
Farzan berlari kemudian dengan cepat menggenggam benda silver yang mengarah ke Sandra dan ujungnya hampir menyentuh tubuh kekasihnya itu. Darah mengalir karena benda itu melukai telapak tangan Farzan, tapi tak masalah bagi pria itu asalkan sang kekasih selamat.
Sandra begitu terkejut, memandang Farzan yang ada di hadapannya, sedang menghalau pisau yang hampir melukai dirinya.
Penjahat itu hendak menarik pisau dari genggaman Farzan, hingga semakin menggores begitu dalam telapak tangan Farzan.
Namun, Farzan pun tak tinggal diam. Dia menyiku penjahat itu dengan tangan kiri tepat di hidung, membuat penjahat itu limbung ke belakang. Begitu penjahat itu melepas pisau, Farzan langsung membuang pisau itu serampangan.
“Darahnya!” Sandra sangat panik melihat banyak darah mengalir dari telapak tangan Farzan.
Farzan menoleh Sandra karena mendengar suara panik sang kekasih, hingga membuatnya lengah ke penjahat yang sedang terkapar.
Pria yang ingin mencelakai Sandra menggunakan kesempatan untuk kabur saat Farzan lengah. Dia bangun dengan cepat dan berlari ke jendela yang tadi dipecahkan oleh Farzan, lantas melompat keluar.
“Hei!” Farzan ingin mengejar tapi ditahan Sandra.
“Biarkan dia, obati lukamu dulu.” Sandra menatap miris luka di telapak tangan Farzan.
Farzan urung mengejar, lantas memandang Sandra yang tampak panik.
Setelah menyalakan listrik yang ternyata memang tadi dimatikan secara sengaja, serta menghubungi dokter yang menjadi langganan, Sandra pun mengambil air hangat di baskom untuk membersihkan luka Farzan sampai dokter datang.
“Ini tampaknya dalam.” Sandra benar-benar tak tega melihat Farzan terluka karenanya. Hal ini membuat Sandra merasa begitu bersalah, semua ini takkan terjadi jika Farzan tak menolong dirinya.
Farzan menatap Sandra yang sedang membersihkan darah dari telapak tangan, melihat bagaimana kekasihnya itu sangat mencemaskan dirinya.
“Aku tidak apa-apa, kamu jangan begitu cemas,” kata Farzan, senang karena Sandra sangat perhatian.
“Bagaimana bisa kamu bilang tidak apa-apa? Lihat lukanya!” Sandra tidak terima jika Farzan berkata baik-baik saja. Dia hampir menangis melihat tangan Farzan terluka.
Farzan pun akhirnya memilih diam, serta membiarkan Sandra sibuk membersihkan lukanya. Hingga dokter datang dan memeriksa, dirinya terpaksa mendapat beberapa jahitan karena dalamnya luka yang didapat.
“Jangan lupa nanti antibiotiknya harus habis, untuk mencegah infeksi pada luka. Serta usahakan agar lukanya tidak basah untuk sementara waktu,” kata dokter yang sudah selesai mengobati dan membalut luka Farzan.
“Tentu, terima kasih,” ucap Sandra.
Setelah dokter pergi, Sandra memandang Farzan yang sedang melihat telapak tangan.
“Apa kamu bisa menyetir dengan tangan seperti itu?” tanya Sandra cemas.
__ADS_1
“Sepertinya bisa,” jawab Farzan sambil memandangi telapak tangan kanan yang berbalut perban.
Farzan menoleh Sandra, kemudian menatap wajah cemas wanita itu.
“Aku malah mencemaskanmu,” kata Farzan kemudian.
Sandra menaikkan dua sudut alis mendengar perkataan Farzan.
“Aku kenapa?” tanya Sandra bingung.
Farzan mengulurkan tangan kiri, kemudian menyentuh leher Sandra yang sedikit merah.
Sandra terkejut dengan yang dilakukan Farzan, hingga diam saat pria itu menyentuh. Jantungnya berdebar begitu cepat, bahkan ingin menelan ludah saja terasa sulit.
“Pria itu hampir membunuhmu, bagaimana jika dia datang lagi setelah aku pergi?” tanya Farzan kemudian menarik tangan dari leher Sandra.
Sandra sedikit berdeham, kemudian mengusap tengkuk.
“Sepertinya dia takkan berani kembali datang dalam waktu dekat,” jawab Sandra agak kikuk.
