Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Sebatas selingkuhan


__ADS_3

Sandra baru saja melepas penyangga dibantu Farzan. Lengannya sudah mulai membaik hingga tak masalah jika tak mengenakan penyangga.


“Bagaimana? Jika masih sakit, lebih baik dipakai saja,” kata Farzan.


“Ini sudah mendingan,” jawab Sandra. Dia menggerakkan lengannya perlahan untuk mengecek apakah masih terasa sakit.


Farzan memperhatikan yang dilakukan Sandra, berjaga jika wanita itu merasa kesakitan.


“Jika tidak segera dilepas, nanti aku tidak bisa ketemu Chila,” ucap Sandra sambil menghentikan pergerakan tangan. Dia merasa lengannya sudah baik-baik saja.


“Kamu besok mau menemuinya?” tanya Farzan.


Sandra hendak membuka mulut untuk menjawab, hingga ponselnya berdering dan nama Gilang terpampang di sana.


“Siapa?” tanya Farzan.


“Pak Gilang,” jawab Sandra sambil memperhatikan nama Gilang di layar ponsel. “Aku jawab sebentar,” kata Sandra kemudian.


Tanpa meninggalkan tempatnya duduk, Sandra langsung menjawab panggilan itu di hadapan Farzan. Bukankah keduanya sudah memutuskan untuk bersama, jadi tidak ada lagi yang akan mereka tutup-tutupi satu sama lain.


“Halo, Pak.” Sandra langsung menyapa saat menjawab panggilan dari Gilang.


“Bagaimana lenganmu?” tanya Gilang dari seberang panggilan.


“Sudah lebih baik,” jawab Sandra.


“Besok bisa datang ke rumah atau ketemu? Kalau perlu dengan Farzan sekalian,” kata Gilang dari seberang panggilan.

__ADS_1


Sandra langsung memandang Farzan saat mendengar ucapan Gilang, hingga kemudian mengangguk dan berkata akan datang.


Panggilan itu pun berakhir, Sandra kemudian memandang Farzan dengan sedikit gelisah.


“Ada apa?” tanya Farzan yang penasaran.


“Pak Gilang minta bertemu denganku juga kamu,” jawab Sandra sambil menggenggam erat ponsel. “Apa menurutmu beliau ingin membahas tentang hubungan kita? Mungkinkah Chila sudah menceritakan kepada beliau?” tanya Sandra jadi cemas dan gugup jika harus bicara dengan Gilang tentang keberlangsungan hubungannya dan Farzan.


“Mungkin saja,” jawab Farzan, “tapi bukankah ini sudah menjadi resiko. Cepat atau lambat kita juga harus mengatakan dan meminta izin darinya, bukankah kita juga sudah memutuskan untuk menikah dan bukan hanya bualan semata?”


Sandra mengangguk-angguk, sejak setuju untuk menerima pinangan Farzan, seharusnya dia sudah siap mental jika Gilang bertanya. Gilang sudah seperti keluarga untuknya, bukankah sudah sepatutnya Sandra memberitahu pria itu tentang rencana pernikahannya dengan Farzan.


“Besok kita ke sana dan bicara baik-baik, aku yakin Pak Gilang pasti paham,” kata Farzan.


Sandra hanya mengangguk-angguk, mencoba menyiapkan hati menghadapi Gilang.


Di sebuah rumah mewah dengan segala fasilitas yang tersedia. Seorang wanita berpenampilan sangat anggun dengan barang bermerk yang melekat di tubuh, terlihat berjalan memasuki rumah dan disambut oleh beberapa pelayan.


“Anda mau disiapkan apa, Nyonya?” tanya pelayan sambil mengambil tas yang dipegang wanita itu.


“Buatkan aku teh hijau,” jawab wanita itu.


“Baik Nyonya.” Pelayan itu pamit meletakkan tas milik wanita itu ke kamar sebelum kemudian membuatkan minuman yang diinginkan sang majikan.


“Di mana Tuan?” tanya wanita itu. Duduk dengan anggun kemudian menyilangkan satu kaki.


“Belum pulang, Nyonya.” Pelayan rumah menjawab sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


Wanita itu menggerakkan telapak tangan untuk memberi isyarat agar pelayan pergi. Dia memandang ponsel kemudian mencari nomor sang suami dan mendialnya.


“Halo sayang, di mana kamu? Aku sudah pulang, bahkan tak bisa melihatmu di rumah,” ucap wanita itu saat panggilannya dijawab oleh sang suami.


Di sisi lain. Darren begitu terkejut ketika mendapati panggilan dari Viona—sang istri yang dikira masih berada di Paris.


“Kamu sudah pulang? Kenapa tidak menghubungiku terlebih dulu? Aku bisa menjemputmu di bandara,” kata Darren.


Dia bergegas turun dari ranjang, meminta Grisel untuk diam karena sang istri yang sedang menghubungi. Semua kenikmatan yang akan diraih bersama selingkuhannya itu harus ditahan karena tak bisa mengabaikan panggilan dari sang istri.


Grisel terlihat kesal karena kesenangannya terhenti karena panggilan itu. Dia memilih menarik selimut dan menutup tubuh polosnya hingga sebatas dada.


“Aku ingin membuat kejutan, tapi sayangnya yang ingin aku kejutkan tidak di rumah. Atau mungkin suami tercintaku sebenarnya ingin memberiku sebuah kejutan?” Suara Viona terdengar seperti sedang menyindir, tapi juga seperti sebuah keinginan.


“Kamu ingin kejutan apa? Aku akan segera pulang. Ini baru selesai menemui klien,” kata Darren agar istrinya tidak curiga.


“Bagaimana kalau makan malam romantis? Aku membawa sebotol anggur berkualitas sangat bagus. Cepatlah pulang, aku menunggumu.”


Darren tersenyum dan berkata akan segera pulang sebelum kemudian mengakhiri panggilan.


“Aku harus segera pulang karena Viona sudah kembali. Kamu tak perlu ke sini jika tak aku hubungi,” kata Darren sambil memakai pakaiannya untuk bisa segera pergi.


Grisel tidak membalas ucapan Darren, ternyata menjadi selingkuhan juga ada sisi tak mengenakan, di mana dirinya harus merelakan saat pria yang mampu membuatnya berfantasi liar pergi dengan cara tergesa-gesa.


Darren langsung pergi begitu sudah berpakaian rapi, bahkan tak berpamitan lagi atau sekadar mencium kening Grisel.


Grisel tertawa sendiri ketika Darren pergi, apa sebenarnya yang diharapkan sedangkan tahu jika dia hanyalah seorang selingkuhan.

__ADS_1


“Dasar kamu bodoh.”


__ADS_2