Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Mana status yang lebih terhormat


__ADS_3

Grisel melempar ponsel ke meja setelah mendapatkan kabar jika pria bernama Herman itu gagal melukai Sandra dan malah melukai Farzan. Dia begitu geram karena pria itu malah salah sasaran.


“Apa dia itu tidak bisa bekerja dengan benar?” Grisel menggerutu.


Di saat bersamaan, Darren baru saja keluar dari kamar mandi. Melihat Grisel yang duduk di ranjang memasang wajah kesal.


“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Darren tidak senang.


Grisel langsung mengubah ekspresi wajah saat melihat Darren, memberikan senyum manisnya ke pria yang sudah membuatnya hidup nyaman serta mendapatkan pekerjaannya lagi.


“Tidak ada, hanya sedikit memikirkan masalah pemotretan siang nanti,” jawab Grisel sambil berdiri dan mendekat ke Darren.


Grisel menyentuh tepian bathrobe yang dikenakan Darren, memandang wajah pria itu yang meski berumur lebih tua darinya tapi tampak terlihat tampan dan memukau.


“Kapan istrimu pulang?” tanya Grisel. Dia sekadar merayu agar Darren tak menanyakan kenapa dirinya tadi kesal.


“Ada apa? Apa kamu bosan tinggal denganku?” tanya balik Darren curiga.


Grisel tersenyum mendengar pertanyaan Darren, menyentuh dada dan meraba lembut dengan tatapan tak teralihkan dari wajah pria itu.


“Bagaimana bisa aku bosan? Aku menikmati setiap kebersamaan kita, hanya saja takut jika tiba-tiba istrimu yang suka jalan-jalan itu pulang,” jawab Grisel.


Darren melingkarkan kedua lengan di pinggang Grisel, membuat wanita itu merapat ke tubuhnya.


“Mau melakukannya sebelum aku ke kantor?” tanya Darren menggoda.


“Tentu, jika kamu tidak lelah,” jawab Grisel, bahkan dengan nakal tangan meraih tali bathrobe pria itu dan menarik hingga terlepas. “Aku milikmu.”


Darren menyambar bibir Grisel, melumatt habis sebelum kemudian menjatuhkan wanita itu ke ranjang dan berada di bawah kungkungannya untuk kembali melakukan penyatuan demi memuaskan nafsu satu sama lain.


**

__ADS_1


Farzan pergi ke perusahaan setelah sebelumnya mengantar Sandra hingga dirinya bertemu Harun di lobi.


“Pa,” sapa Farzan ketika melihat ayahnya itu di sana.


“Aku pikir kamu tidak ke kantor, tadi dari ruanganmu tapi kamu belum datang,” kata Harun begitu sudah berdiri di hadapan sang putra.


Hingga Harun melihat telapak tangan Farzan yang diperban, membuat pria itu terkejut.


“Tanganmu kenapa?” tanya Harun sambil memandang telapak tangan Farzan kemudian beralih menatap sang putra.


Farzan mengangkat telapak tangan, kemudian tersenyum canggung.


“Tidak sengaja terkena pecahan kaca,” jawab Farzan karena tak mungkin jujur, terlebih dirinya juga belum memberitahukan tentang hubungannya dengan Sandra.


“Lain kali hati-hati,” kata Harun setelah mendengarkan penjelasan putranya.


Farzan pun mengajak Harun ke ruangannya, karena ayahnya itu berkata jika ingin membahas masalah pekerjaan. Mereka berbincang lama tentang proyek yang akan diambil, selama ini Harun memang mempercayakan semua keputusan di tangan Farzan, apakah harus diambil atau tidak karena penilaian putranya tentang bisnis lebih akurat.


“Oh ya, mamamu ingin kamu pulang malam ini,” kata Harun kemudian.


“Kata mamamu ingin kamu pulang saja malam ini,” jawab Harun.


Farzan pun akhirnya hanya mengangguk dan berjanji jika malam nanti akan pulang.


**


Farzan pergi ke rumah orangtuanya saat malam hari. Anisa menyambut putranya itu dan mengajak makan malam bersama.


“Zan, apa kamu sudah membuat keputusan?” tanya Anisa di sela makan malam.


Farzan memandang sang ibu dengan dahi berkerut halus.

__ADS_1


“Memutuskan apa?” tanya Farzan bingung.


Harun dan Anisa saling pandang, sebelum kemudian keduanya memandang sang putra.


“Masa depanmu, apa kamu sudah berkeinginan untuk menikah lagi? Kalau sudah, Mama punya kenalan yang memiliki putri sangat cantik dan berbakat,” jawab Anis.


Farzan tak percaya jika sang ibu ingin menjodohkan dirinya, hingga memalingkan wajah sekilas sambil meletakkan alat makannya.


Anisa dan Harun terkejut melihat sikap Farzan, keduanya terus memandang putranya itu.


“Ma, aku baru saja resmi bercerai. Kenapa Mama sudah membahas tentang pernikahan?” tanya Farzan keheranan.


“Ya, wajarkan kalau Mama ingin kamu menikah lagi, kemudian memberikan Mama cucu. Mama sudah kecewa sekali, Zan. Apa kamu ingin melihat Mama hanya bisa berharap kamu memiliki anak agar bisa Mama gendong?” tanya Anisa.


Farzan menghela napas kasar, kemudian berkata, “Ma, aku pasti akan menikah. Tapi bukan dengan pilihan Mama atau karena sebuah perjodohan. Aku tidak mau gegabah dan salah pilih lagi.”


“Zan, mamamu begini karena menilai jika putri temannya itu baik untukmu,” ujar Harun membela sang istri karena dirinya pun ingin Farzan memiliki pendamping dan memberikan mereka cucu.


Mereka hanya berpikir jika sudah terlalu tua, takut jika saat ajal datang tapi keduanya belum bisa melihat putra satu-satunya itu mendapatkan momongan.


“Baik buat Mama, belum tentu baik untukku juga, Pa. Aku sudah memiliki pilihanku sendiri,” balas Farzan yang akhirnya membuka ucapan jika telah memilih.


Harun dan Anisa terkejut mendengar ucapan Farzan, keduanya saling tatap sebelum beralih memandang Farzan.


“Siapa? Apa Mama mengenalnya? Dari keluarga mana?” tanya Anisa penasaran.


Farzan mengepalkan satu telapak tangan yang ada di atas paha, memandang Harun dan Anisa bergantian, ada sedikit keraguan untuk menjawab karena takut jika mereka belum bisa menerima. Namun, Farzan pun tak ingin jika dijodohkan, mungkin jujur adalah cara terbaik agar kedua orangtuanya tidak memaksakan kehendak.


“Dia seorang desainer, janda anak satu,” jawab Farzan jujur dengan siapa dia berhubungan.


“Apa? Farzan! Apa kamu gila menjalin hubungan dengan janda?” Anisa tidak terima kalau putranya menyukai janda.

__ADS_1


“Kalau janda kenapa, Ma? Aku juga duda. Aku bercerai, sedangkan dia ditinggal mati suaminya. Mana status yang lebih terhormat?”


Anisa terhenyak dan langsung diam saat mendengar ucapan sang putra, tidak bisa membalas atau sekadar berucap.


__ADS_2