
Gilang sedang berada di ruang kerjanya, tengah mengecek beberapa dokumen perusahaan. Hingga pria itu terlihat tak bisa tenang, kemudian memilih mengambil ponsel yang ada di samping berkas.
“Halo.” Gilang bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
“Halo, Pak Gilang.” Suara seorang pria terdengar dari seberang panggilan.
“Bagaimana? Kamu sudah menemukan pria itu?” tanya Gilang.
“Saya sudah mendatangi rumah lamanya, tapi ternyata tidak tinggal di sana lagi. Saat aku tanya ke tetangganya, tidak ada yang melihatnya setelah keluar dari penjara. Jadi sampai saat ini belum tahu keberadaannya,” jawab pria kepercayaan Gilang.
“Cari terus keberadaannya, kalau bisa kerahkan orang bayaran. Aku tidak percaya dengan pihak polisi, meski sudah mendapat laporan, tapi mereka sepertinya tidak bergerak cepat,” ujar Gilang memberikan perintah.
“Siap, Pak. Saya akan mengusahakan yang terbaik,” balas pria dari seberang panggilan.
Gilang pun mengakhiri panggilan. Dia masih belum tenang jika pria yang mencelakai Sandra belum tertangkap.
**
Grisel baru saja selesai melakukan pemotretan. Wanita itu kini sedang duduk sambil bermain ponsel. Hidupnya makin terjamin karena bisa terus memuaskan Darren, tak hanya pekerjaan dan uang, tapi kartu kredit hingga rumah pun didapatkannya dari pria itu.
“Gris, boleh aku tanya sesuatu.” Claudia menatap Grisel yang sedang minum.
“Tanya saja.”
“Apa kamu menjalin hubungan dengan Pak Darren?” tanya Claudia hati-hati.
Bukan tanpa sebab Claudia bertanya demikian, itu karena manager Grisel itu pernah memergoki Darren yang sedang mencium Grisel di perusahaan itu.
Grisel langsung menatap tajam ke Claudia, kemudian bicara dengan sedikit nada kesal. “Tidak usah mencampuri urusanku di luar pekerjaan.”
__ADS_1
Claudia terkejut mendengar ucapan Grisel yang tanpa sengaja menjawab pertanyaannya. Dia tidak habis pikir dengan modelnya itu, kenapa Grisel suka sekali bermain api. Namun, dia juga bisa apa, hingga akhirnya memilih untuk diam.
Grisel pergi ke toilet, hingga kemudian menghubungi Herman—pria yang ingin mencelakai Sandra.
“Halo, bagaimana?” tanya Grisel begitu panggilan dijawab.
“Anda tenang saja, saya pasti akan melakukan sesuai keinginan Anda,” jawab Herman dari seberang panggilan.
“Kali ini jangan gagal atau salah lagi, atau aku tidak akan pernah memberimu uang lagi,” ancam Grisel karena kesal Herman sudah melukai Farzan.
“Tenang saja, kali ini akan saya pastikan tidak akan gagal lagi.”
Grisel mengakhiri panggilan, lantas memandang bayangan dari pantulan cermin.
“Lihat saja, aku takkan pernah membiarkanmu hidup tenang karena memilih dekat dengan Farzan.”
**
Namun, Liana juga tak pergi sendirian berdua dengan Chila, dia membawa salah satu pengawal rumah yang memang disiapkan Gilang untuk menjaga Chila.
“Chila mau apa?” tanya Liana saat keduanya berjalan di koridor antara rak display yang berjajar di sana.
Chila menunjuk ke stand buah, menginginkan buah segar yang ada di sana.
Liana pun mengajak Chila ke sana, meminta Chila mengambil buah yang diinginkan.
Chila memandang banyaknya buah yang terpajang, hingga tatapan tertuju ke salah satu buah yang sangat diinginkan. Ketika Liana memilih buah lain, Chila pun berjalan ke sisi lain dan mengambil buah strawberry yang tinggal satu pack, bersamaan dengan tangan lain ingin mengambilnya.
“Adik kecil, strawberynya buat aku saja, ya.”
__ADS_1
Chila menatap wanita yang bicara dengannya, kemudian menatap strawberry yang dipegang.
Liana melihat Chila yang diajak bicara oleh seorang wanita, membuat istri Gilang itu cepat-cepat mendekat.
“Ada apa ini?” tanya Liana. Menatap wanita itu dan Chila bergantian.
Chila memandang Liana, kemudian menunjukkan buah strawberry yang dipegang.
“Aku ingin minta dia memberikan strawberry itu untukku karena calon menantuku ingin strawberry.” Ternyata wanita yang mengajak bicara Chila adalah Anisa.
“Tapi putriku juga mau strawberi, jika buah ini sudah ada di genggaman putriku, artinya milik dia,” ucap Liana yang tak suka dengan cara Anisa meminta.
Lagi pula Chila lebih kecil dari calon menantu yang disebutkan Anisa, lantas kenapa orang dewasa tak mau mengalah.
“Belum dibayar juga, bagaimana bisa dibilang miliknya,” ketus Anisa yang kesal. Dia berharap bisa mendapatkan buah itu.
Liana kesal mendengar ucapan Anisa yang baginya sangat angkuh dan sombong, hingga dia menarik tangan Chila untuk mengajaknya pergi.
“Ayo sayang, bayar biar strawberinya jadi milikmu,” ajak Liana.
Namun, hal yang dilakukan Chila membuat Liana terkejut. Chila menggelengkan kepala, lantas menatap Anisa yang masih di sana.
“Kenapa?” tanya Liana.
“Chila tidak terlalu ingin, jadi strawberynya buat nenek itu saja,” jawab Chila.
Liana cukup terkejut mendengar jawaban Chila, hingga menoleh Anisa dengan wajah sewot.
Chila mengulurkan strawberry ke Anisa, kemudian berkata, “Semoga yang makan suka.”
__ADS_1
Chila pun mengajak Liana pergi, meninggalkan Anisa yang terbengong karena sikap Chila yang dianggap dewasa di umurnya sekarang.