Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Tahan


__ADS_3

Bak pengawal yang bekerja secara profesional. Farzan mengecek seluruh kamar Sandra, serta memastikan jendela tertutup rapat.


Sandra yang baru saja membuat dua cangkir kopi sampai keheranan dengan yang dilakukan kekasihnya itu. Sandra berdiri di ambang pintu kamar seraya memegang dua cangkir kopi, menatap Farzan yang sedang memastikan jendela terkunci dengan benar.


“Bagaimana Tuan Bodyguard? Apa semua sudah tertutup rapat?” Sandra melontarkan candaan karena merasa lucu dengan sikap pria itu.


Farzan menoleh, melihat Sandra yang berdiri memandang dirinya.


“Sudah terkunci semua, juga tidak ada yang mencurigakan di kamar ini,” ujar Farzan sambil mendekat ke Sandra.


Sandra menyodorkan salah satu cangkir berisi kopi ke Farzan, sedangkan tatapan masih terus tertuju ke pria itu. Dia menyadari jika Farzan ternyata lebih mencemaskannya daripada dirinya sendiri, membuat Sandra merasa spesial atas perlakuan pria yang berumur di bawahnya itu.


“Kamu terlalu mencemaskanku,” ucap Sandra sambil memandang Farzan yang sedang menyesap kopi buatannya.


Farzan melirik Sandra karena sedang minum, hingga terdengar suara kecapan bibir sebelum sepasang mata itu menatap wajah wanita yang begitu dipuja.


“Karena aku mencintaimu,” balas Farzan.


Tentu saja balasan Farzan membuat kedua pipi Sandra merona, hingga berdeham sambil memalingkan wajah. Dia menyesap kopi miliknya, mengalihkan tatapan agar kedua pipi tak semakin terasa panas.


“Apa kamu mau melihat foto Chila saat kecil?” tanya Sandra untuk memecah rasa canggung dan kikuk.


Farzan mengangguk-angguk tanda setuju.


Sandra meletakkan cangkir di nakas begitu juga dengan Farzan. Saat Sandra sibuk membuka laci di meja kecil samping ranjang, Farzan hanya memperhatikan sambil duduk di sebelah Sandra.


Sandra mengeluarkan dua album berukuran sedang dari laci paling bawah. Kemudian memangku keduanya di atas paha dengan senyum merekah.


“Ini foto saat dia berusia satu minggu.” Sandra membuka halaman pertama, memperlihatkan Chila yang saat itu masih begitu kecil.


Farzan menyentuh foto itu, membuat Sandra memindah album itu ke pangkuan Farzan.


“Saat lahir, dia menangis begitu kencang. Suaranya mampu membuatku menangis karena haru, tidak pernah menyangka jika Tuhan akan memberikan malaikat kecil secantik dia,” ucap Sandra sambil terus memperhatikan foto Chila.


Farzan tersenyum melihat betapa lucu dan gemuknya Chila saat masih bayi. Dia membuka album itu lembar demi lembar, memperhatikan dengan seksama agar tahu setiap moment yang dilalui Sandra dan Chila.


“Pak Gilang sudah menemani kalian sejak Chila masih bayi,” kata Farzan sambil menoleh Sandra. Dia berkata seperti itu karena banyaknya foto Gilang menggendong atau memangku Chila.


“Ya, sebab itu banyak yang mengira aku selingkuhannya,” jawab Sandra dengan sedikit nada candaan.

__ADS_1


“Kamu tidak keberatan mendapat julukan pelakor?” tanya Farzan penasaran dengan perasaan Sandra jika dituduh dengan hal yang tak dilakukan.


“Tidak,” jawab Sandra dengan tegas. “Selama aku tidak melakukannya, maka aku tidak takut, malu, atau marah akan tuduhan yang tak pernah aku lakukan.”


Farzan merasa kagum karena Sandra mampu mengontrol emosi dengan baik, menahan semua tuduhan karena merasa tak melakukan.


“Pak Gilang sudah menjadi ayah pengganti bagi Chila, meskipun kami tidak memiliki hubungan. Chila mendapatkan kebahagiaan dari Pak Gilang, tahu seperti apa sosok ayah darinya, meski ayah yang diharapkan tak sesempurna yang didamba,” ujar Sandra dengan senyum getir di wajah, saat mengingat dirinya harus kehilangan dan mendapatkan kebahagiaan bersamaan.


“Setelah ini, Chila akan mendapatkan sosok ayah seutuhnya. Aku akan memprioritaskan dirinya,” balas Farzan memberikan sebuah janji, yang mungkin akan ditagih Sandra kelak.


Farzan kembali membuka lembaran album, hingga gerakan tangan terhenti saat melihat foto Sandra yang sedang hamil besar bersama seorang pria.


“Dia mendiang suamimu?” tanya Farzan.


Sandra lupa jika foto itu ada di sana, merasa tak enak karena Farzan harus melihatnya.


“Ya,” jawab Sandra terpaksa.


