Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Kesempatan


__ADS_3

Grisel baru saja selesai melakukan pemotretan. Dia berada di mobil dan kini sedang menatap ponsel.


“Dia benar-benar tidak menghubungiku.”


Grisel tiba-tiba merasa hampa tanpa Darren, dia benar-benar sudah kecanduan bercinta dengan pria yang bukan suaminya itu.


Dia mendengkus kasar, meletakkan ponsel ke tas karena merasa jika Darren takkan menghubungi. Hingga tatapannya tertuju ke trotoar, melihat seseorang berjalan di sana.


“Ck … beruntung sekali melihatnya di sana,” gumam Grisel.


Grisel meminta sopirnya untuk menepi, lantas keluar dan berjalan ke kedai es krim. Ternyata Grisel melihat Chila yang sedang berjalan bersama Liana, semakin beruntung ketika gadis itu ditinggalkan Liana sendirian di depan toko es krim.


“Hei, bocil! Tak kusangka bertemu denganmu di sini!”


Chila langsung berdiri melihat Grisel, hendak berlari menyusul Liana tapi lengannya ditahan Grisel.


“Mau ke mana kamu setan kecil!” Grisel yang sedang dalam kondisi buruk, semakin ingin meluapkan kekesalan ketika melihat Chila.


Chila mencoba melepas lengan dari Grisel, tapi tenaganya tak cukup untuk melawan wanita itu.


“Mamamu itu perebut suami orang, aku sangat kesal karena kalian hadir dalam hidup suamiku. Sekarang kamu harus mendapatkan balasan!”


Entah setan mana yang merasuki Grisel, hingga masih mendendam bahkan kepada gadis kecil yang tak tahu apa-apa.

__ADS_1


Grisel menarik lengan Chila, hendak membawa gadis kecil itu ikut ke mobilnya.


“Tidak mau!” Chila memberontak saat Grisel terus menarik lengannya. “Mama Liana!” teriak Chila memanggil.


“Diam kamu!” bentak Grisel.


Liana yang sedang memesan es krim begitu terkejut mendengar teriakan Chila, lantas menoleh dan betapa syoknya dia ketika melihat Grisel yang sedang menarik tangan gadis kecil itu.


“Hei! Lepaskan!” Liana begitu panik, hingga berlari keluar untuk mengejar.


Grisel melihat Liana yang mengejar, tapi masih saja berusaha membawa Chila dan tak tahu apa yang akan dilakukannya.


Liana mencoba mengejar sambil berteriak, Chila sendiri terus berusaha melepas lengan dari Grisel. Hingga ada seseorang yang menarik tangan Chila sampai terlepas dari genggaman Grisel, kemudian mendaratkan sebuah tamparan di pipi selingkuhan Darren itu.


“Bisa-bisanya kamu kasar kepada anak kecil!” hardik Viona yang melihat kejadian itu.


Sudah beberapa hari ini Viona ingin sekali menampar atau menjambak rambut Grisel, kini dirinya memiliki alasan untuk melakukannya karena menolong Chila.


Liana bersyukur ada yang menolong Chila, hingga meraih gadis itu dan langsung memeluk erat. Chila terlihat ketakutan, bahkan langsung memeluk pinggang Liana dan menyembunyikan wajahnya.


“Chila takut,” lirih gadis kecil itu dengan bibir bergetar.


Grisel memegangi pipi yang panas karena tamparan Viona, sangat terkejut karena wanita itu datang dan langsung memberikan bekas merah di pipi.

__ADS_1


“Kenapa Anda menampar saya?” tanya Grisel sambil menahan amarah, tak bisa langsung meluapkan kekesalan karena siapa yang dihadapinya sekarang.


“Karena kamu pantas mendapatkannya? Bagaimana bisa kamu bersikap kasar dengan anak kecil.” Viona sedikit menurunkan nada bicara, tak ingin jika Grisel curiga kalau dirinya sudah mengetahui tentang status Grisel sebenarnya.


“Saya ada urusan dengan anak itu,” ucap Grisel sambil menatap Viona, merasa aneh karena istri Darren itu menamparnya begitu kuat seolah sedang meluapkan sesuatu.


“Urusan apa, hah? Kamu hendak berniat buruk kepadanya karena tahu siapa dia!” geram Liana masih dengan memeluk Chila.


Viona melirik Liana yang berdiri di sampingnya, kemudian menatap wajah Grisel yang sudah merah padam menahan amarah dan juga sakit.


“Pergilah dan jangan buat masalah, ingat kamu ini publik figur,” ucap Viona. Dia tadi puas bisa menampar Grisel, sekarang meminta Grisel pergi agar Viona sendiri tak terpancing emosi dan meluapkan kekesalan ke Grisel.


Viona hanya merasa jika belum waktunya membalas perbuatan Grisel.


Grisel menatap Viona dengan rasa kesal bercokol di dada, lantas melirik tajam ke Chila yang menyembunyikan wajah dalam pelukan Liana. Dia pun akhirnya memilih pergi meninggalkan tempat itu.


Viona mengatur napas agar emosinya stabil, kemudian mengulas senyum dan menoleh ke Liana.


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Viona ramah.


“Dia sedikit syok,” jawab Liana sambil mengusap rambut Chila. “Terima kasih karena Anda membantu Chila,” ucap Liana kemudian.


“Sama-sama, saya hanya tidak suka jika ada yang kasar ke anak-anak,” timpal Viona.

__ADS_1


“Namun, saya sebenarnya merasa penasaran, kenapa dia sampai berbuat kasar ke gadis kecil ini. Apa Anda mau menceritakannya?”


__ADS_2