengan tegas, menunjuk ke arah gerbang utama dengan tatapan terus tertuju pada Grisel.
Grisel begitu geram karena merasa dua wanita di hadapannya itu bersekongkol melawannya.
“Lihat! Lihat saja nanti! Aku takkan membiarkanmu dekat dengan Farzan, takkan aku biarkan satu wanita pun mendekatinya!” ancam Grisel seraya menunjuk wajah Sandra.
Sandra hanya tersenyum miring mendengar ancaman Grisel, baginya wanita itu sangat kekanak-kanakan dan hanya bisa menggertak saja.
“Coba saja! Tapi jangan kecewa jika gagal!” Tantang Sandra kemudian. Meski dirinya hanya menganggap Farzan teman, tapi mendengar ancaman Grisel malah membuatnya semakin bersemangat untuk mengenal dan dekat dengan pria itu.
__ADS_1
Grisel mengepalkan telapak tangan di depan wajah Sandra, sebelum kemudian melirik gadis yang ada di belakang Sandra.
“Awas saja! Lihat nanti!” ancam Grisel kemudian sebelum pergi.
Grisel pergi dengan perasaan begitu kesal, kulit kepalanya sangat sakit karena dijambak begitu kencang.
Sandra menatap Grisel pergi dan memastikan wanita itu benar-benar menghilang dari pandangan, sebelum kemudian menoleh dan menatap gadis yang ada di belakangnya.
“Terima kasih karena tadi sudah membantuku,” ucap Sandra dengan senyum kecil di wajah.
Gadis itu terlihat terkejut mendengar ucapan terima kasih dari Sandra, terlebih wanita itu sangat ramah. Gadis itu menjelaskan jika memang tak menyukai Grisel sebab telah memfitnah sepupunya, hingga Sandra tahu jika cleaning service itu adalah sepupu Joya yang bernama Sasa.
“Kalau ada apa-apa, kamu bisa minta tolong kepadaku,” kata Sandra kemudian. “Aku bekerja di lantai empat, misal mau mencari tinggal sebut namaku.”
“Iya, terima kasih,” ucap Sasa. “Em … tapi saya belum tahu nama Anda,” kata Sasa kemudian.
Sandra tertawa, merasa lucu karena belum memperkenalkan diri.
“Saya Khaerunisa, tapi biasa dipanggil Sasa,” balas Sasa sambil menjabat tangan Sandra.
Sandra tersenyum melihat gadis polos tapi penuh semangat seperti Sasa. “Ingat, jangan sungkan jika memang butuh bantuan,” ucap Sandra lagi dan langsung mendapat jawaban sebuah anggukan dari Sasa.
**
Grisel kembali ke mobil sambil menggerutu, rambutnya rontok dan akan botak karena ulah Sasa. Dia memukul stir begitu keras, meluapkan kekesalan karena dilawan dua wanita.
“Sialan! Dia berani melawanku! Aku akan membuat perhitungan denganya lagi, lihat saja!” geram Grisel.
**
Sore itu Farzan menjemput Sandra kemudian mengantar ke rumah sekalian memberikan sesuatu ke Chila. Saat di sana Sandra mengatakan jika Farzan jangan terlalu baik kepadanya, karena takutnya ada yang salah paham. Hingga Farzan merasa aneh dan bertanya apakah ada yang terjadi.
__ADS_1
Sandra pun akhirnya jujur, lantas berkata jika Grisel mendatanginya dan mengancam agar tidak dekat dengan Farzan. Tentu saja hal ini membuat Farzan begitu geram, hanya tak habis pikir karena Grisel benar-benar mencampuri urusan hidupnya yang sudah dianggap selesai dengan wanita itu.
Namun, Farzan bersyukur karena Sandra begitu terbuka dan tetap membiarkannya dekat dengan wanita itu, meski Sandra mendapatkan ancaman.
“Maaf, karena sudah membuatmu tak nyaman,” ucap Farzan menjadi tak enak hati pada Sandra sebab didatangi dan diancam Grisel.
Sandra tersenyum kecil mendengar permintaan maaf Farzan, kemudian membalas, “Kamu juga jangan salah paham dan mengira jika aku mengadu, aku hanya perlu menyampaikan agar kamu tahu saja. Siapa tahu juga kamu ingin sedikit menjaga jarak dengan kami, agar kamu juga merasa nyaman.”
“Tidak!” tolak Farzan.
Sandra terkejut mendengar Farzan mengatakan tidak.
“Aku takkan menjauh dari kalian, selama kamu juga tidak melarangku untuk dekat. Aku sudah merasa nyaman dengan kalian, aku senang berada di dekat kalian.”
“Nyaman?” Sandra cukup terkejut dengan ucapan Farzan. “Kamu terlalu berlebihan,” balas Sandra kemudian dengan senyum kecil di wajah. Dia lantas mengambil cangkir dan kembali menyesap kopi.
“Bukan berlebihan, aku serius mengatakannya. Selama ini aku menutup diri dari banyak orang karena tahu bagaimana sifat Grisel, tapi sejak bertemu denganmu dan Chila, sejak itu pula aku merasa tenang juga bebas,” ungkap Farzan yang tentu saja tak main-main dengan apa yang dikatakan.
Sandra hampir tersedak mendengar perkataan Farzan, tapi sebisa mungkin mencoba menutupi rasa terkejutnya.
“Aku senang jika kamu merasa begitu,” balas Sandra.
Farzan tersenyum kecil, memandang ke arah Chila lantas beralih pada Sandra.
“Masalah Grisel, aku harap tidak membuatmu menjauhiku atau melarang Chila dekat denganku,” pinta Farzan kemudian.
Sandra menoleh Chila, sebelum kemudian menatap Farzan.
“Aku tidak akan melakukannya, bagiku urusanmu dengan wanita itu bukanlah urusanku. Lagi pula aku juga menganggap kamu teman, begitu juga Chila, jadi semua itu tidak akan mengubah pemikiranku tentangmu,” balas Sandra.
“Tapi sayangnya aku ingin menganggapmu lebih dari sekedar teman,” gumam Farzan dalam hati, tentu saja tidak berani berkata langsung pada Sandra.
__ADS_1