
Farzan berada di ruang kerjanya seperti biasa. Sedikit sibuk karena pekerjaan yang lumayan banyak, belum lagi pengembangan proyek pembangunan milik sebuah kampus swasta yang dipegang oleh perusahaannya.
“Kamu sibuk?” Harun yang siang itu menyempatkan datang ke kantor Farzan, langsung masuk setelah mengetuk pintu.
“Tidak terlalu, Pa.” Farzan tersenyum tipis melihat kedatangan ayahnya.
Farzan langsung mempersilakan ayahnya itu duduk.
“Ada apa Papa kemari? Kenapa tidak minta aku datang saja ke kantor Papa?” tanya Farzan.
“Tidak apa, Papa tadi sekalian ada rapat di luar,” jawab Harun.
Harun menatap Farzan yang tampak tak bersemangat seperti biasa, bahkan cara bicara dengannya pun sedikit berbeda.
“Bagaimana proyek yang sedang kita tangani?” tanya Harun.
“Semua lancar, aku sedang mengecek beberapa laporan dari penanggung jawab proyek yang berada di lokasi,” jawab Farzan.
Harun mengangguk-angguk, kemudian memperhatikan telapak tangan Farzan.
“Apa belum kering sampai harus diperban terus?” tanya Harun, merasa curiga karena jika hanya luka gores, kenapa ditutup begitu rapat.
“Oh … takut basah saja,” jawab Farzan seadanya. Dia tidak terlalu respect dengan setiap ucapan sang ayah, mungkin karena masih kesal dengan pembahasan semalam.
__ADS_1
Harun menghela napas kasar, tahu jika putranya pasti masih kecewa dengan pembahasan malam tadi.
“Kamu masih kesal karena pembahasan semalam?” tanya Harun menyelidik.
“Tidak, untuk apa marah?” Farzan tak mengaku meski sebenarnya masih kesal.
“Mamamu mungkin hanya masih merasa kecewa karena Grisel, sehingga dia tidak bisa menerima keputusanmu sekarang ini. Bersabarlah, karena kamu tahu jika mamamu bukanlah wanita jahat,” ujar Harun mencoba memberi pengertian ke Farzan agar tidak membenci Anisa.
Farzan memandang Harun saat pria itu bicara, hingga sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya.
“Papa bisa bicara seperti itu seolah menerima segala keputusanku. Apa Papa setuju jika aku menjalin hubungan dengan wanita yang aku sukai saat ini?” tanya Farzan dengan tatapan penuh harap sang ayah paham akan perasaannya saat ini.
**
Wanita paruh baya itu duduk sambil sesekali menengok ke pintu kafe, berharap orang yang ditunggunya segera tiba.
“Val!” Anisa melambaikan tangan saat melihat seorang wanita berpenampilan anggun dengan rambut panjang yang tergerai indah.
Wanita itu mengenakan heels berukuran lima belas senti, tubuhnya tinggi semampai dengan pinggul yang indah bak lekukan biola.
“Bibi, maaf aku terlambat,” ucap wanita bernama Valeria. Wanita yang ingin dijodohkan dengan Farzan.
“Tidak apa-apa, Bibi juga baru saja tiba,” balas Anisa dengan senyum mengembang di bibir.
__ADS_1
Anisa pun mempersilakan Valeria duduk, keduanya kemudian berbincang tentang kegiatan yang sedang dilakukan.
“Bagaimana konsermu?” tanya Anisa.
“Sangat bersyukur semuanya lancar, minggu depan aku akan ke Italia lagi untuk ikut bermain di salah satu teater musik di sana,” jawab Valeria setengah menyombongkan diri karena bisa keliling dunia karena bakatnya.
“Kamu memang berbakat sekali, sampai bisa tampil di luar negeri.” Anisa tak henti-hentinya memuji Valeria.
“Val, kamu masih menyukai Farzan, ‘kan?” tanya Anisa setelah mereka diam sesaat.
“Kenapa Bibi tanya seperti itu?” Valeria terlihat malu-malu mendengar pertanyaan Anisa.
Anisa memegang telapak tangan Valeria yang ada di atas meja, menepuk lembut punggung tangan wanita yang ingin dijadikannya menantu, serta mengulas senyum hangat ke Valeria.
“Mamamu pasti sudah memberitahu maksud Bibi menemuimu, ‘kan?” tanya Anisa.
“Iya,” jawab Valeria, “tapi apa benar Bibi ingin aku menikah dengan Farzan? Bibi tahu jika Farzan tak menyukaiku,” imbuhnya.
Anisa mengulas senyum, kemudian kembali berkata, “Dia dulu tidak peduli denganmu karena sudah bersama Grisel. Sekarang dia ‘kan sudah bercerai, apalagi terbukti jika Grisel itu tidak baik. Jika kamu masih menyukai Farzan, Bibi ingin sekali kamu menjadi menantu Bibi. Apa kamu mau menikah dengan Farzan meski dia seorang duda?”
Valeria sedikit menunduk karena malu, senyum tipis terlihat di paras cantiknya.
“Jika Bibi merestui, tentu saja aku mau.”
__ADS_1