
Tiga bulan berlalu, kehamilan Sandra kini sudah memasuki umur dua puluh dua minggu. Anisa kini semakin perhatian ke Sandra, bahkan mulai berubah sikap dan semakin lembut saat bicara, serta menunjukkan kalau Anisa sangat menyayangi menantunya itu.
“Bu, saya mau ke kantin nyari minum dan camilan, Ibu mau nitip nggak?” tanya asisten Sandra saat masuk ke ruangan atasannya itu.
“Nitip buah saja,” kata Sandra. Dia mengeluarkan dompet untuk mengambil uang, tapi ucapan asistennya membuat Sandra berhenti merogoh lembaran uang dari dompet.
“Nggak usah, Bu. Kali-kali saya traktir Bu Sandra. Hanya buah ‘kan, Bu? Itu mah kecil,” seloroh asisten Sandra.
Sandra tertawa menanggapi candaan asistennya, hingga kemudian membiarkan asistennya mentraktir dirinya, lantas berterima kasih.
Setelah asisten Sandra keluar, ponsel yang ada di samping buku sketsa berdering berulang kali. Sandra melihat nama Farzan terpampang di sana.
Setiap beberapa jam sekali, Farzan memang menghubungi dirinya hanya untuk menanyakan apa ada keluhan, ingin makan apa, atau sekadar bertanya sedang melakukan apa. Membuat Sandra merasa spesial karena terus mendapatkan perhatian-perhatian itu.
“Halo, Zan.” Sandra langsung bicara begitu ponsel menempel di telinga.
__ADS_1
“Hei, sedang apa?” tanya Farzan dari seberang panggilan.
Sandra tersenyum, sudah menebak jika itu yang akan ditanyakan suaminya.
“Masih mendesain, sambil menunggu Rika datang membawakan buah yang aku inginkan,” jawab Sandra, sambil menggoreskan ujung pensil ke kertas sketsa.
“Kamu ingin buah? Kenapa tidak bilang, biar aku belikan?”
Sandra tertawa mendengar suara Farzan yang terdengar begitu perhatian akan hal-hal kecil yang diinginkan Sandra.
“Ya sudah, tapi jika memang menginginkan sesuatu tapi di sana tidak ada, segera hubungi aku jangan pergi membeli sendiri,” ucap Farzan pada akhirnya.
“Iya, aku pasti akan mengganggumu jika menginginkan sesuatu,” balas Sandra dengan suara tawa kecil.
“Oh ya, Mama bilang nanti malam kita diminta datang. Dia ingin kita menginap di sana karena besok weekend. Apa kamu keberatan?” tanya Farzan yang memang selalu meminta persetujuan Sandra, karena tidak ingin jika istrinya itu merasa tidak nyaman.
__ADS_1
“Baiklah, kita menginap di sana,” jawab Sandra.
Sandra sendiri sekarang sudah merasa nyaman karena perubahan sikap Anisa. Dia mulai bisa merasakan kasih sayang seorang ibu setelah Anisa begitu perhatian kepadanya. Orangtua Sandra sudah meninggal sejak dia masih remaja, sebab itu Sandra tidak memiliki siapapun kecuali Gilang setelah suaminya meninggal, sedangkan saudara dari ayah dan ibunya berada di luar pulau.
**
Sore itu Sandra dijemput Farzan, mereka langsung pergi ke rumah Anisa karena Chila sudah berada di sana.
“Ma.” Sandra meraih telapak tangan Anisa, kemudian mengecup punggung tangan wanita itu.
Hal inilah yang membuat Anisa benar-benar luluh. Bagi wanita itu, Sandra adalah sosok wanita yang sopan dan baik, membuat Anisa akhirnya bisa benar-benar menerima Sandra sebagai menantunya.
“Kamu pasti capek, sana mandi dulu.” Anisa mengusap lengan Sandra penuh perhatian, bahkan senyum tidak pudar dari wajah.
“Iya, Ma.” Sandra benar-benar semakin bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan kepadanya.
__ADS_1
Farzan sendiri begitu bahagia karena Anisa bisa menerima Sandra seutuhnya dengan semua kekurangan wanita itu.