
Farzan dan Sandra berada di mobil yang terparkir di depan rumah Sandra. Keduanya sejak tadi berdiam seolah sedang menikmati kelegaan hati masing-masing.
“Apa tadi kamu bertemu mamamu?” tanya Sandra, setelah diam beberapa saat akhirnya memilih membuka suara.
Farzan menoleh dengan kepala yang bersandar di jok, lantas menggeleng untuk menjawab pertanyaan Sandra.
“Sepertinya Mama masih marah. Meski Papa berkata jika Mama pusing, tapi aku yakin jika Papa hanya berbohong demi menjaga perasaan kita,” ucap Farzan.
Sandra mengangguk-angguk, memang tidak akan mudah membuat seseorang yang terlanjur membenci, menjadi suka.
“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, yang terpenting kita mendapatkan restu dari Papa,” ucap Farzan sambil mengusap rambut Sandra.
Sandra mengangguk dengan seulas senyum, meski Anisa belum merestui tapi dia lega karena Harun menerimanya bahkan mempercayakan Farzan kepadanya.
Farzan pun mengajak Sandra untuk turun, saat baru saja akan membuka pintu, tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh di atas atap mobil sedan milik Farzan.
“Apa itu?” Sandra sangat terkejut karena kerasnya suara yang timbul.
Farzan pun tak tahu apa yang menimpa mobilnya, hingga kemudian meminta Sandra untuk menunggu dulu di dalam, sedangkan dia akan mengecek keluar.
__ADS_1
“Hati-hati.” Sandra takut jika ada orang jahat mengincar mereka.
Farzan keluar dengan hati-hati, hingga mengamati sekitar dan tak ada seorangpun di sekitaran sana. Dia pun keluar dan memandang atap mobilnya, hingga melihat sebuah benda terbungkus kertas putih yang diikat dengan karet.
Sandra melihat Farzan berdiri dengan tenang, artinya di luar aman dan tak masalah jika keluar. Sandra pun keluar dan melihat sang kekasih memegang sesuatu di tangan.
“Apa itu?” tanya Sandra penasaran.
“Aku tidak tahu,” jawab Farzan.
Sandra berjalan menghampiri Farzan, sedangkan pria itu melepas tali karet yang mengikat, lantas membuka kertas itu yang ternyata isi di dalamnya adalah batu.
“Batu?” Farzan mengerutkan alis.
Tatapan Farzan tertuju ke kertas pembungkus batu, ternyata ada tulisan di dalamnya.
‘Hati-hati dengan mantan istrimu, dia ingin mencelakai kekasihmu itu.’
Farzan dan Sandra saling tatap setelah membaca pesan itu, hingga Farzan berlari ke jalanan, menengok ke kanan dan kiri untuk melihat apakah orang yang melempar batu masih di sana.
__ADS_1
“Apa maksudnya itu?” Sandra terlihat bingung, mungkinkah isi surat itu ditujukan untuknya.
Farzan menatap Sandra yang masih berdiri di samping mobil, hingga kemudian menghampiri dan buru-buru mengajak masuk kekasihnya itu.
“Apa dia mengincarku? Atau orang suruhan Grisel?” Sandra bertanya-tanya, bahkan tak sadar jika sudah ditarik masuk Farzan ke rumah.
Farzan menutup pintu, lantas menatap Sandra yang masih berdiri seraya bertanya-tanya.
“Hei, bisa saja ini kerjaan orang iseng. Atau mungkin seseorang yang memang tak menyukai Grisel. Namun, meski begitu kamu harus percaya kepadaku. Walau ada yang mengancammu. Aku akan selalu melindungimu,” ucap Farzan sambil memegang kedua lengan Sandra.
Sandra memandang Farzan dan melihat kecemasan di tatapan pria itu. Sama halnya dengan Farzan, Sandra pun tiba-tiba merasa takut jika isi surat itu benar adanya. Dia sampai bergeming, seolah pikirannya penuh dengan pertanyaan siapa yang mengirimkan surat itu, serta haruskan dirinya mempercayai isi surat itu.
Farzan membawa tubuh Sandra ke dalam dekapan, lantas mengusap rambut kekasihnya itu secara konstan.
“Siapapun yang mengirim surat ini, pasti hanya ingin kamu gelisah dan cemas,” ucap Farzan mencoba menenangkan perasaan Sandra. “Aku ada di sini untuk melindungimu, jadi kamu jangan pernah takut.”
Sandra mengangguk-angguk mendengar ucapan Farzan, merasa tenang dalam dekapan hangat pria itu.
“Jika memang itu benar, apakah itu berarti yang mengincarku dua orang?”
__ADS_1
Pertanyaan itu lolos dari bibir Sandra, menandakan jika wanita itu kini sedang dalam ketakutan yang luar biasa. Sandra sebelumnya tak pernah takut dalam menghadapi masalah apa pun, tapi entah kenapa kini dirinya seperti pengecut yang ingin bersembunyi dari musuh-musuh yang mengincarnya.
“Dua atau tiga orang yang mengincarmu, aku akan tetap di sisimu untuk terus menjagamu.”