Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Diminta ke butik


__ADS_3

Sandra menangis tersedu-sedu, setelah berhasil menenangkan Chila dan membuat putrinya tertidur, kini wanita itu yang menangis karena merasa sakit hati dibilang merebut suami orang dan hal itu didengar putrinya.


Andai Chila paham akan maksud ucapan itu, pasti putrinya akan kecewa serta beranggapan jika benar.


“Menangislah jika memang itu bisa melegakan hatimu,” kata Liana sambil mengusap punggung Sandra secara konstan.


Sandra masih menangis, bahkan sesekali mengusap air mata dan ingus menggunakan tisu.


“Aku tahu hubungan seperti apa yang aku jalani, tapi tak pernah sekalipun berpikir merebut suami orang. Bahkan aku bersama Farzan pun setelah pria itu melakukan proses perceraian, kenapa mulut wanita itu sangat tajam. Seharusnya aku robek sekalian mulutnya.” Sandra bicara di sela tangis, geram karena Grisel benar-benar sudah tak terkontrol.


“Kamu tahu dia itu gila, bahkan menuduh Joya sebagai selingkuhan padahal kenyataannya tidak. Kenapa harus dimasukkan ke dalam hati?” Liana terus mengusap punggung Sandra, mencoba menenangkan wanita itu.


Liana tahu jika Sandra sangat pandai mengontrol emosi, bahkan tidak mudah marah meski digunjingkan atau dicemooh orang lain. Mungkin kasus kali ini beda karena sudah menyangkut tentang Chila.


“Aku tak ingin memasukkan ke dalam hati, hanya kesal karena dia mengatakan itu ke Chila.” Sandra mengusap ingus yang tak bisa berhenti karena dirinya terus menangis.


Liana hanya bisa mengusap-usap punggung Sandra, merasa maklum jika seorang ibu pasti marah dan sakit hati kalau putrinya disakiti.


**


Farzan berada di ruang kerjanya seperti biasa. Hingga ponselnya berdering dan nama Anisa terpampang di sana. Seolah menerima panggilan dari seseorang yang berpengaruh begitu penting, Farzan sampai menarik napas dulu dan menghela perlahan sebelum menjawab.


“Halo, Ma.” Farzan langsung menyapa begitu ponsel menempel di telinga.

__ADS_1


“Mama sedang berada di butik langganan Mama, kamu datanglah kemari bersama wanita itu. Mama ingin kalian memilih gaun dan tuxedo untuk pernikahan nanti.” Anisa bicara dengan cepat dan nada memerintah saat bicara dengan Farzan.


“Kenapa mendadak, Ma? Sandra pasti masih sibuk bekerja,” kata Farzan sambil memijat kening.


“Mendadak apanya? Kalian berkata ingin menikah, berarti sudah siap jika diminta ini itu untuk mendukung acara pernikahan kalian. Mama tidak mau mendengar alasan, sekarang Mama tunggu di sini secepatnya.


Panggilan itu berakhir, Farzan menghela napas kasar sambil memandang ke panggilan yang baru saja berakhir. Anisa memang tak bisa ditentang, tapi setidaknya perintah itu untuk dirinya dan Sandra juga, akhirnya Farzan pun mencoba menghubungi Sandra.


Dua kali memanggil, tapi Sandra belum juga menjawab panggilannya.


“Dia di mana?” Farzan merasa aneh karena Sandra tak menjawab panggilannya.


Dia pun memilih mengirimkan pesan, berpikir jika mungkin saja Sandra sedang rapat jadi tidak mau menerima panggilan.


Lama Farzan menanti balasan dari Sandra, hingga akhirnya ada pesan masuk dari kekasihnya itu.


[Ada, aku sekarang sedang berada di rumah Bu Liana untuk melihat Chila.]


Farzan tersenyum melihat balasan dari Chila, kemudian kembali mengirimkan pesan dan berkata jika akan menyusul ke sana.


Di sisi lain. Sandra mencoba berhenti menangis saat melihat panggilan dari Farzan, tak berani menjawab karena pasti ketahuan kalau sedang menangis.


“Tidak kamu angkat?” tanya Liana yang melihat Sandra hanya memandangi ponsel.

__ADS_1


“Aku tak mau dia tahu kalau aku sedang menangis,” jawab Sandra.


Setelah panggilan itu berakhir, pesan chat masuk dan Sandra membaca sebelum kemudian membalas.


Dia menghela napas kasar, menghapus sisa air mata di wajah dan mencoba untuk berhenti menangis.


“Ada apa?” tanya Liana sambil memperhatikan wajah Sandra yang merah.


“Farzan mau ke sini karena ingin mengajak ke butik. Tolong jangan beritahu soal aku menangis,” pinta Sandra menjawab pertanyaan Liana.


Liana mengangguk-angguk, Sandra pun izin ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan sedikit memoleskan bedak agar bisa sedikit menutupi wajah merah dan mata yang sedikit bengkak karena menangis.


Tak lama kemudian, mobil Farzan terlihat memasuki halaman rumah Gilang. Dia langsung turun dan berjalan ke rumah untuk menemui Sandra.


“Dia masih di kamar mandi, tunggulah sebentar,” kata Liana saat melihat Farzan datang.


“Iya, terima kasih,” ucap Farzan. Dia lantas duduk di sofa ruang tamu menunggu Sandra.


Sandra keluar menemui Farzan dan mencoba bersikap biasa, langsung mengulas senyum ketika melihat pria itu.


“Maaf agak lama,” kata Sandra dengan suara sedikit serak.


Farzan langsung berdiri ketika Sandra keluar, hingga menyadari jika ada sesuatu karena suara Sandra yang serak serta wajah masih terlihat merah.

__ADS_1


“Apa kamu baru saja menangis?” Pertanyaan itu langsung terlontar dari bibir Farzan ketika melihat wajah Sandra.


__ADS_2