Farzan terus memandang foto itu, ternyata fokusnya bukan ke mendiang suami Sandra, melainkan ke wanita itu.


“Jika kita sudah menikah nanti, apa kamu mau mengandung benihku? Aku tahu kamu sangat menyayangi Chila, tapi aku pastikan dia takkan kekurangan kasih sayang dariku, meski kita memiliki anak sendiri.” Farzan bicara dengan cepat karena takut dipotong oleh Sandra.


“Zan, sebelum membahas itu, mungkin aku perlu menjelaskan sesuatu,” ucap Sandra merasa sedikit bersalah.


Farzan memandang Sandra, lantas menutup album yang ada di pangkuannya.


“Aku mendengarkan.”


Sandra menarik napas panjang, kemudian mengembuskan perlahan.


“Kamu tahu aku sekarang berumur berapa. Tiga puluh delapan tahun bukanlah umur muda lagi, serta kondisi rahim pun mungkin takkan sesubur wanita berusia di bawah tiga puluh lima. Aku tidak ingin kamu kecewa, jadi lebih baik menyampaikan hal ini sekarang. Meski bisa, tapi kemungkinan itu kecil.” Sandra bercerita panjang lebar untuk menjelaskan kondisi rahim di usia memasuki kepala empat.


“Maka aku akan berusaha,” ucap Farzan dengan senyum di wajah.


Sandra cukup terkejut mendengar ucapan Farzan, kedua pipi merona karena malu saat tahu maksud ucapan dari Farzan.


“Aku hanya bilang ingin, bukan berarti keharusan. Andai Tuhan memberi, maka aku akan sangat bersyukur. Jika tidak, maka kita setidaknya sudah berusaha. Bukankah begitu?” Farzan kembali bicara, menatap Sandra yang terlihat tak enak hati.


“Aku hanya tak ingin kelak kamu kecewa, bukankah kamu selama ini sangat menginginkan memiliki anak?” tanya Sandra. Dia hanya tak ingin di kemudian hari ada pertengkaran atau perdebatan karena keturunan.

__ADS_1


“Aku memang ingin, tapi jika memang tidak diberi, setidaknya aku sudah memiliki Chila,” jawab Farzan, lantas meraih telapak tangan Sandra.


Sandra tak bisa berkata-kata mendengarkan ucapan Farzan, entah kenapa pikirannya langsung kosong saat pria itu mengucapkan kalimat yang membuat hatinya terasa berbunga.


Satu tangan Farzan masih menggenggam telapak tangan Sandra, sedangkan tangan satunya mengusap lembut rambut kekasihnya itu.


“Yang terpenting bagiku, kita nantinya berusaha bersama. Jika alasan kamu tidak hamil karena Tuhan tak memberi, itu tak jadi masalah bagiku, asal alasannya bukan karena kamu menolak hamil,” ucap Farzan dengan suara lembut.


“Aku takkan mungkin menolak.”


Farzan menatap lekat wajah Sandra, hingga sepasang bola mata saling bertemu sama lain, memanggil dan menarik hati untuk saling mendekat.


Farzan mendekatkan wajah, lantas menyentuhkan permukaan bibir mereka. Sandra memejamkan mata, merasakan kecupan dan sentuhan bibir mereka.


Hingga tanpa disadari keduanya terlena dalam tautan bibir yang menuntun ke kubangan cinta.


“Zan.” Sandra menahan dada pria itu yang kini sudah berada di atasnya. Memberikan jarak agar mereka tak terlalu dekat.


Farzan tersadar dari apa yang hendak dilakukan, hingga menatap Sandra yang ada di bawah kungkungannya, hingga buru-buru bangun dan kembali duduk di tepian ranjang.


“Maaf,” ucap Farzan kikuk dan salah tingkah.


Sandra ikut bangun, hingga mengangguk tanda tak mempermasalahkan karena belum terjadi sesuatu di antara mereka selain ciuman panas.


Farzan berdiri, seperti orang kebingungan menunjuk ke kanan dan kiri.


“Aku akan kembali ke kamar, kamu tidurlah agar besok bisa bekerja,” ucap Farzan sekenanya.


Sandra kembali mengangguk tanpa suara, hingga Farzan keluar dari kamar dan menutup pintu.


Sandra melongok ke pintu yang tertutup, hingga kemudian menutup wajah dengan kedua telapak tangan lantas merebahkan tubuh ke belakang.


Hampir saja, bagaimana bisa dirinya terlena dan hampir melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan sebelum mereka sah menikah.


“Tahan Sandra, kontrol dirimu.”


**


Di sisi lain. Farzan langsung masuk kamar yang ditempatinya selama berada di rumah Sandra. Berdiri di belakang pintu yang tertutup, kemudian mengguyar kasar rambut ke belakang.

__ADS_1


“Tahan, Zan. Apa kamu ini benar-benar rindu buaian sampai lupa status kalian. Sebentar lagi, ya hanya sebentar lagi. Jangan buat Sandra kecewa terhadapmu.”


__ADS_2