Farzan tidak bisa membiarkan Sandra tinggal sendirian, atau dirinya akan cemas sepanjang waktu memikirkan jika sampai penjahat itu datang lagi.
Sandra terkejut mendengar ucapan Farzan, memandang pria itu dengan wajah kebingungan.
“Tapi tidak baik kalau kamu tinggal di sini dengan status kita di masyarakat,” ucap Sandra. Dirinya tinggal di area perumahan, bagaimana jika sampai ada yang tahu jika Farzan tinggal seatap tanpa status dengannya.
“Kalau begitu kamu tinggal di tempatku, di sana takkan ada yang memedulikan status.” Farzan membujuk karena tetap takkan bisa membiarkan Sandra tinggal sendiri.
Sandra tampak bingung dan berpikir, dirinya tak bisa mengambil keputusan dengan gegabah.
“San, aku yakin pria itu akan datang lagi. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi,” ujar Farzan meyakinkan jika pilihannya demi keselamatan Sandra.
Sandra semakin bingung harus bagaimana, semua ucapan Farzan memang benar adanya.
“Baiklah, aku akan tinggal di tempatmu untuk sementara waktu, setidaknya sampai Pak Gilang bisa melacak keberadaan pria itu.” Akhirnya Sandra membuat keputusan karena dirinya juga takut tinggal sendiri setelah kejadian yang terjadi.
**
Di rumah Gilang. Pria itu sedang membaca berkas yang ada di tangan. Kertas-kertas itu berisi data tentang Farzan, karena orang kepercayaannya belum mendapatkan informasi tentang pria yang meneror Sandra.
__ADS_1
“Dia mantan suami wanita yang memfitnah Joya dan Ken.” Dahi pria itu berkerut saat membaca informasi tentang Farzan.
“Kenapa dia mendekati Sandra dan Chila?” Gilang bertanya-tanya sendiri.
Gilang menutup berkas itu, lantas berdiri dan keluar dari ruang kerja. Pria itu kemudian berjalan ke kamar tempat Chila tinggal sekarang, melihat jika gadis kecil itu masih sibuk dengan kertas gambar dan crayon karena kamar Chila tidak ditutup.
“Boleh aku masuk?” tanya Gilang setelah mengetuk pintu.
Chila menoleh kemudian tersenyum, lantas mengangguk dan mengizinkan Gilang masuk. Selama ini Chila menganggap Gilang dan Liana sebagai orangtuanya juga, sehingga kini merasa biasa tinggal bersama keduanya.
“Kamu sedang apa? Kenapa tidak tidur?” tanya Gilang sambil mendekat ke meja tempat Chila duduk.
Chila tak langsung menjawab pertanyaan Gilang, memilih kembali memandang ke meja di mana ada gambar hasil karyanya.
“Chila belum selesai mewarnai,” kata gadis kecil itu kembali menyapukan crayon ke gambar.
Gilang memperhatikan gambar Chila, semakin hari hasil gambar gadis kecil itu semakin bagus.
“Chila, boleh Papa Gilang tanya sesuatu?” Gilang memilih duduk di tepian ranjang sambil memandang Chila.
Chila hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Gilang.
“Apa Chila mengenal Om Farzan dengan baik?” tanya Gilang hati-hati.
Chila mengangguk, kemudian menjawab, “Ya, Om Farzan sangat baik.”
Gilang mengangguk sambil masih menatap Chila yang tak memandang ke arahnya.
“Apa dia sering datang menemuimu?” tanya Gilang menyelidik karena yakin jika Sandra takkan jujur jika dirinya bertanya ke wanita itu.
“Setiap hari, Om Farzan sering antar dan jemput Chila, dia sering mengajak Chila makan es krim,” jawab Chila masih tanpa memandang Gilang karena sedang sibuk mewarnai gambarnya.
Jadi kecurigaan Gilang jika ada hubungan khusus antara Farzan dan Sandra terbukti, tak mungkin Farzan sering datang jika tak memiliki hubungan sama sekali dengan Sandra.
“Chila suka Om Farzan, dia sangat baik dan perhatian. Om Farzan sudah jadi teman Chila, bahkan janji tidak akan meninggalkan Chila seperti teman lainnya,” ujar gadis polos itu.
Gilang tersenyum tipis, kemudian berdiri dan mengusap pucuk kepala gadis itu.
“Ya, semoga Om Farzan selalu baik kepada Chila,” ucap Gilang. “Serta semoga dia tidak hanya ingin memanfaatkan Sandra,” gumamnya dalam hati.
__ADS_1