
Farzan memesankan makanan untuk Sandra setelah kekasihnya itu bangun. Bahkan dengan penuh perhatian menyajikan makanan ke piring sebelum memberikan ke Sandra.
“Bagaimana kondisimu?” tanya Farzan saat menemani Sandra makan.
“Sudah tidak terlalu pusing seperti tadi,” jawab Sandra mengulas senyum.
Sandra mengambil sendok dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih menggunakan penyangga. Dia berusaha makan menggunakan tangan kiri tapi tampaknya sedikit kesusahan.
Farzan melihat Sandra yang tidak bisa makan menggunakan tangan kiri, hingga kemudian memilih mengambil sendok yang dipegang Sandra.
Sandra sedikit terkejut dengan yang dilakukan Farzan, hingga menatap kekasihnya itu dengan perasaan heran.
“Biar aku suapi,” kata Farzan sambil menarik piring dari hadapan Sandra.
Sandra melipat bibir, menatap Farzan yang begitu perhatian kepadanya.
Farzan dengan telaten menyuapi Sandra, bagaimanapun dirinya akan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya ke wanita itu. Dia belum menanyakan perihal kemungkinan Anisa mendatangi Sandra, saat ini ingin memastikan Sandra mendapatkan asupan gizi dan meminum obatnya secara teratur.
“Ini obatnya.” Farzan memberikan obat ke Sandra setelah selesai menyuapi.
Sandra hanya menurut saja, membiarkan pria itu memberi perhatian dan meladeni dirinya.
Farzan memandang Sandra yang sedang minum obat. Terkadang dirinya tak habis pikir kenapa ibunya tak menyukai Sandra, sedangkan tidak tahu bagaimana sebenarnya wanita itu.
“San, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Farzan setelah Sandra selesai minum obat.
Sandra memandang Farzan, kemudian mengangguk-anggukan kepala.
__ADS_1
“Apa mamaku menemuimu?” tanya Farzan sambil menatap Sandra.
Sandra sangat terkejut dan gelagapan saat mendengar pertanyaan Farzan. Bingung harus menjawab apa.
“San, aku mohon, jangan sembunyikan apa pun dariku, bahkan jika itu menyangkut tentang keluargaku,” pinta Farzan memohon.
Sandra benar-benar bingung apakah harus jujur, serta bertanya-tanya dari mana Farzan tahu jika Anisa menemuinya.
“Kamu tahu dari mana?” Pertanyaan Sandra cukup mewakili jawaban dari pertanyaan Farzan.
“Jadi itu benar?” Farzan melempar pertanyaan balik. “Apa saja yang dikatakan Mama kepadamu?”
Sandra menghela napas kasar, kemudian menundukkan kepala sekilas sebelum kemudian kembali menatap Farzan.
“Bukan apa-apa, tidak terlalu penting juga,” jawab Sandra yang tak mau jujur.
“San, aku mohon jujurlah,” pinta Farzan sekali lagi.
“Bi Sum berkata kalau Mama menghinamu. Apakah Mama juga sebelumnya menemuimu dan menghinamu juga?” tanya Farzan, setengah memaksa agar Sandra jujur.
Sandra melipat bibir sambil memandang Farzan, kemudian terdengar helaan napas halus dari bibir.
“Apa pun yang dikatakan mamamu, aku tidak pernah menaruhnya dalam hati. Aku harap kamu tidak marah ke mamamu,” ucap Sandra yang tak menceritakan secara gamblang apa yang terjadi.
“Tapi tetap saja, aku tidak setuju dengan cara Mama yang datang dan memperingatkanmu. Aku tahu dia ingin kamu menjauhiku. Katakan kepadaku, apakah karena itu kamu meminta untuk pulang ke rumah? Bahkan berkata untuk setuju menerima pilihan orangtuaku?” tanya Farzan saat ingat semua ucapan dan keinginan Sandra untuk tinggal di rumah sendiri meski berbahaya.
Sandra menunduk, sungguh tidak bisa menutupi karena ternyata Farzan sudah tahu semuanya.
__ADS_1
“Aku hanya tidak ingin membuatmu membenci mamamu. Bagaimanapun aku datang terakhir dalam kehidupanmu, tidak selayaknya aku membuat hubunganmu dan keluargamu menjadi renggang. Jangan jadikan aku buruk dengan merusak hubungan keluarga kalian,” ujar Sandra, mengangkat wajah dan memandang Farzan.
Farzan tak menyangka jika Sandra akan berpikiran jauh dengan memikirkan banyak pihak dan bukan diri sendiri. Inilah salah satu alasan dia begitu mencintai wanita berstatus janda itu.
Farzan mengulurkan kedua tangan, menangkup wajah Sandra dan menatap kedua bola mata kekasihnya itu begitu lembut.
“Meski Mama berkata untuk menjauhiku, tapi kamu percaya kepadaku ‘kan jika aku tidak akan pernah meninggalkanmu?” tanya Farzan. Dia takut jika tiba-tiba Sandra berpaling karena ucapan Anisa.
Sandra mengulas senyum, kemudian menganggukkan kepala pelan untuk menjawab pertanyaan Farzan.
Farzan sedikit lega mengetahui jika Sandra percaya kepadanya. Hingga dia mengecup kening wanita itu penuh kasih sayang, menunjukkan jika cinta dan kasih sayangnya hanya untuk wanita itu.
**
Di sudut kota Paris. Seorang wanita terlihat sedang memegang ponsel yang menempel di telinga dan bicara dengan seseorang melalui panggilan telepon.
“Apa kamu yakin?” tanya wanita itu.
“Saya yakin Nyonya. Anda bisa lihat data yang saya kirimkan lewat surel. Saya melakukan tugas yang Anda berikan, Anda tidak perlu meragukan informasi yang saya dapatkan,” jawab seorang pria dari seberang panggilan.
Wanita itu menggenggam erat ponsel, lantas memberikan perintah ke pria yang bicara dengannya lewat sambungan telepon.
“Tetap awasi dan segera kabari aku jika ada info terbaru!”
Wanita itu mengakhiri panggilan, kemudian menggenggam ponsel begitu erat. Dia meraih gelas yang ada di meja, kemudian membanting hingga membentur di lantai dan hancur berkeping-keping.
“Sialan!” teriak wanita itu begitu keras.
__ADS_1