
Anisa menyibakkan selimut yang menutupi kaki, bangun dengan cepat dan duduk sambil memandang pintu. Dia mendengkus kasar, tidak menyangka jika sang suami akan benar-benar meninggalkannya sendirian di kamar.
“Dia benar-benar akan merestui mereka? Kenapa aku merasa tak dianggap sama sekali di sini?”
Anisa menggerutu, hingga kemudian turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu untuk keluar. Anisa berjalan sedikit mengendap seperti seorang maling meski di rumah sendiri, tentunya terlalu gengsi jika sampai Harun atau Farzan mengetahui dirinya keluar dari kamar
Saat hampir sampai di ruang makan, Anisa mendengar Harun yang sedang bertanya apa pekerjaan Sandra, membuat wanita itu akhirnya berhenti melangkah dan berdiri di balik dinding yang membatasi antara ruang keluarga dengan ruang makan.
Sandra cukup terkejut mendengar pertanyaan Harun, kemudian mengulas senyum untuk menutupi rasa terkejutnya.
“Setelah almarhum suami saya meninggal, memang saya tidak pernah berpikir untuk menikah. Mungkin karena ingin fokus merawat putri saya yang sedikit memiliki kebutuhan khusus.” Sandra pun menjawab pertanyaan Harun.
“Berkebutuhan khusus?” Dahi Harun berkerut halus.
Di balik dinding, Anisa masih mendengarkan percakapan di ruang makan itu, terlebih saat Sandra hendak membahas Chila—gadis kecil yang ditemuinya dua kali.
“Ada masalah di pendengarannya, tapi itu bisa diatasi menggunakan alat bantu dengar dan beberapa terapi.” Sandra menjelaskan lagi.
Harun mengangguk-angguk paham, ternyata perjuangan Sandra sebagai janda anak satu tidaklah mudah.
Mereka melanjutkan makan, tapi sesekali diselingi dengan pertanyaan yang terlontar dari Harun.
__ADS_1
“Lalu, kenapa sekarang kamu setuju menikah dengan Farzan?” Pertanyaan itu akhirnya terlontar, mungkin jawaban Sandra akan menentukan apakah Harun akan memberi restu atau tidak.
Sandra mengulas senyum mendengar pertanyaan Harun, menoleh Farzan yang duduk di sampingnya sebelum memandang ke calon mertuanya itu.
“Karena Farzan dengan tulus menyayangi putri saya, tidak ada kebahagiaan yang saya inginkan selain melihat senyum dan tawa putri saya. Farzan tidak memandang status dan kehidupan saya seperti apa, membuat kami merasa nyaman, hingga saya berpikir untuk menerima pinangannya,” jawab Sandra penuh keyakinan.
Sekali lagi mendapatkan pujian, tentu saja membuat hati Farzan berbunga-bunga.
Harun menghela napas lega dan mengulas senyum untuk Sandra, sebelum kemudian berkata, “Jika kalian benar-benar serius ingin menikah, maka Papa akan merestui hubungan kalian.”
Tentu saja jawaban Harun membuat Farzan dan Sandra begitu lega, Farzan langsung mengucapkan terima kasih berulang kali sebagai rasa syukur karena mendapatkan restu dari sang ayah.
“Pa, aku mau lihat Mama sebentar,” kata Farzan saat sudah selesai makan.
“Oh … pergilah!” Harun memberikan izin.
Farzan pun pamit untuk pergi ke kamar Anisa, sedangkan wanita itu sendiri langsung kabur ke kamar begitu mendengar Farzan akan menemuinya.
Kini di ruang makan tinggal Harun dan Sandra yang sedang menyelesaikan makan. Hingga Harun meletakkan alat makan dan mengusap permukaan bibir menggunakan tisu, lantas memandang Sandra yang juga baru saja selesai makan.
“Kamu pasti tahu jika pernikahaan pertama Farzan tidak berjalan dengan baik,” kata Harun.
__ADS_1
Sandra mengangguk-angguk dengan senyum tipis di bibir.
“Aku harap, kelak kamu bisa menjaganya dengan baik. Jangan buat dia merasa kecewa kedua kalinya karena sebuah pernikahan. Farzan adalah pria yang bertanggung jawab, keinginannya sederhana dan aku harap kamu bisa mewujudkannya,” ucap Harun penuh harap. Kini hanya bisa memasrahkan kebahagiaan putranya ke Sandra.
“Saya akan melakukan apa yang saya bisa. Saya akan terus menjaga amanat yang Anda berikan, bukan semata-mata karena keinginan Anda, karena kami pun sudah sepakat untuk hidup bahagia,” balas Sandra dengan sikap yang sopan.
Harun cukup terkesima dengan sikap dan cara bicara Sandra. Wanita itu lebih tua dari putranya, Harun yakin Sandra bisa berpikir lebih dewasa dalam menghadapi Farzan dan rumah tangga mereka nantinya.
Di kamar Anisa, wanita itu mengunci kamar dan terlihat kebingungan sendiri. Dia tak siap jika bertemu Farzan karena mungkin akan kembali marah dan tak mampu mengontrol emosi.
Suara ketukan pintu terdengar, Anisa tak menjawab atau membuka, memilih duduk di tepian ranjang sambil memandang ke daun pintu.
“Ma, aku tahu Mama masih marah kepadaku. Tapi yakinlah jika keputusan yang aku ambil adalah semata-mata demi kebahagiaanku, Ma.” Farzan berhenti bicara, memandang daun pintu dan berharap sang mama mau membukanya.
“Malam ini aku membawa Sandra agar kalian bisa saling mengenal, tapi karena Mama sedang sakit jadi aku mencoba memakluminya. Minggu depan, keluarga Pak Gilang meminta agar Papa dan Mama datang secara langsung untuk meminang Sandra. Jika memang Mama tidak bisa datang, aku pun tidak memaksa. Aku mengatakan ini karena semata-mata masih menghargai Mama, semoga Mama tidak salah paham, serta maaf jika pernah menyakiti hati Mama.”
Farzan sudah selesai bicara, berharap sang mama mau keluar tapi keinginannya hanya angan semata. Dia pun menghela napas kasar, kemudian memilih meninggalkan kamar Anisa karena tak ingin mengganggu.
Anisa terdiam mendengarkan ucapan Farzan, hingga terkesiap saat Farzan menyebut nama Gilang.
“Pak Gilang? Bukankah pria itu ….”
__ADS_1